Categories: Kolom

Budaya Korupsi dan Korupsi Budaya

Budaya Korupsi dan Korupsi Budaya ditulis oleh Prima Mari Kristanto

Budaya Korupsi dan Korupsi Budaya ditulis oleh Prima Mari Kristanto, akuntan berkantor di Surabaya.

PWMU.COBung Hatta salah seorang pendiri bangsa menyebut korupsi telah menjadi budaya di Indonesia. Bung Hatta bukan hendak mempermalukan bangsanya, melainkan ingin menyentil keras perilaku korupsi sebagian atau banyak oknumpenyelenggara negara.

Bukan asal bicara, Bung Hatta sebagai saksi hidup periode kolonial Belanda, fasisme Jepang, kemerdekaan, Orde Lama hingga Orde Baru pasti punya dasar menyampaikan demikian. Hanya Orde Reformasi yang tidak dia alami setelah wafatnya tahun 1982.

Benarkah korupsi telah menjadi budaya? Bukankah budaya bangsa adalah kekeluargaan, kegotong-royongan, tenggang rasa dan nilai-nilai luhur lain warisan dari leluhur?

Vonis Koruptor Cuma 12 Tahun

Heboh vonis koruptor bantuan sosial yang “cuma” 12 tahun dinilai melukai nurani publik. Sebelumnya vonis seorang jaksa wanita yang juga dinilai terlalu ringan atas keterlibatannya membantu urusan seorang buronan koruptor.

Alasan vonis yang dinilai ringan pada terdakwa korupsi bantuan sosial juga terkesan mengada-ngada, tersangka sudah cukup menderita dihina publik. Apakah artinya publik yang dianggap salah karena menghina terduga pelaku korupsi? Haruskah yang akan datang korupsi dipuja-puji saja, jangan di-bully supaya pelakunya dihukum berat.

Pemberantasan korupsi semakin suram, belum lagi adanya pelemahan KPK dengan pemberhentian beberapa penyidik potensial melalui tes wawasan kebangsaan (TWK), oleh pimpinan KPK dianggap sebagai proses kepegawaian yang wajar.

Beberapa lembaga negara antara lain Komnas HAM, Ombusman, aktivis antikorupsi mulai: ICW, Greenpeace termasuk Majelis Hukum HAM PP Muhammadiyah telah memberi tekanan moral pada pimpinan KPK. Tekanan-tekanan moral yang tidak membuat KPK bergeming dengan memberhentikan penyidik-penyidik potensialnya.

Sungguh aneh bin ajaib setelah Presiden Soeharto dan Gus Dur dahulu diturunkan dengan tuduhan korupsi tetapi korupsi lebih merajalela setelah keduanya lama berpulang.
Ungkapan Bung Hatta sepertinya terbalik, yang terjadi bukan budaya korupsi, tetapi korupsi budaya.

Nilai-nilai luhur budaya bangsa antara lain kekeluargaan, kegotong-royongan, tenggang rasa, hidup sederhana, malu berbuat salah telah dikorupsi oleh budaya materialisme, hedonisme dan sejenisnya yang dalam bahasa agama disebut “wahn” (cinta dunia yang berlebihan).

Dengan demikian korupsi adalah penyakit budaya dan peradaban atau akhlak. Korupsi budaya asli Nusantara dan Indonesia oleh budaya materialisme, hedonisme sejak hadirnya imperialiame dan kolonialisme.

Dalam sejarah imperialisme pernah terjadi kasus korupsi terbesar di dunia yaitu bangkrutnya VOC di penghujung abad ke-18. VOC yang asalnya singkatan dari Verenidge Oost-indiche Compagne selanjutnya dikenal dengan Vergaan Onder Coruptie, bangkrut karena korupsi. Tanpa sadar budaya hedonisme akibat dari imperialisme dan kolonialisme sebagai penyebab tumbuhnya budaya korupsi tidak mudah lenyap dari bumi nusantara.

Modifikasi dan variasi korupsi melahirkan cabang kolusi, manipulasi, nepotisme, pungli, dan lain-lain. Ketika korupsi telah menjadi budaya, pencegahan termasuk pengungkapannya menjadi semakin sulit.

Definisinya semakin rumit jika telah dianggap budaya, korupsi bisa tidak disebut “korupsi—apa pun kata media, aktivis dan tokoh agama—selama yang mulia majelis hakim menyatakan bukan korupsi selesai perkara. Budaya korupsi lahir dari korupsi budaya, hilangnya akhlakul karimah, budaya malu demi kehidupan hedon, wahn, hidup tidak mau diatur-atur agama.

Agama harus hadir, Ketuhanan Yang Maha Esa saatnya dijadikan panglima yang menjiwai Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Urgensi mengembalikan budaya akhlakul karimah warisan leluhur bangsa dari sekedar melestarikan budaya seni tari, wayang, pakaian tradisional dan atribut-atribut luar lainnya. Wallahualam bishawab. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni

This post was published on Kamis 26 Agustus 2021 | 16:10 16:10

Leave a Comment
Share
Published by
M Nurfatoni

Recent Posts

Buya Syafii, Kompas Moral Bangsa Itu Telah Tiada

Buya Ahmad Syafii Maarif (antaranews.com) Buya Syafii, Kompas Moral Bangsa Itu Telah Tiada; Oleh Biyanto Guru Besar…

Jumat 27 Mei 2022 | 21:31

Halal Bihalal PDM Lumajang Jadi Ajang Marketing

Halal bihalal PDM Lumajang jadi ajang marketing. (Kuswantoro/PWMU.CO) PWMU.CO- Halal bihalal PDM (Pimpinan Daerah Muhammadiyah)…

Jumat 27 Mei 2022 | 21:08

Haedar Nashir: Saya Jadi Saksi, Buya Syafii Dipanggil Allah dengan Kesiapan Luar Biasa

Haedar Nashir (kedua dari kiri). Haedar Nashir: Saya Jadi Saksi, Buya Syafii Dipanggil Allah dengan…

Jumat 27 Mei 2022 | 20:47

Hidup Lebih Berkah ala KH Thoha Yusuf Zakariya

KH Thoha Yusuf Zakariya saat mengisi acara kajian Ahad pagi PCM Tulangan (Ahmad Alfarizi/PWMU.CO) Hidup…

Jumat 27 Mei 2022 | 17:46

Buya Syafii Itu seperti Nabi Khidir

Buya Syafii Maarif (kanan) dengan Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy.…

Jumat 27 Mei 2022 | 17:27

Presiden Jokowi Beri Penghormatan Terakhir pada Buya Syafii

Presiden Jokowi Beri Penghormatan Terakhir pada Buya Syafii; Liputan Nely Izzatul, Kontributor PWMU.CO Yogyakarta PWMU.CO -…

Jumat 27 Mei 2022 | 17:15