Teguran Nabi pada Sahabat yang Beribadah tanpa Putus

Teguran Nabi pada Sahabat yang Beribadah tanpa Putus (ilustrasi freepik.com)

Teguran Nabi pada Sahabat yang Beribadah tanpa Putus ditulis oleh Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo.

PWMU.CO – Kajian Lailatul Qadar, Malam Penetapan Takdir ini berangkat dari hadits riwayat Bukhari.

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَقُومُ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ قُلْتُ إِنِّي أَفْعَلُ ذَلِكَ قَالَ فَإِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ هَجَمَتْ عَيْنُكَ وَنَفِهَتْ نَفْسُكَ وَإِنَّ لِنَفْسِكَ حَقًّا وَلِأَهْلِكَ حَقًّا فَصُمْ وَأَفْطِرْ وَقُمْ وَنَمْ. رواه البخاري

Dari Abu Al ‘Abbas berkata, Aku mendengar ‘Abdullah bin Amru radhiallahu anhuma berkata: ‘Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepadaku: ‘Benarkah kabar bahwa kamu selalu mendirikan shalat di malam hari dan shaum pada siang harinya?

Aku jawab: ‘Benar.’ Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Sungguh jika kamu lakukan terus-menerus maka nanti matamu letih dan jiwamu lemah. Sungguh untuk dirimu ada haknya, juga keluargamu punya hak. Maka shaumlah dan juga berbukalah, bangun untuk shalat malam dan juga tidurlah.”

Orang-Orang Shalih

Allah Subhanahu wa Taala selalu menerima amalan yang shalih dari hamba-hamba-Nya, dan juga kesungguhan dalam beribadah baik di siang hari maupun malam hari. Itulah orang-orang yang shalih lagi mulia. Rasulullah memberikan petunjuk dalam beribadah agar menyesuaikan dengan kemampuannya, dan memberikan yang berhak sesuai haknya.

Setiap anggota tubuh ini memiliki hak, walaupun diri kita juga memiliki hak dari anggota tubuh kita ini. Antara diri dan tubuh masing-masing memiliki hak yang harus ditunaikan dengan baik. Jadi jangan sampai memforsir yang dapat menyebabkan berdampak negatif, karena hal ini berarti mendhalimi terhadap anggota tubuh ini.

Akan tetapi juga tidak kemudian memanjakannya sedemikian rupa sehingga menjadi malas untuk beribadah, maka diperlukan adanya keseimbangan dalam hal ini.

Abdullah bin Amr bin Ash

Dalam hadits di atas, Rasulullah mengingatkan kepada Abdullah bin Amr bin Ash untuk tidak memberatkan diri dalam beribadah kepada Allah. Dia adalah sahabat Nabi yang sangat kuat ibadahnya kepada Allah karena begitu cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Hampir setiap malam dia beribadah kepada Allah semalam suntuk. Dia juga sangat gemar membaca al-Quran sebagaimana dalam riwayat yang lain.

Alkisah: Rasulullah menyuruhnya untuk mengkhatamkan al-Quran dalam sebulan, tetapi dia mengatakan, ‘Saya mampu lebih dari itu,’ sehingga Rasulullah menyuruhnya mengkhatamkan dalam dua puluh hari. Dia puan masih mengatakan kalau mampu lebih dari itu, maka Rasulullah menyuruhnya mengkhatamkan dalam sepuluh hari.

Tetapi dia mengatakan masih mampu lebih dari itu, sehingga terakhir rasulullah menyuruhnya untuk mengkhatamkan dalam waktu sepekan, dan waktu ini sudah tidak bisa ditawar lagi.

Demikian pula dengan puasa yang dia jalankan. Hampir setiap hari berpuasa. Maka Rasulullah menegurnya untuk tidak melakukan yang demikian. Rasulullah menegaskan puasa seseorang hamba yang terbaik adalah seperti puasanya Nabi Daud alaihissalam.

Beribadah kepada Allah karena mengharap cinta dan ridlha-Nya merupakan kebiasaan orang-orang shalih, tetapi pun demikian jangan sampai kemudian menyebabkan terbengkalainya hak-hak lainnya atas diri kita.

Mata ini punya hak untuk terpejam atau tidur, demikian pula hak anggota tubuh lainnya. Keluarga juga punya hak dari diri kita, istri dan anak-anak adalah amanah yang juga harus dijaga dan diselamatkan dalam kehidupan di dunia sampai akhirat. Maka beribadah kepada Allah pun diberikan batasan oleh Rasulullah dalam hal ini untuk tidak berlebihan.

Wali-Wali Allah

Tidak sebagaimana cerita dalam dunia kewalian, yang mereka digambarkan selalu beribadah terus-menerus sampai membengkalaikan keluarganya. Mereka yang disebut para wali itu adalah termasuk orang-orang shalih yang juga senantiasa memelihara keseimbangan antara kepentingan ukhrawi dan duniawinya, karena masing-masing ada tanggung jawabnya sendiri-sendiri.

Juga termasuk karamah yang diyakini sebagian orang terhadap para wali, sehingga menyebabkan banyak umat ini yang meyakini bahwa kewalian itu ditandai dengan karamah yang dimiliki oleh seseorang.

Padahal para sahabat Nabi juga mayoritas adalah termasuk wali-wali Allah, akan tetapi mereka tidak memiliki karamah sebagaimana gambaran umat kini terhadap karamah para wali. Dalam hal ini lebih khsusus yang dimaksud karamah adalah semisal kesaktian yang bisa begini dan begitu. Wallahu a’lam bishshawab.

Sahabat-Sahabat yang Mulia


وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (at-Taubah 100)

Allah menjelaskan tentang karakteristik wali-wali-Nya dalam firman-Nya:

أَلَآ إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ لَهُمُ ٱلۡبُشۡرَىٰ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۚ لَا تَبۡدِيلَ لِكَلِمَٰتِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (Yunus; 62-64)

Wali-wali Allah sebagaimana ayat di atas telah memiliki ilmu makrifatullah, yakni memiliki persepsi yang benar kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Tidak seperti orang-orang kafir yang mereka memiliki persepsi yang salah kepada Allah.

Termasuk pula orang-orang yang beriman tetapi tidak memiliki persepsi atau pemahaman yang benar kepada Allah juga belum mencapai predikat waliyullah. Tentu memang tidak mudah dalam hal ini, tetapi dengan pemahaman yang benar semua memiliki potensi yang sama dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Taala.

وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (az-Zumar; 67)

Para mufaasir sepakat bahwa yang dimaksud ayat di atas adalah bahwa orang-orang musyrik itu tidak mengagungkan Allah dengan seagung-agungnya. Dan itu berarti mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni

Related Post
Leave a Comment

This website uses cookies.