Ketua PP Muhammadiyah: Negara yang Gagal Jalin Silaturrahmi Tak Akan Dirahmati Allah

122
Pasang Iklan Murah
Hajriyanto Y Thohari dan Mahsun Jayadi (Foto istimewa/pwmu.co)

PWMU.CO – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Drs Hajriyanto Y Thohari MA menyampaikan pesan-pesan penting pada acara Silaturrahim Guru-Karyawan Muhammadiyah Surabaya, di Gedung Convention Hall, Jalan Arif Rahman Hakim, Surabaya, Rabu (26 /6). Selain bicara soal silaturrahim, dia juga meyampaikan pentingnya gerakan filantropisme yang tekah dicontohkan Muhammadiyah sejak didirikan KHA Dahlan tahun 1912.

“Silaturrahim itu wajib. Alquran dan Alhadits menegaskan larangan memutuskan hubungan silaturahmi. Menurut Nabi SAW, silaturrahim itu bisa memanjangkan umur dan menambah rizki. Dan beliau pernah mengingatkan seorang Sahabat agar tidak duduk bersamanya jika memutuskan silaturrahim. Allah pun tidak akan menurunkan rahmat-Nya kepada mereka yang memutuskan silaturrahim,” jelas Hajri—panggilan akrabnya. Dalam konteks kebangsaan, kata Hajri, negara yang gagal menjalin hubungan silaturrahmi tidak akan dirahmati Allah.

iklan

(Baca: Hajriyanto Y. Thohari: Ketika yang Lain Kenes Ngomong Kebhinekaan, Muhammadiyah Sudah Memberikan Teladan)

“Silaturrahim adalah jantungnya organisasi. Warga Muhammadiyah wajib menjaga silaturrahim dalam organisasi,” pesannya. Menurut Hajir, dalam konteks sosial, tradisi silaturrahim sudah dicontohkan oleh umat Islam Indonesia dengan budaya mudik di hari raya Idul Fitri. “Mudik besar-besaran merupakan budaya cerdas umat Islam Indonesia yang tidak kita temukan di negeri muslim lain,” pujinya. Dari data yang dia peroleh, lebih dari 7 juta umat Islam yang mudik ke kampung halaman untuk bersilaturrahim dengan orangtua, saudara, famili dan sahabat.

Mengenai gerakan filantropi, Hajri menyampaikan bahwa hal itu perlu dilakukan ketika negara belum mampu menyejahterakan rakyatnya. Muhammadiyah, kata dia, sejak berdiri sudah mempraktikkan filantropisme. “Filantropi adalah sikap kedermawanan untuk menolong orang lain. KH Ahmad Dahlan adalah tokoh filantropi utama dengan mendirikan PKO untuk menolong siapa pun,” terang dia.

Hajir mengingatkan agar warga Muhammadiyah menyalurkan zakat, infak, dan shadaqah (ZIS) melalui Lazismu. “Itu untuk membesarkan Muhammadiyah sehingga kita bisa meningkatkan ekonomi dan pendidikan umat Islam khususnya dan Indonesia umumnya,” ujarnya.

(Baca juga: Gak Bisa Itu Berkata “Isoku Mung Neng Kene”, Pesan Hajriyanto Y Thohari untuk Pimpinan Persyarikatan)

Hajri juga sempat menyentil para pemimpin Indonesia. “Pemimpin itu harus cerdas sebagaimana dicontohkan para pemimpin Muhammadiyah. Banyak pemimpin sekarang bicara soal kebhinnekaan dan kemajemukan tapi hanya omong doang. Sedangkan Muhammadiyah adalah pelopor utama kemajemukan, kebhinnekaan, dan toleransi di negeri ini,” ungkap Hajri.

Kepada guru dan karyawan sekolah Muhammadiyah Hajri menitipkan 4 pesan. Pertama, hendaknya selalu dilatih beragam ilmu untuk meningkatkan kompetensi di antaranya dengan mengirim ke berbagai pendidikan luar negeri. “Supaya kualitasnya terus meningkat,” ucapnya.

Kedua, lanjut dia, guru dan karyawan sekolah Muhamamdiyah harus diberi perlengkapan profesi yang bagus. “Ketiga, harus terorganisir dengan baik. Dan ketika harus digaji dengan baik agar dapat menjalankan tugas dengan baik” pesan Hajir.

(Baca juga: Hajriyanto: Jangan Takut Dikritik atau Lakukan 3 Nothing agar Bebas Kritik)

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota surabaya Dr Mahsun Jayadi menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada para pendidik. Dia berharap kepada mereka untuk selalu membina para peserta didik supaya kelak menjadi generasi bangsa yang cerdas dan berkemajuan.

Ketua Majelis Dikdasmen PDM Kota Surabaya M Ridwan MPd berpesan agar sekolah-sekolah Muhammadiyah terus menerus membangun dan berinovasi dakam mengembangkan sekolahnya,  “Supaya dapat terus bersaing dengan sekolah lain,” ucapnya.

Menurut Imam Sapari SHI—salah satu panitia yang juga Kepala Sekolah SMPM 9 Surabaya—mengatakan, suntikan energi Hajri semakin menguatkan spirit jihad para pendidik di kalangan Muhammadiyah Surabaya. (Ferry Yudi AS)