Orang-Orang yang Diangkat Derajatnya oleh Allah

Orang-Orang yang Diangkat Derajatnya oleh Allah (Ilustrasi freepik.com)

Orang-Orang yang Diangkat Derajatnya oleh Allah oleh Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo

PWMU.CO – Orang-Orang yang Diangkat Derajatnya oleh Allah ini berangkat dari hadits riwayat Bukhari Muslim.

عن عياض بن حمار رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ. رواه مسلم.

Dari ‘Iyadl bin Himar berkata, Rasulullah bersabda: “Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlalu lalim pada yang lain.” (HR Bukhari dan Muslim)

Tawaduk

Tawaduk artinya rendah hati. Yakni sikap dan perbuatan manusia yang menunjukkan adanya kerendahan hati, tidak sombong, dan mudah tersinggung. Dalam hadits di atas Allah mewahyukan berarti Allah memerintahkan agar hamba-hamba Allah itu saling merendahkan diri. 

Manfaat dari sikap saling merendahkan diri ini ada dua yaitu: pertama, agar tidak ada yang membanggakan diri pada yang lain. Kedua, agar tidak ada yang berlaku zalim pada orang lain.

Bangga Diri

Bangga diri dalam bahasa agama disebut i’jabul mar i linafsihi, yakni seseorang yang bangga terhadap dirinya sendiri. Dalam hadits yang lain hal ini termasuk al-muhlikat atau sesuatu yang merusak. Maka dengan saling merendahkan diri, seorang hamba dapat dipastikan tidak terjebak pada prilaku demikian. 

Hal ini merupakan perintah Allah kepada semua hamba-Nya tanpa kecuali sebagaimana keterangan dalam hadits di atas.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kelebihan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya. Dengan demikian karunia Allah itu tidak diberikan secara sama rata bagi hamba. Tentu dalam hal ini yang dimaksud di kehendaki-Nya adalah mereka yang sekaligus diberikan kompetensi dalam bidangnya, sehingga dengan kompetensinya itu ia diberikan kelebihan oleh Allah.  

وَٱللَّهُ فَضَّلَ بَعۡضَكُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ فِي ٱلرِّزۡقِۚ فَمَا ٱلَّذِينَ فُضِّلُواْ بِرَآدِّي رِزۡقِهِمۡ عَلَىٰ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَهُمۡ فِيهِ سَوَآءٌۚ أَفَبِنِعۡمَةِ ٱللَّهِ يَجۡحَدُونَ  


Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah? (an-Nahl/71)

Sehingga kelebihan karunia itu tidak kemudian menjadikan bahwa ia sekaligus termasuk dimuliakan oleh Allah. Akan tetapi justru hal itu merupakan amanah yang dipercayakan sebagai ujian. Jika dapat menunaikan dengan baik maka ia akan selamat, dan jika ia berkhianat makai a akan celaka.

Diangkat Derajatnya oleh Allah

Dengan demikian tidak diperkenankan seorang hamba merasa bangga terhadap diri sendiri. Karena hakikat kelebihan yang ada pada dirinya adalah karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya dengan sikap saling tawaduk penyakit demikian dapat dinetralisasi sedemikian rupa. 

Dan lebih dari itu, hal ini juga karena faktor keimanan yang benar yang menjadikan ia bersikap demikian. Dan bagi orang yang tawaduk karena berharap ridha Allah, akan di angkat derajatnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ. رواه مسلم

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR Muslim)

Hakekatnya rezeki tidak berkurang jika disedekahkan, pemaaf akan selalu dimuliakan dan orang yang tawaduk akan diangkat derajatnya. Tentu bagi mereka yang belum terjiwai keimanan dalam dirinya justru akan memiliki persepsi sebaliknya, banyak sedekah hartanya merasa berkurang dan terkuras, memaafkan menjadikan jatuh harga dirinya sebelum membalas dendam dan bersikap tawaduk dianggapnya melemahkan dirinya sehingga yang dijaga adalah sikap jaim atau jaga image. 

Harga Diri Seorang Mukmin

Seorang mukmin harga dirinya telah diletakkan di bawah nilai kebenaran yang hakiki. Sehingga tidak ada target duniawi dalam setiap sikapnya kecuali hanya dalam rangka mencapai ridha Allah. 

Sehingga seorang Mukmin tidak akan merasa lebih baik dan lebih mulia atau merasa lebih-lebih lainnya dari orang lain. Hanya yang ia rasakan adalah kasih sayang Allah yang tercurah begitu dreas kepadanya, sehingga ia selalu berusaha mensyukurinya yakni menjaga intensitas ketaatan kepadaNya sembari terus memperhatikan dan memprihatinkan akan kualitasnya.

Maka seorang Mukmin akan selalu memiliki bargaining position dalam kehidupannya, yang hanya mengarah pada pengabdian kepada Allah yang akan selalu menjadi idialisme dalam kehidupannya. Segala perilaku yang tidak sesuai idialismenya itu akan selalu diupayakan diubah sedemikian rupa, dan itulah bagian dari dakwah yang diembannya sebagai hamba Allah.

Tentu dalam menyampaikan kebenaran sebagaimana etika yang diajarkan oleh Allah kepada Nabi Musa alaihissalam:

ٱذۡهَبَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلٗا لَّيِّنٗا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوۡ يَخۡشَىٰ 

Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. (Thaha: 43-44)

Para mufasir sepakat bahwa berdakwah dengan kelembutan merupakan etika yang harus dijaga, Nabi Musa alaihissalam saja ketika hendak berdakwah kepada Firaun yang sangat dhalim harus menyampaikan dengan perkataan yang lembut, bagaimana dengan kita yang jauh secara kualitas dari nabi Musa dan yang didakwahi tentu tidak sedhalim Firaun, maka tentu menjaga kelembutan dalam dakwah merupakan etika yang wajib dijaganya. 

Berlaku Zalim

Kezaliman merupakan kegelapan, maka prilaku zalim pasti merugikan, tergantung ke mana arah kezalimannya itu. Jika kepada diri sendiri maka kerugiannya juga pada diri sendiri, dan begitu seterusnya.

Oleh karena itu dengan sikap saling tawaduk, kaum mukminin akan saling dapat menyayangi antara satu dengan lainnya karena Allah. Tawaduk merupakan hiasan indah bagi setiap insan mukmin, sehingga ada saling menjaga kepercayaan antara satu dengan lainnya. 

Tentu tiada manusia yang sempurna, karena setiap hamba pasti diberikan kekurangan dan kelebihannya masing-masing, maka dengan realitas itu bersinergi atau berjamaah merupakan kebutuhan yang tidak dapat dielakkan.

Konsep bersinergi atau berjamaah dalam Islam bukan hanya semata dalam soal shalat fardhu yang lima waktu semata. Akan tetapi di semua lini kehidupan, seharusnya kaum Mukminin juga bersinergi, dan semua itu telah diatur secara sempurna dalam agama ini.

Semoga kita dapat menjalankan sebagaimana hadits nabi di atas yaitu menjadi pribadi-pribadi yang tawaduk karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amin. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni

Orang-Orang yang Diangkat Derajatnya oleh Allah adalah versi online Buletin Jumat Hanif Edisi 3 Tahun XXVI, 19 November 2021/15 Rabiul Akhir 1443.

Hanif versi cetak sejak 17 April 2020 tidak terbit karena pandemi Covid-19 masih membahayakan mobilitas fisik.

This post was published on Jumat 19 November 2021 | 00:01 00:01

Related Post
Leave a Comment