Ini yang Menyebabkan Hilangnya Rasa Simpati KH M Dawam Saleh pada Presiden Jokowi

457
Pasang Iklan Murah
Pengasuh PondokPesantren Al Islah Sendangagung Paciran KH Muhammad Dawam Saleh. (Foto Uz;lifah/pwmu.co)

PWMU.CO – Sebagai masyarakat Indonesia kita harus benar-benar cerdas. Termasuk cerdas membaca perilaku penguasa. Demikian pernyataan KH Muhammad Dawam Saleh, Pengasuh Pondok Pesantren Al Islah Sendangagung, Paciran, Lamongan, saat ditemui PWMU.CO, usai shalat Asyar berjamaah di masjid kompleks pesantren, (27/6).

Menurutnya, beberapa pernyataan Presiden membuat dia kehilangan rasa simpatik pada Jokowi. “Coba perhatikan pernyataan berikut,” ujar Dawam sambil membeberkan sejumlah pernyataan Presiden yang dianggap tidak tepat. “Beliau pernah mengatakan bahwa harus dipisah antara urusan agama dan politik.” Pernyataan itu, kata Dawam, menunjukkan bahwa Jokowi seperti kurang paham soal agama, juga soal politik.

iklan

(Baca: Kumpulan Puisi Menggugat dari KH M Dawam Saleh)

Pernyataan lain yang menurut Dawam membuat dia tidak simpatik pada Jokowi adalah, “Kalau ada ormas yang anti-Pancasila akan saya gebuk.” Saya yakin, kata Dawam, Jokowi juga tidak memahami soal ormas. “Masak kepribadian manusia disamakan dengan barang,” kritik Dawam.

“Banyak lontaran pernyataan Jokowi yang membuat saya tidak simpatik. Menurut saya Presiden kita itu tidak mengerti apa yang diomongkan dan apa yang diperbuat, sehingga sangat sia-sia bila kita mengharapkannya untuk bisa menyelesaikan persoalan bangsa,” ujar Dawam.

Dawam juga mengatakan bahwa Indonesia ini sudah dikuasai kekuatan besar dan itu masuk pada partai-partai politik. “Sebenarnya sosok politikus yang bisa kita harapkan adalah Pak Amien, tapi harapan itu pun sengaja dipatahkan secara perlahan,” ujar Dawam.

(Baca juga: Lewat Puisi Petruk Jadi Ratu, Kyai Dawam Kembali Kritik Penguasa)

Dawam kemudian menjelaskan bahwa untuk menghadapi itu semua ada tiga langkah yaitu melalui strategi aksi nyata lewat perbuatan, lisan, dan doa “Kalau tidak bisa dengan perbuatan ya melalui lisan—seperti melalui puisi, pidato, atau lainnya. Dan kalau masih tidak bisa barulah dengan doa,” ujarnya. “Yang penting akidah kita tidak terjual.”

Dawam juga menyesalkan adanya tokoh Muslim tapi tidak menjaga Islam. “Tapi malah senantiasa membenarkan langkah pemerintah yang tidak sepenuhnya benar, bahkan membelanya,” ujar Dawam yang juga menyoroti 3 sosok yang masih menjadi problem bagi umat Islam Indonesia.

(Baca juga: Puisi Seorang Kyai untuk Presiden: Keliru Melulu, Maafkan Aku)

Pertama, adalah Islam abangan. Kedua, orang-orang Islam yang sekuler, pluralis, dan liberalis—yang kebanyakan mereka adalah para cendekiawan Muslim. “Dan yang ketiga adalah tokoh Islam atau ulama yang menjual akidahnya karena uang,” ungkapnya.

“Untuk itu sebuah keharusan bagi kader-kader muda Muhammadiyah untuk senantiasa mencari ilmu dengan cara apa saja sehingga mempunyai wacana yang luas berbasis Alquran dan Assunnah sehingga tidak mudah tergilas arus yang sangat membahayakan karena cenderung membodohi dan membodohkan juga mengelabui dan membohongi,” pesan Dawam. (Uzlifah)