Beriman tanpa Melihat Nabi, Ini Istimewanya

Beriman tanpa Melihat Nabi, Ini Istimewanya. (Ilustrasi freepik.com)

Beriman tanpa Melihat Nabi, Ini Istimewanya oleh Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo.

PWMU.CO – Kajian Beriman tanpa Melihat Nabi, Ini Istimewanya ini berangkat dari hadits riwayat Ahmad.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ طُوبَى لِمَنْ رَآكَ وَآمَنَ بِكَ قَالَ طُوبَى لِمَنْ رَآنِي وَآمَنَ بِي ثُمَّ طُوبَى ثُمَّ طُوبَى ثُمَّ طُوبَى لِمَنْ آمَنَ بِي وَلَمْ يَرَنِي قَالَ لَهُ رَجُلٌ وَمَا طُوبَى قَالَ شَجَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ مَسِيرَةُ مِائَةِ عَامٍ ثِيَابُ أَهْلِ الْجَنَّةِ تَخْرُجُ مِنْ أَكْمَامِهَا.رواه احمد

Dari Abu Said Al-Khudriy RA, dari Rasulullah SAW: Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepadanya: ‘Ya Rasulullah, beruntunglah bagi orang yang melihatmu dan yang beriman kepadamu.’

Beliau menjawab. ‘Beruntunglah orang yang melihatku dan beriman kepadaku. Kemudian beruntunglah, kemudian beruntunglah, kemudian beruntunglah bagi orang yang beriman kepadaku padahal ia tidak melihatku.’

Berkata kepadanya seorang laki-laki. ‘Apa keberuntungan itu?’

Nabi menjawab, “Satu pohon di surga seratus tahun perjalanan ahli surga, barulah ia keluar dari naungannya.’

Beriman pada Rasul bagian Rukun Iman

Di antara nikmat atau karunia yang besar atas umat manusia adalah diutusnya seorang rasul di antara mereka. Dengan perantaraan rasul inilah umat ini mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang sebenarnya.

Maka beriman kepada rasul ini merupakan bagian dari rukun iman. Dan tak bisa dipisahkan dalam hal ini adalah beriman kepada kitab yang diturunkan kepada para rasul.

Rasulullah Muhammad SAW adalah nabi dan sekaligus utusan pamungkas. Setelah beliau tidak ada nabi lagi. Hal ini sekaligus ditandaskan bahwa masa kenabian telah beakhir. Jika ada yang mengaku menjadi nabi maka bisa dipastikan bahwa itu pasti bukan nabi.


مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّۦنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Rasulullah bertugas menyampaikan risalah Allah SWT. Memberikan kabar gembira kepada mereka yang mentaati kebenaran dan memberi peringatan kepada mereka yang menentang dan bahkan menolaknya.

Sehingga dalam hal ini, kebahagiaan itu terletak pada kesesuaian prilaku dengan apa yang telah disampaikannya, yaitu berupa al-Quran dan al-Hadits Rasulullah SAW.

Fungsi Diutusnya Rasul

Rasulullah diutus untuk menebarkan rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin) dan bukan sebatas rahmat bagi kaum mukminin (rahmatan lil mukminin). Maka segala bentuk persaudaraan, persahabatan dan bahkan permusuhan, terletak pada nilai dienul Islam ini.

Persoalan pelecehan terhadap diri sendiri, kelompok dan golongan dan orang-orang tertentu bukanlah hal yang prinsip, akan tetapi pelecehan terhadap agama, termasuk kepada pribadi RasulullahSAW yang agung akhlaknya, terhadap al-Quran dan al-Hadits (inkarul hadits) merupakan tindakan yang harus disikapi dengan tegas dan tetap bijak.

Beriman tanpa Bertemu

Dalam hadits di atas dijelaskan, sungguh beruntung orang-orang yang hidup sezaman dengan beliau dan sekaligus beriman kepadanya. Karena zaman itu adalah sebaik-baik kurun.

Lebih dari itu Rasulullah SAW sangat mengapresiasi kepada mereka yang beriman kepada beliau walaupun tidak berjumpa dengan beliau. Beriman dalam hal ini adalah membenarkan beliau dan mentaati dengan apa yang dititahkannya.

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (al-Hasyr 7)

Dan masih banyak lagi ayat serupa yang memerintahkan kita untuk taat kepada Rasulullah SAW.

Balasan Beriman pada Rasul

Tiga kali Rasulullah menyampaikan thuba yang bermakna bahagia, dengan rangkaian thuba li menjadi bermakna berbahagialah.

Penjelasan berikutnya thuba merupakan nama jenis pohon di surga yang sangat besar, sehingga seratus tahun perjalanan yang akan ditempuh barulah ia akan keluar dari naungan pohon tersebut.

Hal ini mengisyaratkan bahwa mereka yang berusaha mentaati rasul akan dijamin masuk surga, yang digambarkan betapa luasnya surga itu—yang di dalamnya mengandung keindahan yang luar biasa dan kebahagiaan yang tiada tara.

Di dunia saja ketika kita melakukan touring atau perjalanan ke tempat yang kita anggap sebagai tempat yang indah dan nyaman kita akan merasa bahagia. Di surga jauh lebih dari apa yang kita saksikan dan rasakan selama ini. Karena kenikmatan surga itu—sebagaiman dalam hadits riwayat yang lain—tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengan oleh telinga dan tidak dapat terlintas atau terbayangkan.

Semoga kita termasuk beriman kepada Rasulullah SAW dengan benar. Yakni mencintai dengan cara meneladani beliau dalam seluruh sepak terjang kehidupan kita. Dan selalu berusaha mempelajari hadits-hadits beliau dan selanjutnya mudah-mudahan akan mengantarkan diri kita masuk ke dalam surga Allah SWT. Amin! (*)

Editor Mohammad Nurfatoni.

Artikel Beriman tanpa Melihat Nabi, Ini Istimewanya adalah versi online Buletin Jumat Hanif Edisi 10 Tahun ke-XXV, 13 November 2020/27 Rabiul Awal 1442 H.

Hanif versi cetak sejak 17 April 2020 tidak terbit karena pandemi Covid-19 masih membahayakan mobilitas fisik.

This post was published on Jumat 13 November 2020 | 00:01 00:01

Related Post
Leave a Comment