Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

26 Tahun UMC, dari Cirebon Menembus Batas: AIK, Teknologi, dan Ambisi Menjadi Kampus Unggul

Iklan Landscape Smamda
26 Tahun UMC, dari Cirebon Menembus Batas: AIK, Teknologi, dan Ambisi Menjadi Kampus Unggul
Dok: Masdum Mustaqwa
Oleh : Masdum Mustaqwa

Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) memasuki usia ke-26 dengan membawa agenda yang jauh lebih besar daripada sekadar perayaan milad. Kampus Muhammadiyah di Kabupaten Cirebon ini tengah menyiapkan lompatan transformasi: memperkuat Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), mengakselerasi teknologi dan inovasi, meningkatkan mutu akademik, sekaligus membangun infrastruktur yang diproyeksikan menjadi ikon baru Cirebon.

Pesan tersebut mengemuka pada puncak Milad ke-26 UMC di Convention Hall UMC, Watubelah, Sumber, Kabupaten Cirebon, Senin (28/9/2026).

Kehadiran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., menjadi salah satu penanda penting dalam momentum tersebut. Di hadapan sivitas akademika dan para pemangku kepentingan, Abdul Mu’ti tidak hanya berbicara tentang pendidikan, tetapi juga meletakkan tantangan besar bagi kampus Muhammadiyah di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat.

Menurut Abdul Mu’ti, pendidikan abad ke-21 harus bergerak melampaui transfer pengetahuan. Pendidikan harus membentuk karakter, memanfaatkan teknologi secara bijak, sekaligus menanamkan nilai-nilai keislaman yang berkemajuan.

Bagi UMC, pesan itu menemukan relevansinya dengan agenda transformasi kampus yang sedang dibangun. Teknologi harus maju, tetapi nilai tidak boleh tertinggal.

Salah satu gagasan paling menonjol dalam Milad ke-26 adalah pembangunan UMC Tower atau Gedung KH. Ahmad Dahlan Tower setinggi 20 lantai.

Proyek tersebut bukan sekadar pembangunan gedung baru. UMC ingin menjadikan infrastruktur sebagai bagian dari strategi transformasi kampus sekaligus memperkuat identitas institusi.

Abdul Mu’ti memberikan dukungan terhadap rencana tersebut. Ia bahkan mendorong agar UMC Tower tidak berhenti menjadi pusat kegiatan akademik, riset, dan inovasi pembelajaran.

Gedung itu diharapkan dapat berkembang menjadi landmark baru Cirebon sekaligus destinasi wisata edukasi yang mampu menarik pelajar, masyarakat, akademisi, hingga ilmuwan dari luar daerah.

Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan kampus kini mulai diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan internal, tetapi juga menciptakan ruang interaksi baru antara perguruan tinggi dan publik.

UMC ingin kampusnya menjadi tempat orang datang untuk belajar, berinovasi, berkolaborasi, sekaligus mengenal Cirebon.

Rektor UMC, Arif Nurudin, M.T., menegaskan pembangunan UMC Tower ditargetkan mulai direalisasikan pada Desember tahun ini.

Target tersebut menjadi bagian dari strategi akselerasi UMC menuju perguruan tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) yang unggul dan memiliki daya saing global.

Namun, transformasi UMC tidak berhenti pada pembangunan fisik.

Arif menyebut perjalanan 26 tahun UMC telah menghasilkan sejumlah capaian yang menjadi modal untuk melangkah lebih jauh. Di antaranya akreditasi unggul, lahirnya guru besar baru, serta perluasan jejaring kerja sama internasional.

“Capaian akreditasi unggul, lahirnya Guru Besar baru, serta perluasan jejaring kerja sama internasional adalah bukti komitmen UMC untuk memberikan pelayanan pendidikan terbaik dan dampak nyata bagi masyarakat Cirebon maupun Indonesia,” ujar Arif.

Pernyataan tersebut memperlihatkan satu hal: pembangunan UMC Tower harus berjalan beriringan dengan pembangunan kualitas akademik.

Gedung boleh semakin tinggi. Tetapi mutu akademik juga harus semakin tinggi.

Bagi Muhammadiyah, transformasi perguruan tinggi tidak dapat dilepaskan dari AIK.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat, Prof. Dr. H. Ahmad Dahlan, M.Ag., menegaskan pentingnya menjadikan AIK sebagai ruh dalam tata kelola pendidikan tinggi.

Pesannya jelas: modernisasi kampus tidak boleh membuat identitas Muhammadiyah kehilangan pijakan.

Karena itu, akselerasi riset, inovasi pembelajaran, dan pengabdian masyarakat harus berjalan bersama penguatan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

Di sinilah tantangan UMC menjadi semakin menarik.

Bagaimana menjadikan kampus berbasis teknologi tanpa kehilangan karakter?

Bagaimana melahirkan lulusan yang menguasai artificial intelligence, digitalisasi, dan teknologi industri sekaligus memiliki integritas, kepedulian sosial, dan nilai keislaman?

Pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan UMC memasuki usia ke-26.

Sebab, teknologi dapat mempercepat pekerjaan, tetapi nilai menentukan arah penggunaannya.

Transformasi UMC juga mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Cirebon.

Bupati Cirebon, Drs. H. Imron, M.Ag., mengapresiasi kontribusi UMC selama 26 tahun, terutama dalam bidang pendidikan dan perekonomian yang berkaitan dengan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Cirebon.

Bagi pemerintah daerah, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam menjawab berbagai persoalan pembangunan.

Karena itu, Imron berharap sinergi Pemkab Cirebon dan UMC terus diperkuat melalui riset terapan serta penyediaan sumber daya manusia yang memiliki daya saing tinggi.

SMPM 5 Pucang SBY

Pesan tersebut membawa UMC ke peran yang lebih luas. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan sarjana.

Kampus juga harus ikut menyelesaikan persoalan daerah.

Masalah pendidikan, kemiskinan, pengangguran, UMKM, ekonomi digital, lingkungan, ketahanan pangan, hingga kebutuhan tenaga kerja terampil membutuhkan keterlibatan perguruan tinggi.

Di titik ini, riset UMC dituntut untuk tidak berhenti di jurnal. Ia harus menemukan jalan menuju masyarakat.

Usia 26 tahun menjadi fase penting bagi UMC untuk mempertemukan tiga kekuatan: nilai, ilmu, dan teknologi.

AIK memberikan fondasi.

Ilmu pengetahuan memberikan kapasitas.

Teknologi memberikan akselerasi.

Ketiganya kemudian harus bermuara pada satu hal: kemanfaatan.

Itulah tantangan UMC ke depan.

Akreditasi unggul harus melahirkan layanan pendidikan yang unggul. Guru besar harus memperkuat tradisi akademik dan riset. Kerja sama internasional harus membuka ruang mobilitas dan kolaborasi global. Teknologi harus menghasilkan inovasi.

Dan AIK harus memastikan seluruh proses tersebut tetap memiliki orientasi moral dan kemanusiaan.

Karena itu, pembangunan UMC Tower seharusnya tidak dibaca hanya sebagai pembangunan gedung 20 lantai.

Ia dapat menjadi simbol dari cita-cita yang lebih besar: membangun kampus yang semakin tinggi secara fisik, sekaligus semakin tinggi mutu, karakter, dan kontribusinya.

Dua puluh enam tahun perjalanan UMC telah membawa kampus tersebut melewati berbagai fase pertumbuhan.

Kini tantangannya bukan sekadar bagaimana bertahan, tetapi bagaimana menembus batas.

Menembus batas inovasi.

Menembus batas teknologi.

Menembus batas kualitas.

Menembus batas jejaring global.

Dan yang tidak kalah penting, menembus batas kontribusi bagi masyarakat.

Dari Cirebon, UMC sedang menyiapkan babak baru.

Sebuah babak ketika kampus Muhammadiyah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi pusat riset, inovasi, pengembangan sumber daya manusia, dan peradaban.

Milad ke-26 akhirnya bukan hanya tentang menengok perjalanan.

Ia adalah tentang menentukan arah.

UMC boleh bertambah usia. Tetapi yang lebih penting, UMC harus terus bertambah mutu, bertambah manfaat, dan bertambah luas dampaknya.

Dari Cirebon, UMC menatap masa depan.

Menembus batas. Menguatkan nilai. Mengakselerasi teknologi. Dan membangun keunggulan.

Revisi Oleh:
  • Satria - 29/09/2026 19:19
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu