Rp 10 Ribu Itu Hanya Ongkos Ambil Kelapa dari Pohonnya ….

294
Hikmah Press
Budaya Ngangkak Thengkuk dalam Perayaan Maulid Nabi di Pulau Bawean. (Foto Ferry/PWMU.CO)

PWMU.CO – Tidak hanya keelokan Bawean yang membuat orang berlama-lama tinggal disana. Ombak tinggi yang tak dapat diprediksi pun menjadi alasan tak dapat meninggalkan Pulau Putri itu sewaktu-waktu.

Kepala SMK Muhammadiyah 4 Daun Rahman Hakim berpesan kepada tim Dai Dokter Muda Muhammadiyah Mengabdi (D2M3) mengatakan, jika ke pulau Bawean harus bersiap tinggal minimal satu pekan.

iklan

“Apalagi bulan Desember hingga Januari. Ombak di perairan Bawean sedang tinggi-tingginya,” pesannya.

Pesan pria asli Bawean ini bukan isapan jempol belaka. Ahad (3/12/2017) tim D2M3 yang terbagi di tiga lokasi yakni di hotel Miranda, Guest House Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sangkapura serta di Padepokan Rais Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Daun tak dapat kembali ke pulau Jawa.

Baca Juga:  Kisah Dahnil A Simanjuntak tentang Mirisnya Fasilitas Kesehatan di Daerah Kepulauan

Karena rangkain acara resmi sudah berakhir maka acara insidentil pun disusun. Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik Drs Taufiqullah A Ahmady MAg berkesempatan memberi energi positif kepada guru-guru TK Aisyiyah 46, Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) 17, Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah (MTs) 14, dan Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah (SMKM) 2 Daun, Sangkapura.

Sebanyak 50 ustadz dan ustadzah menyimak materi yang cukup membakar semangat itu. “Pendidikan Muhammadiyah akan maju jika ustadz dan ustadzah maksimal dalam melayani siswa-siswinya. Untuk itu para pendidik harus memiliki pondasi yang harus di bangun,” paparnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan pondasi pertama adalah tepat waktu. Selalu menjadikan sekolah dan mengajar sebagai prioritas utama dalam hidup yakni dengan datang mengajar tepat waktu.

Baca Juga:  Kisah Dahnil Anzar Simanjuntak dan Tim D2M3 Terjebak di Pulau Bawean

“Kedua, siap dengan perubahan. Setiap pengajar wajib mengikuti perubahan zaman, gaya mengajar, pola penyampaian, materi-materi pelajaran yang harus disampaikan dan dikaitkan dengan hal-hal kekinian. Bahasa planetnya guru zaman now harus kreatif, inovatif, dan solutif,” jelasnya.

Taufiq—panggilan akrabnya—juga menyampaikan pondasi yang ketiga adalah berpikir ke depan. Seorang guru harus bisa mengkondisikan para siswa untuk menjadi anak-anak masa depan yang berkemajuan.

“Hal itu bisa terwujud dimulai dari guru yang berorientasi masa depan atau future oriented, membekali anak-anak kita dengan tauhid yang lurus dan pengetahuan yang mencerahkan,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu anggota PDM Kabupaten Gresik H Mulkan iseng bertanya pada PRM Daun di akhir sesi. “Pak Shihab, ini kalau beli berapa harganya?” tanyanya sembari menikmati kelapa muda.

Baca Juga:  Kaget, di Pulau Putri Ini Sepeda Motor Pakai Bensin Bimoli

“Sepuluh ribu,” jawab Shihab.

“Hah? Sepuluh ribu? Masak sih?” tanya H Mulkan dengan ekspresi kaget bukan main.

“Iya ini semua sepuluh ribu. Itu ongkos ambil di atas pohon kelapanya saja, di sini ndak dijual, kalau mau silahkan ambil sendiri,” jawab Shihab disambut ketawa yang lainnya.

Bawean memang penuh cerita unik dan eksotis. Kalau hanya sekedar hidup di Bawean tidak akan kelaparan. Mau coba? Silahkan datang ke Bawean! (Ferry/TS)

Para guru Muhammadiyah Daun Sangkapura, Bawean. (Foto Ferry/PWMU.CO)