Shirath, Titian ke Surga yang Tajam bagai Pedang

Shirath, Titian ke Surga yang Tajam bagai Pedang (Ilustrasi Google.com)

Shirath, Titian ke Surga yang Tajam bagai Pedang oleh Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo.

PWMU.CO – Kajian Shirath, Titian ke Surga yang Tajam bagai Pedang ini berangkat dari hadits riwayat al-Hakim dan Baihaqi sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ ، يقول النبي صلى الله عليه وسلم: ” يَجْمَعُ اللَّهُ النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ… الى ان قال: قال: فيمر ويمرون على الصراط، والصراط كحد السيف دحض مزلة، ويقال لهم: امضوا على قدر نوركم، فمنهم من يمر كانقضاض الكوكب، ومنهم من يمر كالطرف، ومنهم من يمر كالريح، ومنهم من يمر كشد الرجل، يرمل رملاً على قدر أعمالهم، حتى يمر الذي نوره على إبهام قدمه، تخر يد وتعلق يد وتخر رجل وتعلق رجل، وتصيب جوانبه النار، فيخلصون، فإذا خلصوا قالوا: الحمد لله الذي نجانا منك، بعد أن أراناك، لقد أعطانا ما لم يعط أحد.هـ. ،… رواه الحكيم و البيهقى

Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah bersabda: “Allah Subhanahu wa Taala mengumpulkan manusia pada hari kiamat. Lalu ia dan mereka semua melewati shirath, dan shirath itu bagai pedang yang tajam dan sangat licin.

Kepada mereka dikatakan: “Pergilah kalian dengan kadar cahaya kalian. Di antara mereka ada yang terbang laksana bintang yang menukik, di antara mereka ada yang berlalu seperti sekejap mata, ada yang melayang bagaikan angin, ada yang seperti jalan cepat.

Setiap orang akan berjalan sesuai kadar amalnya. Sehingga berjalanlah orang yang cahayanya sebesar ibu jari kakinya, tangannya yang satu lepas yang satu berpegangan, kakinya yang satu melangkah yang satu berpijak, api menyambar di kanan-kirinya, mereka semua diselamatkan, ketika mereka selamat mereka berucap:

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami darimu (neraka) setelah kami diperlihatkanmu, sungguh kami telah diberikan yang tidak diberikan kepada siapapun …” (HR al-Hakim dan Baihaqi)

.Makna Shirath

Shirath didefinisikan dengan huwa aththariiqu ‘alaa dhahri jahannama yamurru ‘alaihi annaasu yaum al-qiyaamah litahdidi mashirihim. Yaitu titian di atas punggung neraka jahanam yang semua manusia (beriman) akan melintasinya pada Hari Kiamat, sebagai penentuan akhir mereka (surga atau nereka). Begitulah ketetapan Allah bagi kehidupan umat manusia ini.

Tergantung Kadar Amal Masing-Masing

Hampir semua mukmin akan melewatinya dengan sangat takut dan gemetar karena sangat ngerinya. Tetapi jalan satu-satunya menuju surga hanyalah shirath ini. Semua akan melaluinya dengan keadaan sesuai kadar amalnya masing-masing.

Semakin bertakwa maka akan semakin cepat melaluinya. Dan sebaliknya semakin banyak dosa maka akan semakin susah untuk melaluinya. Bagi mereka yang kafir dan musyrik tidak akan melaluinya kecuali hanya akan dimasukkan ke dalam nereka. Maka betapa mahalnya harga iman ini yang tidak tertukar dengan sebanyak harta duniapun.

Begitulah cahaya yang telah diberikan oleh Allah kepada orang-orang beriman akan semakin disempurnakan sesuai dengan doa yang dipanjatkan:

…يَوۡمَ لَا يُخۡزِي ٱللَّهُ ٱلنَّبِيَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥۖ نُورُهُمۡ يَسۡعَىٰ بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَبِأَيۡمَٰنِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٨

“… Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (at-Tahrim 8)

Dengan modal cahaya inilah orang yang beriman dapat melewati shirat dengan selamat walaupun ada yang dengan berjalan tertatih.

Dalam keadaan demikian dalam riwayat yang lain, para nabi berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala: Rabbii sallim sallim. Ya Allah selamatkan! Selamatkan! Begitulah keadaan dalam melalui shirath.

Kondisi Shirath

Sedangkan kondisi shirath sebagaimana hadits di atas bagai pedang yang sangat tajam dan juga sangat licin. Ada keterangan lain lebih halus dari rambut. Semua itu menggambarkan betapa shirath merupakan titian di atas nereka yang kita wajib mengimaninya sebagai wujud keimanan kepada Hari Akhir atau Hari Kiamat.

Dengan segala pemberitahuan dari banyak riwayat tentang rentetan peristiwa Hari Kiamat ini menjadikan kekuatan kita sebagai mukmin untuk tetap istiqamah di jalan Allah Subhanahu wa Taala. Sebagaimana doa yang selalu kita panjatkan pada saat shalat dalam surah al Fatihah:

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (al-fatihah 6–7)

Ya Allah hidayailah kami pada jalan yang lurus. Dalam hal ini kita memhonon kepada Allah untuk jangan sampai setiap gerak tubuh kita ini tanpa bimbingan Allah. Setiap kedipan mata, langkahnya kaki, prespektif berfikir, terbersitnya hati semua adalah dalam bimbingan-Nya.

Itulah jalan yang membahagiakan bagi setiap yang melaluinya. Dan bukan jalan yang dimurkai, yang pasti tidak akan ada ketentraman dalam jiwa bagi yang melaluinya. Juga bukan jalan orang-orang yang tidak tahu jalan atau tersesat yang pasti tidak akan pernah sampai pada tujuan keselamatan, sekalipun telah berbuat baik sebanyak-banyaknya.

Jalan itulah jalannya para kekasih Allah (aulyiaa Allah) Subhanahu wa Taala.

أَلَآ إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ٦٢ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ ٦٣

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus 62–63)

Rabbij‘alnaa minhum, amin. Ya Allah jadikanlah kami termasuk mereka (orang-orang yang bertakwa). Yaitu orang-orang yang beriman dan dengan imannya itu ia berjuang untuk mencapai derajat takwa. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni

Artikel Shirath, Titian ke Surga yang Tajam dan Licin bagai Pedang ini adalah versi online Buletin Jumat Hanif Edisi 39 Tahun XXV, 2 Juli 2021/21 Dzulqaidah 1442.

Hanif versi cetak sejak 17 April 2020 tidak terbit karena pandemi Covid-19 masih membahayakan mobilitas fisik.

Related Post
Leave a Comment

This website uses cookies.