Sukses Sucipto, Petani Melon Warga Muhammadiyah Laren: Menanamnya pun Butuh Jiwa Seni

261
Pasang Iklan Murah
Sucipto dan melon emasnya. (Foto Uzlifah/pwmu.co)

PWMU.CO – Untuk mewujudkan para petani yang berdaulat mandiri dapat melalui bangunan jaringan yang kuat. Dan itu butuh waktu yang tidak sedikit. Hal itu disampaikan Khamim Asyari saat PWMU.CO mengunjungi lahan melon dalam binaannya di Desa Kopen, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Kamis (29/6).

Khamim mengatakan, untuk menjadikan para petani mandiri dimulai dari pemikiran. “Artinya para petani dibekali ilmunya sehingga bisa berfikir dan tidak terpengaruh dengan orang lain. Untuk itu diperlukan komunikasi yang intensif,” ujar Khamim.

iklan

(Baca: Aktivis Muhammadiyah yang Lahirkan Petani-Petani Melon Golden Apollo)

Dikatakan mandiri, kata Khamim, jika bisa menyinergikan semua unit bisnis, kemudian mempunyai produk dan selanjutnya mempunyai jaringan pasar. “Kalau pertanian ya harus bisa sinergi dengan peternakan. Itu yang akan kami kuatkan saat ini,” terang Khamim.

Khamim mencontohkan lahan melon milik Sucipto yang ketika panen sudah tidak pusing memasarkannya, karena buah melon milik Sucipto itu sudah dibeli dengan sistem kontrak oleh Superindo, termasuk juga benihnya. “Untuk di Jatim sendiri pusatnya di Banyuwangi dan Lamongan,” jelas Khamim.

(Baca juga: Berdakwah dan Petik Melon Gratis di Sendangharjo, Destinasi Wisata Baru Lamongan)

Sucipto—pemilik lahan melon—membenarkan ucapan Khamim. “Di sini setiap hari Senin kumpul sekitar 30 petani. Mereka diberi pembekalan ilmu pertanian oleh Pak Khamim,” tuturnya.

Berkat bimbingan Khamim, Sucipto dengan lahan 1500 m2 bisa panen dua kali dalam satu tahun. Menurutnya, tanam pertama biasanya membutuhkan biaya Rp 10-12 juta sedangkan tanam kedua dibutuhkan Rp 6-7 juta. “Kalau hasilnya bagus biasanya panen 3,5 sampai 4 ton dengan harga  Rp 8000 per kilogram,” kata pria asli Kopen itu.

Kebahagiaan tersendiri bagi pwmu.co bisa memanen melon dengan tangan sendiri bersama keluarga. Khamim Asyari (kiri). (Foto Uzlifah/pwmu.co)

Cipto yang juga aktif di Muhammadiyah mulai menggeluti tanam melon sejak tahun 2011.”Alhamdulillah hasilnya selalu baik, kalau sekali kali gagal ya… itu biasa,” ujarnya.

(Baca juga: Kepala Desa yang Aktivis Muhammadiyah Ini Berhasil Sulap Desa Pujon Kidul Jadi Wisata Edukasi)

Dia menurutkan, untuk perawatannya, menanam melon memang lebih sulit dari pada menanam padi. “Tantangannya sangat berat sekali.” Pria berusia 44 tahun itu menjelaskan bahwa menanam melon itu harus mempunyai jiwa seni. “Tidak sembarang orang bisa melakukannya,” ucapnya.

Selama 20 tahun lebih jaringan komunikasi komunitas petani yang dibangun Khamim telah banyak memberi pengaruh pada peningkatan kwalitas hasil pertanian di wilayah Lamongan khususnya Kecamatan Laren. (Uzlifah)