Apa yang Terjadi jika Gen X + Gen Milenial Bergabung dalam Sebuah Sekolah?

107
Pasang Iklan Murah
Misbakhul Munir. (Foto Ria Eka Lestari/pwmu.co)

PWMU.CO – Sekolah dapat dikatakan bagus jika sistem yang dibangun baik, kepala sekolahnya hebat, gurunya semangat, dan wali siswanya tangguh. “Sinergi orangtua dan sekolah sangat dibutuhkan,” kata Misbakhul Munir SPdI  saat menyampaikan materi dalam Parent Education Sabtu (22/7) pagi.

Direktur Eksekutif Kualita Pendidikan Indonesia tersebut menjelaskan tentang idiom change is the only constant. Bahwa yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri. “Jumlah smartphone yang lebih banyak dari jumlah penduduk Indonesia menjadi salah satu penyebab perubahan tersebut,” jelasnya.

(Baca juga: Generasi Z di Mata Pengusaha dan Politisi Sukses Masfuk)

Dalam acara yang diselenggarakan oleh Ikatan Wali Murid SD Muhammadiyah Manyar Gresik ini, Misbakh—panggilan akrabnya— mengelompokkan wali murid dan guru menjadi 2 kategori yaitu Generasi X dan Generasi Milenial. “Dua generasi inilah yang harus saling memahami karakteristik satu sama lain agar dapat bersinergi,” kata dia.

Generasi X dengan rentang usia 36-47 tahun, jelas Misbahk, selalu ingin menunjukkan kemampuan dirinya, berorientasi sejahtera, serta memanjakan anak. “Generasi ini sudah bisa menerima teknologi sehingga SDM Manyar jangan ragu untuk menggunakan teknologi dalam berkomunikasi dengan wali murid,” tandasnya.

(Baca: Tanpa Presidential Threshold 20 Persen, “Pilpres”  di SD Muhammadiyah Manyar Lebih Demokratis dan Canggih)

Pria kelahiran Ponorogo ini juga menyampaikan bahwa Generasi Milenial dengan rentang usia 21-35 tahun cenderung konsumtif, menguasai IT, dan banyak ide. “Orang seperti ini biasanya multitalent dan memiliki pertemanan social media yang banyak,” jelasnya.

Gabungan kedua generasi ini, tambahnya, dapat menghasilkan anak hebat jika segitiga emas pendidikan terpenuhi yaitu orangtua, sekolah, dan lingkungan yang hebat.

Selamat berproses menjadi orangtua hebat! (Ria Eka Lestari)