4 Strategi agar Media Persyarikatan Tetap Bergairah dan Bisa Bersaing

166
Pasang Iklan Murah
Mustofa Nahrawardaya
Mustofa Nahrawardaya menyampaikan materi di pertemuan MPI se-Indonesia. (Foto: Ayunda)

PMWU.CO – Akhir-akhir ini, aktivitas dakwah dengan memanfaatkan media informasi, baik itu media sosial (medsos) maupun media online mulai tumbuh subur di kalangan para aktivis Persyarikatan. Dengan mengusung semangat ‘Jihad Digital’, gencar, aktivis Persyarikatan melahirkan situs media online. Menurut Mustofa Nahrawardaya semangat berdakwah melalui media informasi itu perlu terus dijaga dan dirawat, bahkan dikembangkan.

”Agar warga Muhammadiyah tidak gagap dengan media, dan ikut arus dengan isu yang dikembangkan oleh media, maka Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) harus bisa menjadi filter. Karena itu MPI dipandang perlu untuk mereformasi diri untuk bisa menghadapi media yang selalu berubah setiap saatnya,” ujarnya kepada pwmu.co di sela-sela pertemuan MPI se-Indonesia, di Yogyakarta, Ahad (26/3).

iklan

(Baca: Etika Ber-Medsos Umat Islam Masih Mengkhawatirkan dan Ketika Kemajuan Informasi Tak Bisa Dihindari, Bagaimana Kita Memanfaatkannya?)

Anggota Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah periode 2015-2020 Divisi Broadcasting dan Informasi Publik lantas mengungkapkan ada strategi 4 strategi yang bisa dikembangkan agar media yang ada, dan kini dikelola oleh para aktivis Persyarikatan maupun afiliasinya semakin bergairah dan tak kalah bersaing. ”Tak kalah penting adalah media milik persyarikatan bisa bersaing dengan media mainstream yang ada,” Mustofa mengingatkan.

Strategi pertama, jalasnya, Muhammadiyah melalui MPI harus mampu menghidupkan pengelolaan media center dengan menyediakan konten agar dapat di pakai oleh para wartawan. ”Intinya adalah ada media center, ada wartawan dan ada kegiatannya,” paparnya.

Kemudian kedua, MPI harus mampu menjaga kedekatan dengan semua media. Baik itu media cetak maupun elektronik. ”Kita tidak boleh memusuhi satu pun media. Sehingga kita bisa menyampaikan pesan dakwah Muhammadiyah ke awak media. Kita juga bisa minta plooting berita Muhammadiyah kepada awak media,” terangnya.

(Baca juga: Kemendikbud Ajak Media Bersinergi untuk Majukan Pendidikan di Indonesia)

Katiga, MPI harus rutin melakukan media visit (kunjungan ke media) dan berdiskusi dengan media. Setiap bulan misalnya kita agendakan untuk silaturrahmi ke kantor media .”Tak kalah penting adalah MPI seharusnya bisa rutin membuat press rilis dan dikirim ke berbagai media. Awak media tentu senang sekali dapat press rilis rutin,” tegasnya.

Sementara menyikapi bahwa media Muhammadiyah masih terkesan kaku, Mustofa mengungkapkan media-media Muhammadiyah tetap harus memegang idealisme. Itu penting supaya tidak muncul konflik, tidak mengecewakan salah satu pihak dan menjaga sikap. ”Kesemuanya itu supaya tidak menimbulkan permasalahan,” tandasnya. (ayunda/aan)