Kita Butuh Pemimpin Shaleh yang Kuat

Kita Butuh Pemimpin Shaleh yang Kuat (Ilustrasi freepik.com)

Kita Butuh Pemimpin Shaleh yang Kuat ditulis oleh Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo.

PWMU.CO – Kajian Kita Butuh Pemimpin Shaleh yang Kuat ini berangkat dari hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Majah.

عَنِ الْمُنْذِرِ بْنِ جَرِيرٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ قَوْمٍ يَعْمَلُونَ بِالْمَعَاصِي وَفِيهِمْ رَجُلٌ أَعَزُّ مِنْهُمْ وَأَمْنَعُ لَا يُغَيِّرُونَ إِلَّا عَمَّهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعِقَابٍ أَوْ قَالَ أَصَابَهُمْ الْعِقَابُ. رواه أحمد و ابن ماجه

Dari Al Mundzir bin Jarir dari bapaknya ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah suatu kaum berbuat maksiat, sementara di tengah-tengah mereka ada seorang laki-laki yang lebih kuat dari mereka dan lebih disegani, namun orang yang kuat dan disegani itu tidak mau mengubah kemaksiatan orang-orang, kecuali Allah akan meratakan siksa-Nya kepada mereka semua.” Atau beliau berkata: “(Maka Allah) akan menimpakan siksa-Nya kepada mereka.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Mencari Akar Permasalahan

Amar makruf atau memerintahkan kepada kebaikan dan nahi mungkar atau mencegah kemungkaran merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat dielakkan. Karena amar makruf berarti menyelamatkan kehidupan ini dari berbagai bahaya dan bencana, demikian pula dengan nahi munkar mencegah terjadinya mara bahaya dalam kehidupan ini.

Jika keduanya tidak dijalankan akan berakibat tidak teraturnya sistem kehidupan ini. Dan akibat selanjutnya tiada ketenteraman dalam kehidupan. Padahal ketenteraman merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh setiap insan dan juga masyarakat.

Tentu dalam menjalankannya tidak serta merta begitu saja. Artinya tidak kemudian selalu dengan kekerasan dalam bernahi mungkar, atau sekedar nasihat-nasihat saja ketika beramar makruf tanpa adanya upaya untuk mencari akar permasalahannya, yaitu mengapa kemungkaran itu terjadi? Hal ini menjadi hal yang prinsip dan terpenting dari program amar makruf nahi mungkar ini.

Karena kondisi saat ini sangat jauh berbeda dengan generasi terdahulu, lebih khusus di masa Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam yaitu kaum Muslimin langsung berhadapan dengan kaum kafir dan musyrik, sehingga penyelesaiannya adalah perang dan perang untuk mempertahankan akidahnya. Sedang kondisi saat ini tidak lagi seperti dahulu di mana umat Islam sendiri yang seringkali banyak yang belum paham dengan Islamnya, sehingga dibutuhkan upaya khusus agar terlaksananya yang makruf dan tercegahnya yang munkar.

Tanggung Jawab Pemimpin pada Umat

Agar terlaksananya yang makruf dengan baik dan sekaligus tercegahnya kemungkaran sangat tergantung pada pemimpin umat ini. Maka dibutuhkan sebuah sistem sehingga semua dapat berjalan dengan benar.

Maka kepemimpinan itu memiliki posisi yang sangat strategis demi kamaslahatan umat. Seolah dalam hal ini baik dan tidaknya umat sangat tergantung dari pola kepemimpinan seorang pemimpin. Itulah sebabnya seorang pemimpin seharusnya seorang yang visioner yakni memiliki visi ke depan yang bercita-cita yang mulia dan dengan ide-idenya yang brilian demi kamasalahatan umat yang lebih baik.

Tetapi ada pula teori bahwa lahirnya seorang pemimpin sangat tergantung pada masyarakatnya. Jika masyarakat baik maka akan melahirkan pemimpin yang baik. Sebaliknya jika masyarakat buruk maka yang aka ada adalah pemimpin yang buruk pula.

Dua hal ini memang sangat berkaitan, sehingga bagaimana yang makruf ini dapat mendominasi yang mungkar maka diperlukan adanya amar Makmur nahi mungkar. Tanpa aktivitas ini, yang mungkar itu lebih cepat mempengaruhi masyarakat.

Orang Shalih Wajib Tampil

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih akan menjadikan khalifah atau pemimpin di muka bumi.

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيۡ‍ءًاۚ وَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.

Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (an-Nur; 55)

Tentu dalam hal ini orang yang beriman dan selalu beramal shaleh itu telah memiliki kapasitas atau kompetensi dalam kepemimpinannya, di samping integritas pribadinya yang memang sudah teruji. Sehingga bukan hanya mumpuni dalam hal pemahaman agama saja akan tetapi juga memiliki kapasitas dalam ilmu kepemimpinan atau leadership skill.

Tanpa kemampuan leadership skill yang akan terjadi adalah justru ia akan dikendalikan oleh orang lain, karena ia tidak memiliki prinsip dan strategi dalam rangka menjalankan kepemimpinannya untuk kemaslahatan umat malah sebaliknya, hanya berkutat pada kepentingan pribadi dan kroni-kroninya saja.

Dan jika ia hanya memiliki kapasitas atau kompetensi kepemimpinan tetapi tidak memiliki pemahaman terhadap agamanya dengan baik, maka yang terjadi ia tidak akan memiliki sudut pandang kepentingan agama dalam aktivitasnya bisa jadi malah sebaliknya.

Sebagai contoh adalah sahabat Nabi yang bernama Abu Dzar al-Ghiffari. Dia pada suatu kesempatan meminta jabatan kepada Rasulullah, akan tetapi beliau malah menasihati Abu Dzar.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنِّي أَرَاكَ ضَعِيفًا وَإِنِّي أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِي لَا تَأَمَّرَنَّ عَلَى اثْنَيْنِ وَلَا تَوَلَّيَنَّ مَالَ يَتِيمٍ. رواه مسلم

Dari Abu Dzar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abu Dzar, sungguh saya melihatmu sangat lemah, dan saya menginginkan untukmu seperti yang saya inginkan untuk kamu. Jangan kamu menjadi pemimpin di antara dua orang dan jangan kami menguasai harta anak yatim.” (HR Muslim). (*)

Editor Mohammad Nurfatoni

Artikel Kita Butuh Pemimpin Shaleh yang Kuat ini adalah versi online Buletin Jumat Hanif Edisi 34 Tahun XXV, 28 Mei 2021/16 Syawal 1442.

Hanif versi cetak sejak 17 April 2020 tidak terbit karena pandemi Covid-19 masih membahayakan mobilitas fisik.

Related Post
Leave a Comment

This website uses cookies.