Sekolah Perlu Dokumen Perencanaan 16 Tahun

Rektor Umsida Hidayatuloh saat di sekolah Muhammadiyah GKB. Sekolah Perlu Dokumen Perencanaan 16 Tahun. (Maratus Sholichah/PWMU.CO)

Sekolah Perlu Dokumen Perencanaan 16 Tahun. Agar setiap terjadi pergantian pimpinan sekolah tidak dimulai lagi dari nol.

PWMU.CO – Untuk menyiapkan pendidikan di masa depan, harus dimulai dengan keseriusan dalam mengembangkan sekolah.

“Jika Anda ingin sekolah ini terus eksis, berkembang, dan meningkat, maka Anda harus serius dalam mengembangkan sekolah ini,” kata Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) Dr Hidayatulloh MSi yang membawakan materi bertema “Tantangan dan Peluang Pendidikan Muhammadiyah Masa Depan”.

Hidayatullah menjadi narasumber dalam kegiatan Supervisory Management Program yang diselenggarakan Majelis Dikdasmen Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB, Gresik, Sabtu (5/12/20). Acara tersebut satu rangkaian dengan kegiatan pelantikan kepala dan wakil kepala (waka) sekolah Muhammadiyah GKB.

“Meskipun masa jabatan hanya empat tahun, akan lebih baik membuat perencanaan yang bisa dipakai untuk jangka panjang sekolah,” ujarnya memberi pesan pada kepala dan waka yang punya masa abatan empat tahun itu.

Menurutnya, tanggung jawab merencanakan sekolah tidak hanya empat tahun. Tapi bisa delapan tahun, enam belas tahun, dan seterusnya. “Itulah pentingnya perencanaan yang nyata,” pesannya.

Perencanaan 16 Tahun

Hidayatullah menceritakan, dia sudah mengusulkan ke Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur bahwa setidaknya sekolah harus memiliki dokumen perencanaan tiga atau empat periode. Yaitu 16 tahun untuk memperjelas arah yang akan ditempuh sekolah dalam jangka panjang.

“Jadi, ketika terjadi pergantian kepala sekolah, tidak memulai dari nol, tapi bisa membuka dokumen dan melanjutkan saja, sekolah ini ada di titik mana dan arahnya mau kemana,” jelas Wakil Ketua PWM Jatim itu.

Hidayatullah juga mengatakan bahwa tujuan dibentuknya rencana pengembangan sekolah sangat penting. Diantaranya, dapat menciptakan integrasi dan interkoneksi.

“Adanya kesatuan dan keterhubungan antara bapak ibu sebagai pelaksana di sekolah, majelis dikdasmen sebagai penyelenggara, dan PCM (Pimpinan Cabang Muhammadiyah) sebagai pemilik sekolah harus terjadi integrasi dan interkoneksi,” terangnya.

Hidayatullah menyampaikan salah satu cara menyusun perencanaan pengembangan sekolah yang bagus, yaitu dengan memasukkan isu-isu strategis bidang pendidikan yang berlaku dalam jangka panjang.

“Pertama adalah isu tentang karakter. Kedua, isu tentang kompetensi. Ini adalah isu yang tidak pernah selesai dibicarakan dan dicari banyak orang,” paparnya.

Dia menambahkan, banyak sekolah yang memasukkan capaian ujian nasional dalam rencana pengembangan sekolah, padahal saat ini ujian nasional sudah tidak lagi dilaksanakan. Itu menandakan hal tersebut bukanlah isu strategis.

Untuk menyusun rancangan perencanaan sekolah, sambungnya, yang harus dilakukan adalah melakukan analisis kondisi eksternal dan internal sekolah kemudian memproyeksikan ke mana sekolah akan kita arahkan untuk jangka panjang.

“Dari situlah kita akan merumuskan visi, misi, tujuan,sasaran dan arah pengembangan sekolah. Inilah poin pentingnya. Kita juga perlu menyusun strategi perencanaan untuk membawa ke arah manakah sekolah kita ini,” ujarnya. (*)

Penulis Mar’atus Sholichah. Editor Mohammad Nurfatoni.

Related Post
Leave a Comment

This website uses cookies.