Hajah: Puasa yang Dibutuhkan Allah

Hajah: Puasa yang Dibutuhkan Allah. (Ilustrasi freepik.com)

Hajah: Puasa yang Dibutuhkan Allah ditulis oleh Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo.

PWMU.CO – Ngaji Ramadhan kali ini berangkat dari hadist riwayat Bukhari, sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْل فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ. رواه البخارى

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah   bersabda:“Barang siapa yang tidak dapat meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makanan dan minumannya”.

Hajah bermakna butuh. Dalam bahasa sehari-hari sering disebut hajat. Dalam tradisi sosial ada istilah hajatan—dalam bahasa Jawa disebut duwe gawe. Dalam candaan, hajat yang diakhiri ‘an’ berarti mengandung unsur makanan. Ada hidangan makanan dalam hajatan.

Tapi, dalam hadits di atas berlaku sebaliknya. Allah yang punya hajat meminta hamba-hamba-Nya justru meninggalkan makan dan minum di siang hari karena berpuasa.

Bukan sekadar meninggalkan makan dan minum, puasa juga menjaga anggota tubuh lainnya. Jika puasa itu sekadar dimaknai tidak makan dan tidak minum, Allah tidak berhajat dengan hal itu.

Dalam hajat Allah, puasa juga meninggalkan perkataan ataupun perbuatan yang tidak semestinya. Dengan kata lain jika kita berpuasa tetapi tetap tidak dapat mengendalikan diri ini untuk berkata dan berbuat yang baik, maka Allah tidak butuh (hajat) puasa kita.

Nafsu Tak Bisa Dihabisi, tapi Taklukkan

Itulah penekanan utama dari puasa yang dilakukan oleh seorang hamba. Yaitu adanya upaya untuk merekonstruksi diri sendiri. Memperbaiki diri dari segala sifat yang tidak semestinya.

Masing-masing diri ini yang mengaku sebagai hamba mau melakukan perlawanan terhadap nafsu diri sendiri yang selalu cenderung ke arah negatif.

Dan memang begitulah pertempuran yang sangat dahsyat ini jangan sampai melemahkan diri kita sehingga bendera kemenangan nafsu berkibar karena telah mampu menaklukan diri ini.

Justru harus sebaliknya. Diri ini dapat menaklukkan nafsu sehingga lemah tidak berdaya dan akhirnya mampu kita kendalikan dengan iman kepada Allah SWT.

Nafsu dalam diri ini tidak dapat kita habisi sedemikian rupa atau kita lenyapkan. Ia akan selalu ada dan menyertai diri kita sepanjang kita masih hidup di dunia ini. Tetapi yang terpenting adalah jangan sampai diri ini dikendalikan olehnya. Karena ketidakpuasan, keserakahan, angkara murka kerap mewarnai jiwa yang telah dikendalikan oleh nafsu.

أَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيۡهِ وَكِيلًا  ٤٣

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?(al-Furqan: 43).

Kemunafikan Itu

Di samping itu, jika nafsu telah menguasai jiwa, akibatnya adanya keengganan untuk tunduk dan taat kepada yang seharusnya ditaati. Selalu berpaling dari kebenaran dan hanya memperturutkan hawa nafsunya semata.

Jikalau melakukan perintah tidak ubahnya hanya dalam rangka menipu diri sendiri dan juga menipu kaum mukminin lainnya. Kata-katanya lembut bak seorang pujangga yang memahami kebenaran, tetapi sesungguhnya kepribadiannya tidaklah demikian.

Kadang hidup di persimpangan jalan. Beriman dalam pengertian mentaati hukum Allah secara totalitas enggan, tetapi meninggalkan beberapa perintah-perintah-Nya juga enggan.

Di sinilah sifat kemunafikan akan muncul. Di satu sisi masih suka melanggar larangan dengan kesadarannya, tetapi di sisi lain juga tidak mau meninggalkan perintah Allah SWT.

Maka pribadinya menjadi pribadi ganda. Larangan-Nya dijalankan, perintah-Nya juga dijalankan. Dan hal ini jika secara terus-menerus terjadi, maka melanggar larangan tersebut menjadi suatu yang diyakini benar.

Nafsu Korupsi dan Kongkalikong

Itulah yang terjadi di negeri ini. Praktik korupsi dengan berbagai modusnya merajalela tanpa dapat dikendalikan. Jika telah demikian, yakni sesuatu yang salah dianggapnya benar dan malah tanpa malu-malu membanggakannya, apa yang bisa harapkan demi maslahatnya masyarakat banyak?

Maka pemimpin negeri ini wajib introspeksi diri, karena semacam telah menjadi rahasai umum bahwa kebanyakan—tidak semua, tentu—kekayaan yang didapatnya tidak lagi bersih.

Bukan hanya itu permasalahannya, tetapi akibat pada kehidupan nantinya yang justru harus menjadi pertimbangan utama. Buat apa kita dapat bermegah-megahan di dunia tetapi berdampak buruk di akhirat nantinya.

Demikian pula dengan para pengusaha atau konglomerat kita. Betapa sulitnya mencari yang sebersih-bersihnya, yang banyak justru mencari yang sebanyak-banyaknya. Hal ini juga bukan rahasia lagi, kerja sama yang harmonis antara pengusaha dan para pengambil keputusan sangat baik, sehingga praktek kongkalikong menjadi budaya.

Lagi-lagi yang menjadi korban adalah masyarakat banyak. Negeri ini seharusnya telah mampu menjamin keperluan kehidupan masyarakatnya dengan baik. Tetapi karena ulah beberapa gelintir manusia maka akibatnya pelayanannya tidak maksimal.

Semua itu tidak ada lain karena nafsu ini kerap menguasai diri. Kebutuhan hidup yang terus-menerus meningkat, menjadikan setiap orang berpacu untuk mendapatkan harta kekayaan. Sehingga yang menjadi kegiatannya adalah asal dapat. Dati mana apatnya tidak perlu dipermasalahkan, sekalipun telah tahu bahwa sumbernya tidak benar.

Maka Ramadlan ini diharapkan dapat menyadarkan masing-masing diri secara serentak dan bersama-sama untuk menyadari kekeliruan tersebut. Kemudian perlu ada taubat secara nasional kepada semua anak bangsa.

Maka dari situ insyaallah bangsa ini akan mampu berubah, mampu merestorasi diri ke arah yang lebih baik. Tetapi jika hal itu belum terjadi maka harapan untuk kedepan lebih baih jauh panggang dari api, tidak akan tercapai. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni.

Related Post
Leave a Comment

This website uses cookies.