Ujian Covid-19, Mari Ambil Hikmahnya

Ujian Covid-19, Mari Ambil Hikmahnya (Ilustrasi)

Ujian Covid-19, Mari Ambil Hikmahnya oleh Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo.

PWMU.CO – Kajian Shirath, Titian ke Surga yang Tajam bagai Pedang ini berangkat dari hadits riwayat Bukhari sebagai berikut:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أَعْرَابِيٍّ يَعُودُهُ قَالَ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ عَلَى مَرِيضٍ يَعُودُهُ قَالَ لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ فَقَالَ لَهُ لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ قَالَ قُلْتُ طَهُورٌ كَلَّا بَلْ هِيَ حُمَّى تَفُورُ أَوْ تَثُورُ عَلَى شَيْخٍ كَبِيرٍ تُزِيرُهُ الْقُبُورَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَعَمْ إِذًا

Dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang menjenguk seorang Arab Baduy yang sedang sakit.

Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; “Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila datang menjenguk orang sakit, beliau bersabda: “La ba’sa thahur insyaallah” (Tidak apa, semoga menjadi penghapus dosa, jika Allah menghendakinya).

Maka beliau berkata kepada orang Arab Baduy tersebut: “Laa ba’sa thahur insyaa Allah” (Tidak apa, semoga menjadi penghapus, jika Allah menghendakinya).

Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuna berkata: “Baginda katakan sakitnya penghapus dosa, justru sekarang dia sedang demam yang menimpa orangtua lemah tanpa daya yang segera masuk ke dalam kubur.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Kalau begitu, benar apa yang kamu katakan (akan terjadi)” (HR Bukhari)

La Baksa Thahurun

La ba’sa thahur, la merupakan la nafi yang artinya meniadakan, sebagaimana dalam kalimat lainnya misal: la raiba fiih yakni tidak keraguan di dalamnya, atau kalimat tauhid la ilaaha illallah yakni tiada ilah kecuali hanya Allah. Sehingga la ba’sa bermakna tidak apa-apa ditimpa sakit, mudah-mudahn dengan sakitnya itu sebagai thahur atau penyuci jiwa dan juga penghapus dosa.

Sakit merupakan ujian dari Allah, termasuk jika terkena wabah Covid-19 yang sedang melanda ini. Ikhtiar dan upaya untuk selamat dari wabah merupakan kewajiban yang harus tetap dilakukan, akan tetapi takdir Allah pasti tetap akan terjadi. Sehingga upaya atau ikhtiar itu merupakan bagian dari upaya menghindar dari takdir buruk ke takdir yang lebih baik. Ending dari takdir yang diterjadi itulah yang harus diterima dengan penuh ridla kepada Allah Subhanahu wa Taala.

Dalam kaidah ushul disebutkan:

درء المفاسد مقدم علي جلب المصالح

Menolak sesuatu yang mendatangkan kerusakan itu lebih diprioritaskan atas sesuatu yang mendatangkan manfaat.
Sehingga berbagai upaya maksimal itu haruslah dilakukan sekalipun terkadang tidak sesuai dengan kaidah kebenaran baku dengan alasan darurat.

Sebagaimana dalam kaidah ushul lainnya:

الضَّرُوْرَاتُ تُبِيْحُ المحْظُوْرَات

“Keadaan darurat membolehkan suatu yang terlarang.”

Tentu dalam hal ini memiliki persyaratan tingkat kedaruratannya, karena keadaan yang memaksa itu berarti memang jika tidak dilakukan atau ditinggalkan dipastikan akan membahayakan bagi dirinya.

Pertimbangan tingkat kedaruratannya inilah yang kemudian menjadi pertimbangan utamanya, sehingga kemudian apa yang tidak seharusnya itu boleh dilakukannya atau ditinggalkannya.

وَمَا لَكُمۡ أَلَّا تَأۡكُلُواْ مِمَّا ذُكِرَ ٱسۡمُ ٱللَّهِ عَلَيۡهِ وَقَدۡ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيۡكُمۡ إِلَّا مَا ٱضۡطُرِرۡتُمۡ إِلَيۡهِۗ وَإِنَّ كَثِيرٗا لَّيُضِلُّونَ بِأَهۡوَآئِهِم بِغَيۡرِ عِلۡمٍۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُعۡتَدِينَ ١١٩

Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.

Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. (al-An’am: 119)

Ayat di atas menjelaskan terhadap pengecualian dalam keadaan memaksa dan tidak ada jalan lain. Seperti halnya vaksin Covid-19 sekarang ini, jika tidak dilakukan secara massal pertimbangannya akan lebih membahayakan bagi masyarakat yang lebih luas, dan hal ini—menurut pemahaman penulis—telah memenuhi ketentuan sebagaimana ayat di atas.

Tetapi jika ada yang memiliki pertimbangan pribadi belum dalam keadaan yang sangat memaksa atau tingkat kedaruratannya belum terpenuhi maka sah-sah saja menundanya. Hal ini merupakan sikap yang saling menghargai keyakinan yang berbeda.

Ujian Allah

Terjadi wabah merupakan ujian dari Allah. Dalam menempuh ujian ini ada yang berhasil dan ada juga yang gagal. Indicator keberhasilannya adalah ia tetap berupaya menyelesaikan ujiannya dengan baik dengan tetap memperhatikan rambu-rambuNya, menghadapinya dengan sepenuh kekuatan jiwa dan raga dengan landasan keimanan kepada Allah.

Menjaga prokes dalam hal ini merupakan hal yang sangat penting, termasuk menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Sedangkan indikator kegagalan dalam ujian adalah abai dan tidak berupaya maksimal, apalagi disertai dengan sikap tidak sabar dalam menerima ketentuan Allah.

Allah Tidak Zalim

Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti tidak pernah berbuat zalim kepada siapapun, dan manusialah yang zalim kepada dirinya sendiri. Sedangkan kezaliman yang dilakukan antarmanusia, Allah akan membalasnya dengan seadil-adilnya.

Semua hal yang negative yang terjadi pada umat manusia baik secara global atau bersifat pribadi itu disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri.

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٤١

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (ar-Rum: 41)

Sekalipun begitu jika musibah yang telah menimpa itu juga dapat mendatangkan kebaikan bagi yang tertimpa, yaitu khususnya sebagai penebus dosanya dan pembersih jiwanya.

Begitulah kasih sayang Allah atas hambanya, tidak ada keadaan yang tidak dijadikan kebaikan bagi hambaNya, walaupun hal itu akibat kesahalannya sendiri. Maka sudah seyogyanya untuk selalu introspeksi agar dapat mengambil hikmah dari sebuah musibah.

Dan jika itu secara global maka upaya instrospeksi ini juga harus secara bersama-sama, jika perlu harus ada taubat nasional bahkan jika diperlukan dibutuhkan untuk merekonstruksi kebijakan-kebijakan yang justru akan mengundang murka Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Takdir Kepunyaan Allah

Sehebat apapun ikhtiar atau upaya manusia, jangan sampai bersandar kepada seolah kehebatan upaya kita tersebut. Allah mengajarkan kepada kita bahwa bersandar itu hanya kepada-Nya, yakni yang memiliki kekuasaan dan menentukan nasib manusia itu hanyalah Allah Subhanahu wa Taala.

Keyakinan ini sangat penting agar kita tidak terjebak pada perbuatan kesyirikan. Jadi bukan dokter atau obat yang dapat menyembuhkan ketika kita sakit, tetapi Allah yang meneyembuhkan.

Dokter dan obat, juga vaksin, hanyalah sebagai upaya saja yang tidak menjadi penentu kesembuhan itu sendiri. Tetapi sekali lagi upaya berobat itu sebuah keharusan sebagai ikhtiar, tetapi keyakinan kita harus tetap bersih dari nilai kesyirikan.

وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ ٨٠

Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, (asy-Syu’ara; 80)

وَمَا كَانَ لِنَفۡسٍ أَن تَمُوتَ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِ كِتَٰبٗا مُّؤَجَّلٗاۗ وَمَن يُرِدۡ ثَوَابَ ٱلدُّنۡيَا نُؤۡتِهِۦ مِنۡهَا وَمَن يُرِدۡ ثَوَابَ ٱلۡأٓخِرَةِ نُؤۡتِهِۦ مِنۡهَاۚ وَسَنَجۡزِي ٱلشَّٰكِرِينَ ١٤٥

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Ali Imran; 145)

Sikap tawakal kepada Allah adalah daya imun yang paling kuat dan hebat, karena senantiasa bersandar kepada Allah atas semua yang sedang menimpanya. Dan semua yang disandarkan menjadikan beban itu terasa ringan bahkan nyaris tidak ada beban sama sekali.

Maka meningkatkan kualitas spritualitas menjadi aktivitas yang harus ditingkatkan. Semoga wabah ini segera berlalu dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Taala. Amin. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni

Artikel ini adalah versi online Buletin Jumat Hanif Edisi 39 Tahun XXV, 9 Juli 2021/28 Dzulqaidah 1442.

Hanif versi cetak sejak 17 April 2020 tidak terbit karena pandemi Covid-19 masih membahayakan mobilitas fisik.

This post was published on Jumat 9 Juli 2021 | 10:55 10:55

Related Post
Leave a Comment