Pentingnya Belajar Sejarah

Pentingnya Belajar Sejarah. (Ilustras freepik.com)

Pentingnya Belajar Sejarah Kolom ditulis oleh M. Anwar Djaelani, peminat masalah sosial-keagamaan.

PWMU.CO – Suka atau tidak, diakui atau tidak, rupanya ada yang merasa tak nyaman jika kita akrab dengan sejarah. Rasanya, ada sedikit atau banyak, keinginan dai sebagian kalangan untuk melupakan dan jika perlu menutup sejarah masa lalu.

Ribut-ribut penghapusan pelajaran sejarah dalam kurikulum SMA—meski akhirnya dibatalkan—adalah contohnya. Seperti tergambar dari dua berita ini. Pelajaran Sejarah Direncanakan Dihapus, MPR: Indonesia Akan Bubar demikian berita di 20 September 2020. Nadiem: Tidak Ada Penghapusan Mata Pelajaran Sejarah” demikian kabar di esok harinya, 21 September 2020.

Tentu saja, bagi umat Islam, keinginan meninggalkan sejarah adalah perkara yang mungkar dan oleh karena itu harus ditolak. Hal ini, karena di depan Islam posisi sejarah sangat utama. Sekitar 60 persen isi al-Quran berisi sejarah atau kisah. Surat ke-28 al-Quran bernama al-Qashash (kisah).

Ada banyak ayat al-Quran yang meminta kita untuk rajin membaca dan belajar kepada sejarah. Antara lain, sebagai contoh, dua ayat ini : “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Yusuf 111)

“Dan semua kisah dari Rasul-Rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu. Dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Hud 120)

Belajar dari Sejarah

Suatu hari terjadi perselisihan di antara keduanya. Hal itu karena Bilal marah kepada Abu Dzar, yang berkata kepadanya sebagai “Anak si Hitam”.

Kemudian, atas pengaduan Bilal, bersabdalah Nabi SAW “Apakah engkau mengejeknya dengan kehitaman ibunya? Sungguh engkau masih memiliki sifat jahiliyah.”

Abu Dzar yang mengira sifat jahiliyah sebagai penyimpangan akhlak dan syahwat yang hanya diperbuat oleh anak-anak muda, bertanya, “Apakah, saat aku tua begini masih bersikap jahiliyah, wahai Rasulullah?”

“Ya, (sebab) mereka adalah saudara-saudaramu,” jawab Rasulullah SAW.

Mendengar itu Abu Dzar menyesal dan bertobat. Tak cukup di situ, sampai-sampai dia meminta Bilal untuk menginjak mukanya karena rasa sesalnya terhadap masalah tersebut sangat mendalam.

Andai Fatimah Mencuri

Seorang wanita dari Bani Makhzum pernah mencuri. Kemudian dia akan dibawa ke hadapan Rasulullah SAW untuk dihukum sesuai syariat Islam. Hal ini sangat menyusahkan orang-orang Quraisy. “Siapakah yang dapat meminta syafaat kepada Nabi untuk menggugurkan hukuman atas wanita itu,” harap mereka.

Lalu disebutlah bahwa Usamah bin Zaid adalah orang yang sangat dicintai Rasulullah SAW dan oleh karena itu diharapkan bisa membantu untuk membicarakan hal itu kepada Rasul SAW. Begitu mendengar permintaan itu, Rasulullah SAW marah sekali.

“Apakah engkau memintakan syafaat mengenai hukuman Allah,” tegur Nabi SAW kepada Usamah bin Zaid.

Kemudian Rasulullah SAW berpidato di tengah orang-orang banyak. “Sungguh, orang-orang terdahulu sebelum kamu telah dihancurkan oleh Allah karena jika ada bangsawan di antara mereka yang mencuri mereka membiarkannya. Tetapi jika orang lemah yang mencuri mereka menegakkan hukuman atas orang itu. Demi Allah, andaikata Fathimah putri Muhammad mencuri pasti aku potong tangannya” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad).

Khalifah Teladan

Ketika Abu Bakar RA menjadi khalifah, dia dikenal sebagai pemimpin yang rendah hati hati. Jiwanya selalu dipenuhi oleh rasa kemanusiaan yang tinggi.

Jika datang kepadanya anak-anak perempuan yang kehilangan bapaknya dalam peperangan, dia akan membantu memerahkan susu kambing mereka. Di saat itu beliau berkata, “Aku berharap kekhalifahan tidak mengubah diriku dari perilaku yang biasa kumiliki sebelumnya.”

Saat Umar bin Khattab menjadi khalifah, beliau sangat mengayomi rakyatnya. Beliau berbuat baik kepada kaum lemah dan sangat tegas dalam kebenaran. Baginya manusia adalah sama. Beliau selalu mencegah diri dari kenikmatan agar dapat memberi orang lain.

Dia juga sering melaparkan diri sendiri untuk mengenyangkan anggota masyarakat. Umar Ra sering melakukan aktivitas ronda dan mengunjungi orang-orang di rumah rumahnya.

Suatu hari ketika berada di pasar, Umar Ra melihat seorang tua renta yang meminta sedekah. “Siapakah engkau, wahai orang tua,” tanya Umar.

“Saya hanyalah seorang tua renta yang meminta jizyah dan nafkah,” kata orang itu yang tak lain adalah orang Yahudi dan tinggal di Madinah.

“Kami tidak adil kepadamu, wahai orang tua. Kami ambil jizyah darimu ketika engkau masih muda dan kami sia-siakan engkau ketika sudah tua,” kata Umar.

Umar lalu menuntun orang itu ke rumahnya. Kemudian dia memberinya makan. Setelah itu Umar mengirim surat kepada penjaga Baitul Maal. Katanya, “Tetapkan untuk orang ini dan orang orang lain yang seperti dia tunjangan yang mencukupinya dan mencukupi keluarganya.”

KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari

Secara umum—terutama dalam konteks Indonesia—jika kita tekun membaca sejarah: Pertama, banyak ulama belajar Islam sejak kecil. Kedua, banyak yang memulai belajar dengan berguru ke ayahnya sendiri. Setelah itu, mereka belajar dari satu guru ke guru lainnya. Ketiga, mereka yang disebut ulama besar rata-rata karena pernah belajar bahkan menetap di Mekkah.

Keberadaan ibadah haji dan Mekkah sebagai kota ilmu terbukti telah “melahirkan” banyak mujahid dakwah yang berkelas. Lihat, sekadar contoh, Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), Hasyim Asy’ari (NU), dan Mas Abdurrahman (Mathla’ul Anwar). Mereka adalah sebagian mujahid dakwah yang banyak berkontribusi bagi perjuangan Indonesia.

KH Ahmad Dahlan adalah pendiri Muhammadiyah. Dia yang lahir pada 1868 di Yogyakarta, sangat tekun dalam berdakwah membina akhlaq masyarakat sekaligus mengajak mereka berjuang.

“Jika kamu berhalangan untuk bertabligh, janganlah permisi kepadaku. Tapi, permisilah kepada Tuhan dengan mengemukakan alasanmu. Setelah itu, kamu (harus) bertanggung-jawab atas perbuatanmu,” kata KH Ahmad Dahlan.

KH Hasyim Asy’ari adalah pendiri NU. Beliau yang lahir pada 14 Februari 1871 di Jombang itu adalah pejuang dakwah yang tangguh. Beliau punya jasa besar bagi negeri ini antara lain dengan Resolusi Jihad-nya pada 1945.

“Belalah agama Islam. Berjihadlah terhadap orang yang melecehkan al-Quran dan sifat-sifat Allah Yang Maha Kasih, juga terhadap penganut ilmu-ilmu bathil dan akidah-akidah sesat,” kata KH Hasyim Asy’ari.

Kini, pilihan ada pada kita. Meski begitu, orang cerdas akan berada di pihak yang selalu berusaha menjadikan sejarah sebagai layar lebar “pertunjukan anak manusia” yang darinya bisa kita petik berbagai ibrah (pelajaran).

“Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan” (al-Hasyr 2). (*)

Editor Mohammad Nurfatoni.

Artikel Pentingnya Belajar Sejarah ini adalah versi online Buletin Jumat Hanif Edisi 4 Tahun ke-XXV, 25 September 2020/8 Safar 1442 H.

Hanif versi cetak sejak 17 April 2020 tidak terbit karena pandemi Covid-19 masih membahayakan mobilitas fisik.

This post was published on Jumat 25 September 2020 | 11:38 11:38

Related Post
Leave a Comment