Hidupkan Tiga Roh Ini Pasca-Ramadhan

Jamaah shalat Id di Bumila (istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Hidupkan Tiga Roh Ini Pasca-Ramadhan. Hal ini disampaikan Fathurrahim Syuhadi—Ketua Majelis Pendidikan Kader (MPK) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan pada khutbah Idul Fitri, di tanah lapang Bumila (Bulutengger, Miru, dan Latek), Sekaran, Lamongan, Kamis (13/5/2021).

Dia mengajak jamaah memetik hikmah Ramadhan. “Selain memperoleh derajat muttaqin, mudah-mudahan kita dapat memetik hikmah selama bulan Ramadhan,” ujarnya.

Hikmah itu antara lain, pertama, kita telah banyak mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan melakukan shalat lail (tarawih), beritikaf di masjid untuk muhassabah (mawas diri), dan melakukan tadarus al-Quran

Kedua, dengan berpuasa Ramadhan kita telah merasakan lapar dan dahaga yang selama ini dilakukan para fakir miskin. Kita telah berlatih menahan diri dari rasa lapar, dan haus dengan penuh kesabaran.

Ketiga, dalam bulan Ramadhan kita telah membiasakan bersedekah, berinfak, dan berzakat.

Keempat, dalam bulan Ramadhan kita diajarkan untuk berdisiplin beribadah. Mempercepat berbuka puasa dan mengakhirkan sahur. Shalat dengan tepat waktu

Kelima, dalam bulan Ramadhan kita telah menjalin hubungan baik dengan Allah dan manusia (hablum minallah wa hablum minan nas).

Roh Menyemangati Hidup

Fathurrahim Syuhadi juga merangkannya ibadah puasa Ramadhan selama sebulan penuh itu seharusnya membekas dan menjadi roh yang dapat menyemangati setiap upaya perbuatan baik dan cinta kita terhadap sesama. Ada tiga roh dalam puasa Ramadhan.

Pertama, roh kebaikan. Puasa Ramadhan selama sebulan penuh setidaknya memotivasikan manusia untuk berbuat baik, dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Ibadah puasa melahirkan komitmen yang kuat untuk bertahan dari segala godaan hawa nafsu. Manusia dilatih untuk jujur pada diri sendiri,” ujarnya.

Kedua, roh sabar. Puasa Ramadhan menjadi cermin diri untuk tidak pongah pada kekuatan yang kita miliki, sekaligus tidak rendah diri dengan keterbatasan. “Puasa menjadikan tonggak untuk memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat),” ujarnya, sambil mengutip al-Baqarah 2:135

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Ketiga, roh filantropi. Puasa Ramadhan mengajarkan kepekaan sosial. Melalui lapar dan dahaga mendatangkan kepedulian kepada fakir miskin yang hidup serba kekurangan, dan kelaparan.

“Hal ini sejalan yang disampaikan KH Ahmad Dahlan yang merujuk surat Al Ashr ‘Taawanu alal birri wa taqwa wala taawanu alas ismi wal udwan‘,” urainya.

Menghidupkan Muhammadiyah

Wakil Ketua Kwarwil Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Jawa Timur itu juga mengajak jamaah berdakwah dengan makruf. Mengajak keluarga dan lingkungan kita untuk ber-fastabiqul khairat.

“Lembaga pendidikan kita, mushala dan masjid kita. Mari kita isi, mari kita makmurkan. Mari kita buat kegiatan yang menggembirakan,” pesanya

“Ayo bantu perekonomian sesama warga Muhammadiyah. Belilah hasil panennya. Belillah dagangannya,” lanjutnya.

“Ayo bantu lapangan kerja bagi anak-anak Muhammadiyah yang sedang membutuhkan pekerjaan. Ayo bersama sama menciptakan lapangan kerja. Prioritaskan kader dan aktifis Muhammadiyah dalam lapangan usahanya,” ajak dia.

“Mari kita bina bersama-sama dan hidupkan angkatan muda Muhammadiyah Bulutengger, Miru, dan Latek. Ada IPM, ada Tapak Suci, ada Pemuda Muhammadiyah, ada Nasyiatul Aisyiyah dan Aisyiyah. Kalau kita tidak peduli siapa lagi yang peduli,” kata da.

Fathurrahim Syuhadi juga mengajak para pimpinan kompak dalam menjalankan kehidupan berorganisasi. Sebagai pimpinan mari kita perhatikan para anggota Muhammadiyah ini. “Mari kita jaga ukhuwah. Mari kita gelorakan syiar dakwah dan perkaderan,” akaknya.

“Para anggota Muhammadiyah, mari menjadi anggota yang baik. Taati qaidah dan keputusan organisasi. Jalankan perintah pimpinan,” dia melanjutkan pesan.

“Mari kita biasakan perkaderan sejak dini di keluarga kita masing masing dengan cara melibatkan putra putri kita. Membiasakan mengajak putra putri ke mushala atau masjid. Kita membiasakan mengajak anak anak kita ke majelis ilmu. Menjadikan anak anak kita, menjadi kader ngintil yang kelak menjadi penerus Muhammadiyah,” kata dia.

Sebagai warga Muhammadiyah, ujarnya, harus mempunyai kepedulian terhadap nasib bangsa ini. “Begitu juga dengan permasalahan umat Islam dunia yang terus mendapat tekanan berat oleh para rezim yang sedang berkuasa. Apa yang terjadi di Palestina kita harus peduli?” (*)

Penulis M Faried AchIyani Editor Mohamamd Nurfaoni

This post was published on Jumat 14 Mei 2021 | 05:38 05:38

Related Post
Leave a Comment