Siti Fadilah Supari Blak-blakan soal Vaksinasi Covid-19

Dr dr Siti Fadilah Supari Sp JP (K) dalam Pengajian Orbit Virtual membahas manfaat dan mudharat vaksin Covid-19 (Tangkapan layar Sayyidah Nuriyah/PWMU.CO)

PWMU.CO – Siti Fadilah Supari Blak-blakan soal Vaksinasi Covid-19 dalam Pengajian Orbit Virtual melalui Zoom Cloud Meeting, Kamis (25/3/2021) malam. Pembicaranya: Dr dr Siti Fadilah Supari Sp JP (K), Menteri Kesehatan Kabinet Indonesia Bersatu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebanyak 381 peserta mengikuti pengajian binaan Prof Din Syamsuddin ini. Mereka adalah aktivis Aisyiyah dan Muhammadiyah dari berbagai penjuru Indonesia. Ada juga yang dari luar negeri. Pihak beberapa rumah sakit Muhammadiyah, perwakilan ormas lain, dan tvMu juga hadir.

Lantunan ayat suci al-Quran surat asy-Syuara ayat 78-85 menjadi pembuka acara. Kali ini yang melantunkan aktivis medsos Mustofa Nahrawardaya. Dian Mariana bertugas membaca sari tilawahnya.

Moderator Ali Limau Zainal Abidin mengawali diskusi dengan menyampaikan hasil penelitian, sebanyak 30 persen masyarakat ragu mengikuti vaksinasi Covid-19—sebagamaina yang ia baca di media.

Setelah itu ia mempersilakan Bunda Fadilah, sapaan akrab Siti Fadilah Supari, untuk menyampaikan materi bertema “Vaksinasi Covid-19: Antara Manfaat dan Mudharat “.

Beberapa Keanehan

Bunda Fadilah mengawali materi dengan menyampaikan beberapa keanehan soal Covid-19 ini. “Vaksin ada karena pandemi,” ujar Bunda Fadilah mengungkap latar belakang mengapa vaksin berada di sekeliling kita.

Tapi baginya, ada beberapa keanehan pada sejarah pandemi Covid-19 yang dahsyat ini. Keanehan pertama, sejak tahun 2015—lima tahun sebelum pandemi datang—seorang elite global yang sedang menguasai informasi dunia sudah bisa membaca dan mengungkap keberadaan pandemi.

“Dia menganjurkan negara-negara berinvestasi dalam bidang vaksin untuk mengantisipasi pandemi tersebut,” ujarnya. Dia merasa janggal bagaimana mereka sudah tahu dan bersiap membuat vaksin. Terlebih lagi, sekarang elite itu menjadi koordinator negara-negara yang mampu membuat vaksin.

“Dalam sejarah dunia sebetulnya tidak pernah ada sejarah pandemi di-stop  (dihentikan) dengan vaksin atau vaksin bisa menghentikan pandemi!” tandas alumni Orbit ini. Bahkan, lanjutnya, menghentikan wabah flu burung dulu tidak dengan vaksin.

Kedua, soal pandemi di Wuhan, World Health Organization (WHO) tidak pernah konsisten dalam menjelaskannya. Misal virusnya seperti apa dan bagaimana menyebarnya. “Padahal seharusnya WHO sudah tahu persis, tapi dari awal Januari sampai Maret semua bingung bagaimana menyebarnya, bahkan sampai sekarang,” kata dia.

Begitu pula saat WHO menjelaskan vaksin. “Awalnya mengatakan tidak ada vaksin yang bisa mengatasi pandemi, lalu berubah hanya vaksin tertentu yang bisa,” terangnya. Hal ini, bagi Fadillah, menunjukkan semua telah diatur dalam ketidakteraturan.

Keanehan di Indonesia, menurutnya tampak dari pelaksanaan yang sudah sesuai peraturan pemerintah (PP)—yang disahkan pada pertengahan 2019. “Aneh karena membuat seperti ini tidak mudah, kira-kira (butuh waktu) 3-6 bulan. Mungkin saja yang menyuruh WHO,” jelasnya.

Saat semua bingung tiba-tiba penderitanya juga ada di Indonesia, ternyata pemerintah sudah siap dengan satgasnya. “Saya tidak tahu bagaimana membentuk satgas tersebut dan ternyata berdasarkan PP,” ujarnya.

Keanehan lain yang Fadilah tangkap yaitu saat penelitian vaksin Sinovac di Bandung belum selesai, presiden sudah divaksin Sinovac di hadapan seluruh rakyat melalui TV.

Siti Fadilah Supari Blak-blakan soal Vaksinasi Covid-19. Sebagian peserta yang hadir di Zoom (Tangkapan layar Sayyidah Nuriyah/PWMU.CO)

Manfaat Vaksin

Bunda Fadilah menjelaskan, vaksin adalah zat biologi yang dimasukkan ke tubuh dengan harapan meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu. Sedangkan vaksinasi adalah pemberian vaksin kepada masyarakat dengan tujuan tertentu untuk mencegah penyakit menular.

“Tujuan vaksinasi dari pemerintah bukan untuk menyelamatkan perseorangan, tapi untuk menciptakan herd immunity,” tegasnya. Kira-kira, jika 70 persen penduduk Indonesia divaksin, maka diharapkan penularan Covid-19 akan melandai, berkurang, dan akhirnya berhenti.

Menurut dia hal itu sebatas asumsi yang pemerintah harapkan. Ia juga menyoroti fungsi pemberian sertifikat vaksin. “Ya lucu banget kalau bikin sertifikat vaksin itu,” sindirnya.

Sebab, dengan kata lain, vaksin bukan untuk perlindungan pribadi, melainkan untuk perlindungan orang banyak. Artinya, jika seseorang divaksin, maka masih memungkinkan terkena, sakit, dan menularkan Covid-19. “Maka meskipun Anda sudah divaksin, tetap jagalah prokes 5M!” tuturnya kepada peserta.

Indonesia Baik Hati Impor Vaksin

Pada perkembangannya, Bunda Fadilah menjelaskan terjadi banyak demo menolak vaksin di luar negeri, seperti di Inggris, Kanada, Jepang, Belanda, dan Kroasia. Tapi Indonesia tidak demo menolak vaksin, sebab warga Indonesia terlalu takut dengan Covid-19.

Padahal, menurutnya, Covid-19 tidak semenakutkan apa yang media tampilkan. ‘Ketakutan semesta’ ini justru mendukung kebijakan pemerintah agar seluruh warga Indonesia menerima vaksinasi. Mau tidak mau, jika pemerintah sudah mengatur, maka  warga tidak bisa menolak.

“Walaupun dalam hati saya tidak tahu atas pertimbangan apa pemerintah mengimpor vaksin dari luar negeri, kalau sudah tahu dari awal kenapa tidak disiapkan dari awal?” komentarnya.

Mengingat, membuat vaksin yang benar butuh waktu agak lama, yaitu 18 bulan atau 2 tahun. “Tidak seperti sekarang, 13 Maret diumumkan, tapi vaksin sudah siap,” ujarnya.

Fadilah lantas mempertanyakan, “Apakah vaksin impor itu sudah pasti cocok dengan tubuh kita?” Padahal, sejauh yang ia tahu, hanya penelitian Sinovac di Bandung yang menunjukkan kecocokan.

Sinovac terbuat dari virus Covid-19 di Wuhan dengan cara konvensional, yaitu melemahkan virus. Virus itu sengaja dimasukkan ke tubuh sehingga sistem kekebalan tubuh akan menangkapnya dan belajar menghadapinya. Sel memori akan mencatat cara menjawabnya.

“Kalau suatu saat virus Covid-19 masuk ke tubuh, sistem kekebalan tubuh bisa menjawab karena sudah berpengalaman waktu itu,” ujarnya menjelaskan harapan memakai vaksin.

Vaksin Sinovac sudah terbukti tidak ada side effect (efek samping) jangka panjang yang berbahaya. Tapi Fadilah belum tahu apakah virus Wuhan yang digunakan ini kompatibel 90 persen dengan virus Indonesia, karena datanya belum ada. Terhadap fenomena ini, Fadilah berkomentar, “Indonesia baik hati semua diterima begitu saja!”

Gambar skema masuknya DNA virus ke sel tubuh (warna biru) yang dibagikan Siti Fadillah Supari. Siti Fadilah Supari Blak-blakan soal Vaksinasi Covid-19. (Tangkapan layar Sayyidah Nuriyah/PWMU.CO)

Dunia Menolak Vaksin Lansia, Indonesia Tetap Lanjut

Vaksin lain spesial untuk lansia, AstraZeneca, juga sudah masuk di Indonesia. “Konon katanya untuk nenek-nenek—seperti saya—dan kakek-kakek,” ujarnya menerangkan vaksin yang dibuat di Oxford itu.

Vaksin ini berbahan DNA virus Covid-19: dengan mengambil spike proteinnya. Bunda Fadilah menggambarkan Covid-10 seperti rambutan, teridiri dari bola dan duri-duri. Duri itulah bagian spike protein. Kemudian, model DNA itu yang masuk ke tubuh melalui adenovirus—virus yang biasa menyebabkan flu pada simpanse, tapi untuk manusia tidak berbahaya—yang kalau masuk ke tubuh akan lisis (hancur sendiri).

Fadilah lantas menampilkan gambar virus dan menjelaskan skema masuknya DNA virus yang sederhana. “Bagian atas itu virusnya, yang merah itu DNA-nya. Yang biru besar adalah sel tubuh manusia. Setelah sel tubuh melembung, virus masuk ke sel. Lalu dia mendekati nukleus untuk mengeluarkan DNA,” terangnya.

Dia menyampaikan, di Eropa, bahkan di 17 negara di dunia, vaksin ini distop karena megakibatkan pengentalan darah yang memungkinkan seseorang kena stroke atau serangan jantung mendadak. Indonesia, bersama 16 negara lainnya, juga stop menggunakannya.

“Tapi pada saat stop itu Badan POM sudah menerima 1,1 juta dosis AstraZeneca dan ternyata sudah akan expired (kadaluwarsa),” terangnya.

Badan POM lantas menunggu WHO untuk mengetahui apakah vaksin ini bisa diteruskan. Fadilah mengaku telah membuat video Youtube untuk menanggapi sikap BPOM itu. Ia menyarankan agar orang tua tidak perlu divaksin, sebab sistem pembekuan darahnya sudah agak menurun.

Mbokya jangan nunggu WHO menentukan, Indonesia harus berani meneliti safety (keamanannya). Coba divaksin, apakah menggangu pembekuan darah? Kalau mengganggu ya jangan diberikan!” tandasnya.

Beberapa hari kemudian, WHO dan Badan POM Eropa mengizinkan untuk meneruskan kembali vaksin ini. Akibatnya, Badan POM Indonesia juga ikut meneruskan vaksinasi ke seluruh masyarakat. “Sudah beli 1,1 juta dosis, buru-buru (meneruskan) mungkin karena expired bulan Mei tahun ini,” katanya.

Fadilah prihatin begitu Indonesia menyebar vaksin yang katanya berbahaya itu—Pak Jokowi mau menyebar untuk pesantren di Jawa Timur—untuk lansia. “Kalau pemuda masih bisa bertahan, tidak terlalu mengkhawatirkan,” ujarnya.

Yang muda, tambahnya, mestinya harus tahu juga apa ada kelainan pembekuan darah atau tidak. Jika ada, ia menyarankan untuk memilih vaksin lain atau Sinovac, bukan AstraZeneca!

Ada lima negara yang hingga saat ini memberhentikan penyebaran vaksin AstraZeneca karena membahayakan, seperti Norwegia, Austria, Swiss. Mereka menyoroti bahaya penggumpalan darah tidak tertulis di kemasannya. Begitu ada satu korban, mereka memberhentikan vaksinasi.

“Tapi di Indonesia jalan terus, bahkan dilanjutkan isu halal dan haram,” ujarnya.

Ia heran, tidak ada isu yang menyoroti kapan waktu pembuatan vaksin jika tanggal 6 Mei nanti sudah expired. Padahal pandemi baru muncul awal 2020. “Katanya paling cepat 18 bulan atau 2 tahun, entah apakah sudah termasuk uji klinisnya,” tutur Fadilah.

Solusi Mudharatnya

Bunda Fadilah mengatakan, sampai sekarang kita tidak tahu persis efek jangka panjang vaksin impor, kecuali Sinovac. Karena vaksin yang dibuat itu belum pernah dipakai di dunia. Selain itu, pemberian vaksin yang tidak taat asas membuat korban semakin meningkat. “Habis suntik-positif-suntik-positif lagi,” ujarnya.

Itu karena vaksin tidak melihat kondisi pasien yang disuntiknya. Misal dia disuntik vaksin tapi ternyata sudah kena virus, di mana dua atau tiga hari lagi inkubasi, maka akan tetap positif Covid-19 nantinya. “Tapi yang disalahkan pasti vaksinnya,” ujarnya

Agar korban (positif Covid setelah divaksin) tidak semakin banyak, Fadilah menyarankan sebaiknya tidak memberikan AstraZeneca untuk lansia. Selain itu, tambahnya, agar mendata secara khusus bagaimana kondisi orang yang akan divaksin.

“Hati-hati ibu-ibu, sebelum divaksin hubungi dokter anda dulu!” ujarnya memperingatkan para peserta.

Ia juga memberi masukan kepada Muhammadiyah, untuk mengetes pembekuan darah orang-orang sebelum divaksin seperti apa. Takutnya, memberikan vaksin AstraZeneca ke lansia justru akan mengentalkan dan menyumbat pembuluh darah. Akhirnya menyebabkan stroke atau terkena serangan jantung mendadak.

“Semuanya sangat membahayakan,” tandasnya. (*)

Penulis Sayyidah Nuriyah Editor Mohammad Nurfatoni

This post was published on Jumat 26 Maret 2021 | 11:38 11:38

Related Post
Leave a Comment