Ini Nasehat Kyai agar Kita Tak seperti 3 Pelaku Kebajikan yang Justru Masuk Neraka

124
Pasang Iklan Murah
KH Abdul Hamid LC. (Foto Hilman Sueb/pwmu.co)

PWMU.CO – Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah  Lamongan KH Abdul Hamid Lc mengingatkan pada umat Islam agar menjaga niat ikhlas dalam beribadah. “Perlu diketahui bahwa yang merasakan ibadah itu adalah diri kita bukan orang lain. Dan hanya diri kita dan Allah lah yang tahu ikhlas atau tidaknya ibadah kita itu. Karena ibadah itu sebagai bentuk penghambaan diri seorang makhluk dengan kepada sang Khaliq,” pesan Hamid dalam Pengajian Jumat Pagi (Jumpa), di Masjid At Taqwa, Babat, Lamongan, (7/7).

Menurutnya, setiap orang mempunyai naluri senang dipuji. “Maka tidak menutup kemungkinan berbuat riya. Untuk  itulah harus kita niatkan ibadah hanya karena-Nya,” ujar Hamid, sambil menceritakan kisah dari sebuah hadits tentang tiga orang baik yang  dimasukkan ke dalam neraka karena apa yang dilakukan semata-mata mengharap pujian manusia.

iklan

(Baca: Di Pengajian Jumat Kliwon, Kyai Muhammadiyah Babat Ini Sampaikan Kegembiraan sekaligus Kesedihannya)

“Pertama, orang yang mati syahid, yang  niatnya  supaya dikatakan orang yang gagah berani. Kedua orang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Alquran, supaya dikatakan alim dan qari hebat,” papar dia.

Ketiga, lanjut Hamid, orang yang diberi kelapangan rezeki dan tidak pernah mèninggalkan sedekah dan infaq, semat-mata  agar dikatakan dermawan. “Ketiga-tiganya akhirnya  dimasukkan neraka. Inilah pelajaran yang sangat berharga bagi kita,” jelasnya.

Hamid kemudian memberi nasehat bagaimana agar bisa tetap taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah ketika dipuji manusia. “Raja’na minal jihadil asghar ilaa jihadil akbar (kita kembali dari jihad kecil menuju jihad besar),” kata Hamid mengutip hadits riwayat  Ibnu An-Najar dari Abu Hurairah. Maksudnya, kata dia, kita harus berjihad melawan hawa nafsu.

(Baca juga: Ketika Pengajian ‘Jumpa’ Membahas Perjumpaan Hamba dengan Tuhannya)

“Dalam diri manusia itu ada nafsu bahamiyah yang melambangkan sifat binatang dan cenderung untuk mencari kebutuhan makan. Ada nafsu Syaitaniyah yang  melambangkan sifat  syetan dan cenderung mengajak hal-hal  yang buruk, serta nafsu Rabbani yang melambangkan sifat-sifat Tuhan,” papar Hamid.

Dalam melawan nafsu, Hamid menjelaskan, manusia ada  yang kalah, ada yang kadang-kadang menang dan kadang kalah. “Dan ada pula yang menang,” ujarnya sambil membacakan surat Maryam 59-60, “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak akan  menemui kesesatan. Kecuali mereka yang bertaubat, beriman, dan beramal shaleh. Maka mereka itu akan masuk surga dan tidak  dianiaya.”

(Baca juga: Seperti Nabi Muhammad, Kyai Muhammadiyah Ini juga Curhat soal Jauhnya Umat dari Alquran)

“Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT dan menjadi orang yang menang dan bisa  mempertahankan ibadah kita,” harapnya. Hamid juga mengingatkan agar kekompakan umat Islam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan bisa dipertahankan di bulan-bulan lainnya.

“Agar kita dapat mempertahankan amaliah Ramadhan, hendaklah setiap kita beribadah tidak melupakan berdoa kepada Allah SWT, supaya ibadah yang kita lakukan itu  diterima-Nya,” pesannya. (Hilman Sueb)