Idul Fitri, Hari Raya Pengganti di Masa Jahiliah

Idul Fitri, Hari Raya Pengganti di Masa Jahiliah (Ilustrasi freepik/PWMU.CO)

Idul Fitri, Hari Raya Pengganti di Masa Jahiliah, ditulis oleh Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo.

PWMU.CO – Kajian Idul Fitri, Hari Raya Pengganti di Masa Jahiliah ini berangkat dari hadits riwayat Abu Dawud.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ. رواه أبو داود

Dari Anas bin Malik dia berkata; “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tiba di Madinah, sedangkan penduduknya memiliki dua hari khusus untuk permainan.

Maka beliau bersabda: ‘Apakah maksud dari dua hari ini?’ Mereka menjawab; “Kami biasa mengadakan permainan pada dua hari tersebut semasa masih Jahiliah.’

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; ‘Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari kedua hari tersebut, yaitu hari (raya) kurban (Idul Aldha) dan hari raya Idul Fitri.’

Makna Idul Fitri

Id dari kata ‘aada ya’uudu yang artinya kembali atau terulang. Sedangkan fitri dari kata fathara yafthuru fathran yang artinya makan pagi, fatharashsha imu artinya berbuka puasa. Jadi Idul Fitri artinya kembali berbuka. Setelah berpuasa sebulan lamanya menahan lapar dan dahaga di siang hari baru kemudiam ber-Idul Fitri.

Dalam definisi lain Idul Fitri adalah al-awwalu min syawwal, wa huwalyaumul awwalu alladzi yubda u bihil ifthar lishsha imi walidza sumiya bi’idil fitri wa yuharrimushshaumu fih. Yakni hari pertama atau tangggal satu di bulan Syawwal, dan itu merupakan hari pertama dimulai makan pagi bagi orang yang berpuasa dan oleh karena itu dinamakan Idul fitri, serta pada hari itu diharamkan berpuasa.

Pengganti Hari Raya Jahiliah

Sebagaimana dalam hadits di atas, pada masa jahiliah sudah ada yang namanya hari raya di Madinah, sebelum datangnya Rasulullah. Yaitu hari raya an-Nairuuzi dan al- Mihrajaan. Dan selalu Rasulullah memerintahkan untuk kaum Muslimin menyelisihi apa yang menjadi adat atau kebiasaan jahiliah sebelum Islam. kemudian memberikan alternatif dengan syariat yang diajarkannya dan tentu akan lebih baik dari sebelumnya.

Sikap demikian adalah dalam rangka membedakan Islam terhadap agama lainnya. Maka syariat Islam memberikan pengganti dengan dua perayaan hari raya yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Keduanya dirayakan sekaligus sebagai syiar Islam. Selanjutnya supaya kaum Muslimin meninggalkan selain itu dengan ungkapan sebagaimana teks hadits di atas:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ

“Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari kedua hari tersebut. Yaitu hari (raya) kurban (Idul Adha) dan Idul fitri.”

Dalam rangka merayakan hari raya sebagai hari kegembiraan bagi kaum muslimin, hendaklah tetap memperhatikan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Karena bagaimanapun sebagai syiar Islam perayaan hari raya tidak boleh menyebabkan persepsi yang salah dari non-Muslim.

Tingkat kepedulian kepada kaum papa haruslah tetap menjadi perhatian, sehingga jangan sampai kita berbahagia sendiri di tengah penderitaan atau kesedihan keluarga atau tetangga kita. Inilah sesungguhnya esensi dari buah hasil puasa sebulan lamanya.

Takbir Idul Fitri

Hari raya Idul Fitri hanya sehari saja yaitu pada tanggal 1 Syawal. Hari ini merupakan perayaan untuk kebahagiaan bagi setiap Muslim dan sekaligus sebagai wujud rasa syukur kepada Allah atas diperintahkannya puasa Ramadhan, yaitu adanya rakmat Allah yang begitu besar di dalamnya, juga terdapat kemudahan (rukhshah) yang diberikan.

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (al-Baqarah 185)

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa untuk kita menjadi hamba Allah yang bersyukur adalah pada hari itu kita wajib mengagungkan Allah dengan se-agung-agungnya, dengan membaca takbir, tahlil, dan tahmid. Sungguh petunjuk Allah adalah karunia terbesar yang harus disyukuri dengan jalan dipahami dan ditaatinya.

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ الْعِيدِ حَتَّى نُخْرِجَ الْبِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا حَتَّى نُخْرِجَ الْحُيَّضَ فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَطُهْرَتَهُ. رواه البخاري

Dari Ummu Athiyyah berkata, “Pada hari Raya Ied kami diperintahkan untuk keluar sampai-sampai kami mengajak para anak gadis dari kamarnya dan juga para wanita yang sedang haid. Mereka duduk di belakang barisan kaum laki-laki dan mengucapkan takbir mengikuti takbirnya kaum laki-laki, dan berdoa mengikuti doanya kaum laki-laki dengan mengharap barakah dan kesucian hari raya tersebut.” (HR Bukhari)

Adapun untuk lafal takbir ada beberapa atsar yang dapat menjadi acuan bagi kita di antaranya, berdasar riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu sebagai berikut:

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله، والله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Juga diperkenankan dengan takbirnya tiga kali

الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله، والله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Imam Syafi’i dalam kitab al-Umm membolehkan dengan tambahan sebagaimana yang sering kita dengar yaitu:

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

Dalam hal ini para ulama sepakat bahwa kalimat takbir yang dikumandangkan tidak mempermasalahkan redaksinya, tetapi yang lebih penting kekhusyuannya dalam bertakbir, yakni dengan sungguh-sungguh mengaggungkan Allah Subhanahu wa Taala. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni

Related Post
Leave a Comment

This website uses cookies.