Categories: Ngaji Hadits

Wajhain, Manusia Dua Wajah yang Menipu Diri Sendiri

Wajhain, Manusia Dua Wajah yang Menipu Diri Sendir (Ilustrasi freepik.com)

Wajhain, Manusia Dua Wajah yang Menipu Diri Sendiri, kajian oleh Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo

PWMU.CO –  Kajian ini berangkat dari hadits riwayat Bukhari dan Muslim.

عَنْ أبى هريرة رضي الله عنه أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول إِنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الوَجْهَيْنِ، الَّذِي يَأْتِي هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ، وَهَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ. رواه البخاري، ومسلم.

Dari Abu Hurairah, bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda: “Sungguh manusia yang paling buruk adalah bermuka dua (oportunis), ia mendatangi suatu kaum dengan muka tertentu dan ia mendatangi lainnya dengan muka yang lain.  (HR. Bukhari dan Muslim)

Wajhain

Wajhain bermakna dua wajah. Fenomena ini menjadi peringatan Rasulullah kepada umatnya, karena ia akan menjadi manusia yang terburuk di Hari Kiamat. Sikap ini adalah sikap oportunis atau ada kemunafikan dalam dirinya. Orang demikian hanya mencari selamat bagi dirinya sendiri saja.

Sikap oportunis menunjukkan ia tidak memiliki prinsip dalam kebenaran, karena pertimbangannya adalah kepentingan dirinya atau egoismenya agar dinilai baik oleh orang lain.

Perilaku ini sering pula disebut sebagai sikap penjilat atau ngatok (bahasa Jawa) pada yang dianggapnya lebih menguntungkan dirinya. Sikap demikianlah yang sangat berbahaya bagi tegaknya kebenaran, karena acapkali ia menjadi penghalang terhadap agenda kegiatan dakwah kebenaran.

Menipu Diri Sendiri

Hadits di atas mencirikan orang-orang munafik khususnya dalam rangka mencari selamatnya sendiri, mereka tidak mau mengambil resiko dalam kehidupannya di dunia, soal benar dan salah berdasar ketentuan agama baginya tidak penting.

Bahkan berlaku zalim dengan cara tidak memberikan hak orang lain sesuai haknya menurut ajaran agama. Juga tidak berprinsip, karena ukuran kebenaran itu adalah dirinya dan apa yang ia pikirkan. Sikap demikian banyak disinyalir dalam al Quran, di antaranya:

يَكَادُ ٱلۡبَرۡقُ يَخۡطَفُ أَبۡصَٰرَهُمۡۖ كُلَّمَآ أَضَآءَ لَهُم مَّشَوۡاْ فِيهِ وَإِذَآ أَظۡلَمَ عَلَيۡهِمۡ قَامُواْۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمۡعِهِمۡ وَأَبۡصَٰرِهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ 

Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. (al-Baqarah 20)

Ayat di atas memberikan sindiran kepada mereka orang-orang munafik, jika menguntungkan ia selalu menjadi penjilat, jika sudah tidak memberikan keuntungan bagi dirinya maka ia menghindarinya. Sehingga ukuran bagi mereka adalah untung rugi dunia dan tidak terpikirkan olehnya bagiannya di akhirat.

Dalam ayat yang lain Allah menjelaskan, mereka itu menipu diri sendiri dengan seolah bermodus menipu orang lain, kadang justru memanfaatkan orang lain untuk sebesar-besarnya kepentingan dirinya sendiri. Dengan demikian sesungguhnya mereka bukanlah orang-orang yang berpihak pada nilai kebenaran, dan justru mereka malah menjadi musuh dalam selimut, menggunting dalam lipatan. Sungguh keberadaan mereka sangat membahayakan.

إِنَّهُۥ يَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ مِنۡ حَيۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ  

Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka … (al-A’raf: 27)

Ayat di atas berkenaan dengan musuh kaum beriman yaitu setan yang selalu menggoda ke arah memutar balikkan dari ketaatan kepada kesesatan.

Dan tentu setan yang dimaksud bukan hanya dari golongan jin tetapi banyak pula yang berupa setan manusia, dan merekalah musuh dalam selimut dalam sebuah organiasasi atau kelompok. Karena mereka tahu persis keadaan kita, di satu sisi seolah mereka mendukung, tetapi di sisi lainnya sesungguhnya mereka berharap sebaliknya.

Baca sambungan di halaman 2: Ancaman Allah bagi Kaum Munafik

Wajhain, Manusia Dua Wajah yang Menipu Diri Sendir (Ilustrasi freepik.com)

Ancaman Allah bagi Kaum Munafik

Allah memberikan ciri sifat-sifat sekaligus memberikan ancaman kepada mereka. Sebagaimana dalam firman-Nya.

إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمۡ وَإِذَا قَامُوٓاْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُواْ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلٗا 

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (an-Nisa’ 142)

مُّذَبۡذَبِينَ بَيۡنَ ذَٰلِكَ لَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ وَلَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِۚ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ سَبِيلٗا 

Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. (an-Nisa’ 143)

إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ فِي ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيرًا 

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (an-Nisa’ 145).

Empat Ciri Munafik

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ.

Empat perkara yang jika semua itu ada pada diri seseorang, maka ia akan menjadi munafik sejati, dan jika hanya salah satunya, maka padanya ada sifat munafik sampai ia meninggalkannya, yaitu: ketika diamanahkan khianat, ketika berbicara berdusta, ketika berjanji mengingkari, dan ketika bertengkar berbuat curang. (HR Bukhari dan Muslim)

Semoga kita semua dijauhkan dan diselamatkan dari sifat nifak, dengan kita selalu mawas diri terhadap gerakan nafsu sendiri yang seringkali serakah terhadap harta dunia dan mengukur kebenaran dengan nafsunya sendiri, amin. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni

Wajhain, Manusia Dua Wajah yang Menipu Diri Sendiri adalah versi online Buletin Jumat Hanif Edisi 8 Tahun XXVI, 15 Januari 2022/11 Jumadil Tsani 1443

This post was published on Jumat 14 Januari 2022 | 06:20 06:20

Leave a Comment
Share
Published by
M Nurfatoni

Recent Posts

Smamio Gandeng PBS Kenalkan Budaya Tionghoa

Helena Aprilia (kiri menyamaikan materi di acara Foreign Language Space. Smamio Gandeng PBS Kenalkan Budaya…

Kamis 26 Mei 2022 | 21:06

SMK Muhlibat Gelar Swab Antigen

Siswa SMK Muhlibat Gelar Swab Antigen (Istimewa/PWMU.CO) SMK Muhlibat Gelar Swab Antigen, liputan Qomari kontributor…

Kamis 26 Mei 2022 | 20:57

Juara I LKTI Se-Kota Pasuruan Diraih Santri SPEAM

Juara I LKTI se-Kota Pasuruan Diraih Santri SPEAM Andrea Iram Dziljianazahra (Denok Setyaningrum/PWMU.CO) Juara I…

Kamis 26 Mei 2022 | 20:54

Kuota Haji Jatim Terbanyak Kedua

Gubernur Khofifah, Dirjen Hilman Latief, dan Kepala Kanwil Kemenag Husnul Maram melihat menu makanan Saudi…

Kamis 26 Mei 2022 | 19:23

Din Syamsuddin ke Qatar Bicara Ujaran Kebencian dan Islamofobia

Peserta Doha International Interfaith Conference. (gulftimes) PWMU.CO- Din Syamsuddin selesai acara pertemuan di Kazan, Rusia,…

Kamis 26 Mei 2022 | 08:51

Inilah Finalis Festival Faqih Usman ke 6 Tahun 2022

Dari kiri Ketua Panitia FFU 6 Nurul Wafiyah, Sekretaris Dikdasmen PDM Gresik M Fadloli Aziz,…

Kamis 26 Mei 2022 | 08:22