Telaga Rasulullah di Padang Mahsyar

Telaga Rasulullah di Padang Mahsyar (Ilustrasi freepik.com)

Telaga Rasulullah di Padang Mahsyar ditulis oleh Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo.

PWMU.CO – Telaga Rasulullah di Padang Mahsyar ini berangkat dari hadits riwayat Bukhari dan Muslim.

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ , وَزَوَايَاهُ سَوَاءٌ , وَمَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ الْوَرِقِ , وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ , كِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ , فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ لا يَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدًا” .

Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash berkata: Rasulullah bersabda: Telagaku seluas perjalanan sebulan, sudut-sudutnya sama, airnya lebih putih dari kertas putih, dan baunya lebih harum dari minyak misk, ceret-ceretnya seperti bintang-bintang di langit, barang siapan yang meminumnya maka ia tidak akan haus selamanya.

Telaga Rasulullah

Al-haudl bermakna telaga atau danau. Di saat terik matahari yang sangat panas di Padang Mahsyar, sehingga manusia berkeringat dengan derasnya, betapa hausnya manusia. Semua akan merasa keringnya kerongkongannya saking panasnya pada saat itu.

Harapannya adalah ia dapat minum walaupun hanya seteguk. Ketika di dunia ini saat kita kehausan maka segera kita akan dapat memilih minumanan yang segar dan dingin dengan aneka rasa aroma. Tetapi di saat itu tiada lagi minuman-minuman yang akan didapatkannya.

Allah Subhanahu wa Taala membentangkan telaga untuk para rasul yang diperuntukkan bagi umatnya masing-masing. Sebagaimana dalam riwayat lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi Rasulullah bersabda: “Sungguh bagi setiap nabi itu ada telaga, dan semua berlomba untuk siapa yang lebih banyak minum dari telaga tersebut. Maka aku berharap akulah yang paling banyak dari umatku yang dapat meminumnya.”

Telaga Rasulullah adalah seluas perjalanan satu bulan, luas sekali. Dalam hadits lain ada beberapa keterangan yaitu di antaranya seperti antara Ailah (Syam) sampai ‘Adn, antara Madinah dan Shana’a, antara Kakbah dan Baitul Maqdis dan lainnya.

Telaga Rasulullah airnya lebih putih dari kertas putih, dalam riwayat lain disebutkan airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu. Dan aromanya atau baunya lebih harum dari minyak misik atau kadang juga disebut minyak kasturi.

Di tepi telaga disediakan alat minum yang jumlahnya banyak sekali seperti halnya bintang di langit yang berkilauan dan bertebaran. Sehingga tidak perlu berebut sampai terinjak antara satu dengan lainnya.

Maka barang siapa yang dapat meminumnya, maka ia tidak akan haus selamanya. Inilah minuman yang sangat segar bagi peminumnya dan tidak akan haus lagi. Maka kita berharap mudah-mudahan kita termasuk di dalamnya. Allahummaj’alna minhum. Amin

Umat Nabi yang Terhalau Menuju Telaganya

Masa itu adalah penantian yang sangat panjang. Mulai dari masa penantian sebelum kita di-hisab atau diperhitungakan amal, masa penantian mizan atau ditimbang amal baik dan buruk kita, masa penantian saat kita menerima buku raport kehidupan kita apakah menerima dari kanan atau kiri atau bahkan dilemparkan dari belakang. Sampai pada masa kegelapan yaitu jalan menuju shirath.

Dalam tiwayat yang lain dijelaskan ada diantara umat Rasulullah yang dihalang-halangi untuk meminumnya, padahal Rasulullah juga mengenal dari tanda-tenda mereka, akan tetapi tetap saja dihalau.

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنِّي فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ مَنْ مَرَّ عَلَيَّ شَرِبَ ، وَمَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا ، لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي ، ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ ، فَأَقُولُ : إِنَّهُمْ مِنِّي ، فَيُقَالُ : إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ ، فَأَقُولُ : سُحْقًا ، سُحْقًا ، لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي .رواه البخاري و مسلم.

Dari Sahl bin Sa’d berkata: Rasulullah bersabda: ”Aku menunggu kalian di telaga. Siapa yang menuju kepadaku akan minum, dan siapa yang minum niscaya tidak akan haus selamanya. Sungguh akan ada beberapa kaum yang mendatangiku dan aku mengenalnya dan mereka juga mengenaliku, kemudian antara aku dan mereka dihalangi.

Akupun mengatakan, ’Mereka umatku.’ Kemudian disampaikan kepadaku, ”Kamu tidak tahu, perbuatan Ahdats (yang baru) apa yang mereka lakukan setelahmu.” Lalu aku berkomentar, ”Celaka.. celaka orang yang mengubah agama sepeninggalku.” (HR Bukhari dan Muslim)

Penyesalan Orang yang Durhaka

فَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ فَيَقُولُ هَآؤُمُ ٱقۡرَءُواْ كِتَٰبِيَهۡ إِنِّي ظَنَنتُ أَنِّي مُلَٰقٍ حِسَابِيَهۡ فَهُوَ فِي عِيشَةٖ رَّاضِيَةٖ فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٖ قُطُوفُهَا دَانِيَةٞ كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ هَنِيٓئًا بِمَآ أَسۡلَفۡتُمۡ فِي ٱلۡأَيَّامِ ٱلۡخَالِيَةِ وَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِشِمَالِهِۦ فَيَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي لَمۡ أُوتَ كِتَٰبِيَهۡ وَلَمۡ أَدۡرِ مَا حِسَابِيَهۡ يَٰلَيۡتَهَا كَانَتِ ٱلۡقَاضِيَةَ مَآ أَغۡنَىٰ عَنِّي مَالِيَهۡۜ هَلَكَ عَنِّي سُلۡطَٰنِيَهۡ خُذُوهُ فَغُلُّوهُ ثُمَّ ٱلۡجَحِيمَ صَلُّوهُ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ

Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: “Ambillah, bacalah kitabku (ini).” Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam syurga yang tinggi, buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan):

“Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.

Telah hilang kekuasaanku daripadaku.” (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. (Al-Haaqah; 19-32)

Orang-Orang Munafik Minta Cahaya Orang Mukmin

يَوۡمَ تَرَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَسۡعَىٰ نُورُهُم بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَبِأَيۡمَٰنِهِمۖ بُشۡرَىٰكُمُ ٱلۡيَوۡمَ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ يَوۡمَ يَقُولُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتُ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱنظُرُونَا نَقۡتَبِسۡ مِن نُّورِكُمۡ قِيلَ ٱرۡجِعُواْ وَرَآءَكُمۡ فَٱلۡتَمِسُواْ نُورٗاۖ فَضُرِبَ بَيۡنَهُم بِسُورٖ لَّهُۥ بَابُۢ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحۡمَةُ وَظَٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلۡعَذَابُ يُنَادُونَهُمۡ أَلَمۡ نَكُن مَّعَكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمۡ فَتَنتُمۡ أَنفُسَكُمۡ وَتَرَبَّصۡتُمۡ وَٱرۡتَبۡتُمۡ وَغَرَّتۡكُمُ ٱلۡأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَآءَ أَمۡرُ ٱللَّهِ وَغَرَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ

(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.”

Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu.” Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).” Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?”

Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu- ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu. (Al Hadid: 12-14). (*)

Editor Mohammad Nurfatoni

Artikel Telaga Rasulullah di Padang Mahsyar ini adalah versi online Buletin Jumat Hanif Edisi 35 Tahun XXV, 4 Juni 2021/23 Syawal 1442.

Hanif versi cetak sejak 17 April 2020 tidak terbit karena pandemi Covid-19 masih membahayakan mobilitas fisik.

Related Post
Leave a Comment

This website uses cookies.