Orang-Orang yang Membuat Iri para Nabi dan Syuhada

Orang-Orang yang Membuat Iri para Nabi dan Syuhada (Ilustrasi freepik.com)

Orang-Orang yang Membuat Iri para Nabi dan Syuhada di Hari Kiamat, ditulis oleh Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo.

PWMU.CO – Kajian Tiga yang Jadi Penghalang Masuk Surga ini berangkat dari hadits riwayat Abu Dawud sebagai berikut:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ لَأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ تُخْبِرُنَا مَنْ هُمْ قَالَ هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا بِرُوحِ اللَّهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ وَلَا أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا فَوَاللَّهِ إِنَّ وُجُوهَهُمْ لَنُورٌ وَإِنَّهُمْ عَلَى نُورٍ لَا يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ وَلَا يَحْزَنُونَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ وَقَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ: أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ . رواه أبو داود

Bahwa Umar bin Al Khathab berkata, “Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat beberapa manusia yang bukan para nabi dan orang-orang yang mati syahid (syuhada). Para nabi dan orang-orang yang mati syahid merasa iri kepada mereka pada Hari Kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah Ta’ala.” 

Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Anda akan mengabarkan kepada kami siapakah mereka? Beliau bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai dengan ruh dari Allah tanpa ada hubungan kekerabatan di antara mereka, dan tanpa adanya harta yang saling mereka berikan. Demi Allah, sesungguhnya wajah mereka adalah cahaya, dan sesungguhnya mereka berada di atas cahaya, tidak merasa takut ketika orang-orang merasa takut, dan tidak bersedih ketika orang-orang merasa bersedih.” 

Dan beliau membaca ayat ini: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (HR Abu Daud)

Cinta karena Allah

Hadits di atas menjelaskan tentang keutamaan mencintai orang lain karena Allah, karena hal itu akan membuahkan kebahagiaan di dunia sampai akhirat. 

Tentu modal utama dari sikap ini adalah keimanannya kepada Allah dengan iman yang benar, dengan sekaligus mengenal atau telah bermakrifat kepada Allah secara benar. Tanpa memiliki modal keimanan yang benar tidak akan sampai kemampuan atau kapasitas demikian yakni mencintai orang lain karena Allah.

Mereka adalah wali-wali Allah yang memahami dengan benar—dengan pengenalannya yang benar—kepada Allah. Maka hidupnya senantiasa diterjemahkan untuk memberikan kebaikan kepada orang lain, memberikan jaminan keamanan dan ketentraman kepada orang lain dan bukan sebaliknya. Yaitu berusaha mengambil jarak dengan hamba Allah yang lainnya dengan sikap jaimnya dan menjadikan orang lain harus takut kepadanya. Sehingga hal yang seharusnya mudah menjadi dipersulit.

Mereka adalah hamba-hamba Allah yang memiliki inisiatif membantu memecahkan problem atau mencarikan solusi, bukan mereka yang lebih suka tutup mata terhadap kesulitan orang lain, kecuali setelah orang lain itu mengiba kepadanya, barulah ada respon. 


Sikap demikian menunjukkan ia cenderung ingin dijadikan sebagai orang yang dibutuhkan atau orang penting. Padahal menjadi orang penting itu memang baik, akan tetapi lebih penting adalah menjadi orang baik, dan kebaikannya dirasakan tanpa harus meninggalkan jejak tekanan psikologis orang lain. 

Merekalah orang-orang yang hatinya selamat dari kepentingan pribadi kecuali hanya berharap ridha Allah. Segala kebaikan yang diberikan kepada orang lain bukan karena motif interest pribadi, tetapi semata-mata hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Merekalah yang hidupnya selalu konsisten dalam kebahagiaan yang sejati, karena sandaran vertikalnya telah mencapai sandaran yang benar yaitu kepada Allah Subhanhu wa Ta’ala. Sebagaimana Allah berfirman:

أَلَآ إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ   ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ  

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (Yunus 62-63)

Sekelompok Umat atau Kaum


Sebagaimana penjelasan dalam hadits di atas mereka adalah sekelompok umat atau kaum yang saling mencintai karena Allah. Mereka bersekutu dan bersatu saling bersinergi dalam cinta karena Allah, bukan karena kepentingan duniawi yang seringkali menyebabkan terjadinya gesekan kepentingan, atau gesekan pemahaman tentang perspsektif kebenaran. Jika telah demikian pemaksan kehendak dari sebagian menjadi tidak dapat dielakkan lagi.

Mereka selalu hidup berjamaah dalam bingkai mencari ridha Allah. Bahu-membahu dalam rangka saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran dan saling tolong-meolong dalam kebaikan dan menuju takwa. 

Mereka itulah yang membuat iri para nabi dan para syuhada’ pada Hari Kiamat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal sungguh kedudukan para nabi dan para syuhada sangatlah mulia di sisi Allah. 

Para nabi adalah manusia pilihan Allah yang mendapat amanah risalah, tentu ada jaminan keselamatan bagi para nabiyullah alaihimussalam dari Allah. Demikian pula para syuhada, bahkan di antara para syuhada itu dalam hisabnya termasuk bighairi hisab atau tanpa hisab.  

Tetepi begitulah Rasulullah, beliau sangat mencintai umatnya dengan cinta yang sejati. Selalu ada celah untuk membela umatnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka sudah seharusnya umat ini mencintai beliau dengan sungguh-sungguh mencintainya yaitu bukan hanya dengan memperbanyak membaca shalawat untuk beliau, akan tetapi sekaligus siap berjuang membela agama dan sunnah beliau. 

Semoga kita termasuk bagian dari kelompok sebagaimana yang termaktub dalam hadits di atas, atau paling tidak dihari hisab kita termasuk golongan yang hisaban yasira atau hisab yang mudah. Aamiin. 

فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابٗا يَسِيرٗا  

Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah. (al-Insyiqaq 8)

Wallahu a’lam bishshawa (*)

Editor Mohammad Nurfatoni

Artikel Orang-Orang yang Membuat Iri para Nabi dan Syuhada ini adalah versi online Buletin Jumat Hanif Edisi 47 Tahun XXV, 10 September 2021/3 Safar 1443.

Hanif versi cetak sejak 17 April 2020 tidak terbit karena pandemi Covid-19 masih membahayakan mobilitas fisik.

Related Post
Leave a Comment

This website uses cookies.