Ciri-Ciri Orang Bertakwa, Khutbah Jumat Singkat

Ciri-Ciri Orang Bertakwa, Khutbah Jumat Singkat (Ilustrasi freepik.com)

Ciri-Ciri Orang Bertakwa, Khutbah Jumat Singkat oleh Fimas Maulana Al-Jufri SPsi MPd, Anggota Majelis Tabligh PWM Jatim.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ ِباللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛

Jamaah Jumah Rahimakumullah

Marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah SWT seraya memanjat puji dan syukur kepada-Nya atas semua kenikmatan, kesehatan, dan kemudahan yang telah Dia limpahkan kepada kita. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Takwa merupakan hal terpenting dalam pencapaian kehidupan seorang hamba. Ketakwaan tak bisa ditempuh dari bangku kuliah manapun. Ketakwaan tak bisa dicapai dengan kursus atau training manapun.

Karena sejatinya takwa merupakan anugerah yang Allah SWT sematkan dalam sanubari hamba-Nya yang memiliki dampak luar biasa dalam kehidupan hamba-Nya. Seseorang yang tingkat takwanya tinggi pasti apa yang keluar dari lisan, tingkah laku, dan perbuatannya selalu kebaikan dan kemanfaatan bagi sekitarnya.

Terlebih di kondisi pandemi Covid-19 seperti ini. Hanya orang-orang yang memiliki ketakwaan kepada Allah SWT yang akan mampu dengan tenang dan mantap melewati kondisi pandemi ini dengan baik.

Allah SWT menegaskan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚإِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚإِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (al-Hujurat 13)

Di ayat yang lainnya Allah SWT juga berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Artinya: Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. (al-Baqarah 197)

Prof Dr Yunahar Ilyas, menjelaskan bila ajaran Islam dibagi menjadi Iman, Islam dan Ihsan, maka pada hakikatnya takwa adalah integralisasi ketiga dimensi tersebut.



Di dalam al-Quran Allah menyebutkan perihal takwa terulang sebanyak 259 kali dengan makna yang cukup beragam. Di antaranya memelihara, menghindari, menjauhi, menutupi, dan menyembunyikan.

Di bagian lain Allah menggambarkan secara jelas dalam surat Ali Imran ayat 133-135;

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

 الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

 وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Artinya: Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.

Yaitu orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang lain.  Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosanya selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.

Ciri-Ciri Orang Bertakwa

Orang yang Berinfak di Waktu Lapang dan Sempit

Seseorang yang memiliki ketakwaan harus sadar bahwa semuanya yang ada pada kita, termasuk harta kekayaan itu, adalah titipan Allah SWT sebagai pemilik mutlak.

Karenanya, perintah membelanjakan harta, baik di masa lapang, apalagi masa sempit, adalah perintah yang harus kita laksanakan sebagai titipan Allah untuk mereka yang berhak menerimanya.

Di sinilah kedermawaan seseorang akan menampilkan sosok pribadi yang peduli terhadap sesama, sekaligus mewujudkan kesalihan sosial melalui perwujudan apa yang telah diamanatkan Allah padanya. Sungguh ini merupakan satu kemuliaan bagi kita karena telah membagi kebaikan terhadap sesama di saat banyak orang melupakannya.

Orang yang Mampu Menahan Amarah

Marah merupakan fitrah yang melekat di dalam diri manusia. Tak bisa dipungkiri setiap insan pasti merasakan kondisi seperti ini. Namun manusia yang bertakwa kepada Allah, ia mampu dan selalu dapat menahan atau mengkontrol marah dan emosi negatif yang muncul dalam dirinya.

Menahan amarah merupakan sifat manusia mutakin yang mempunyai dampak positif yang luar biasa dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, dan berbangsa. Dampak positifnya adalah memberikan keamanan, kenyamanan. bahkan juga keselamatan bagi sesama. Agar dapat menjalankan fungsi hidup sebagaimana mestinya dalam artian berbuat kebajikan terhadap sesama, saling menolong, dan saling melindungi rasa kemanusiaan yang mereka terzalimi.

Di era zaman digital seperti sekarang ini pun bisa kita lihat di media sosial seseorang yang melampiaskan kemarahannya yang berujung pada penyesalan dan pidana. Betapa banyak pula orang yang tak mampu menahan marahnya sehingga berujung pada penyesalan dan kesedihan yang mendalam.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dalam kondisi marah seperti apa pun, ucapan yang muncul dari lisannya adalah ucapan yang menyejukkan, perbuatan yang muncul dari tingkah lakunya merupakan sebuah teladan kebaikan yang menentramkan dan menenangkan jiwa di sekitarnya, meskipun ia sendiri dalam kondisi marah.

Memaafkan Kesalahan Orang Lain

Dalam interaksi dengan orang lain mungkin kita pernah merasa kecewa. Kita pun mungkin pernah merasakan sakit hati. Namun sebagai hamba yang bertakwa kepada Allah tentunya kita mendambakan kesetiakawanan di antara sesama kita.

Artinya ada persahabatan dan kebersamaan sejati yang terus kita pupuk didalam pergaulan agar tercipta kedamaian bersama, maka sifat saling memaafkan di antara kita merupakan satu diantara persoalan yang teramat penting untuk mendapatkan perdamaian tersebut.

Memaafkan merupakan hal yang sangat luar biasa dampak secara psikologis. Banyak terapi osikologi atau psikoterapi yang melibatkan maaf ini sebagai bentuk treatment-nya untuk membantu memulihkan kondisi psikologis seseorang yang dikenal dengan forgiveness therapy.

Dengan memaafkan memang tidak mengubah apapun di masa lalu. Namun dengan memaafkan akan menenangkan hari ini dan memperindah hari esok. Dalam tahapan proses self healing memaafkan juga di gunakan sebagai langkah atau tahapan self healing.

Beberapa ahli psikologi seperti Worthington dan Wade dalam Journal of Counseling and Development, menjelaskan secara kesehatan memaafkan memberikan keuntungan psikologis. Dan memaafkan merupakan terapi yang efektif dalam intervensi yang membebaskan seseorang dari kemarahannya dan rasa bersalah. Selain itu, memaafkan dapat mengurangi marah, depresi, cemas dan membantu dalam penyesuaian perkawinan.

Allah Swt berfirman dalam Surat al-Hijr ayat 85 yang artinya: Dan tidaklah kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan, sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang. Maka, maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.”

Bersegera Mengingat Allah dan Memohon Ampun

Sebagai hamba yang lemah tentu kita tak luput dari kesalahan, dosa, dan kemaksiatan. Tentu saja jika kita bertakwa kepada Allah SWT sekecil apa pun kemaksiatan yang dilakukan kita akan segera tersadar dan memohon ampun kepada Allah SWT.

Sikap ini mengajarkan pada kita bahwa Allah SWT telah menempatkan Zat-Nya sebagai Maha Pengampun dan mengampuni segala dosa dan kesalahan para hambanya. Sehingga keberadaan kita sebagai hamba-hamba-Nya diminta untuk bersegera memohon ampun kepada-Nya, dan jangan pernah menunda apalagi mengabaikannya.

Karena apa yang terjadi satu detik, satu menit, satu jam, satu hari, satu pekan, satu bulan dan satu tahun yang akan datang tidak ada satupun diantara manusia yang mengetahuinya.

Semoga keempat perilaku atau sifat hamba Allah SWT yang bertakwa mampu kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena sesungguhnya orang yang bertakwa pasti akan tercermin dalam perilakunya, lisannya, dan perbuatannya.

Khutbah Kedua

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولاه. أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله. معاشر المسلمين رحمكم الله أوصيكم وإياي بتقوى الله فقد فاز المتقون

قال الله تعالى فى القرآن الكريم, أعوذ بالله من الشيطان الرجيم, إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا. اللهم صل على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات وقضي الحجات. لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرٗا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَآۚ أَنتَ مَوۡلَىٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ. رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ. لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ. رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا. عباد الله, إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ. ولَذِكْرُ اللَّهِ أكبر! أَقِمِ الصلاةَ

Editor Mohammad Nurfatoni, materi khutbah Jumat ini pernah dimuat di majalah Matan.

This post was published on Kamis 26 Agustus 2021 | 14:41 14:41

Related Post
Leave a Comment