Guru dengan Ruh Pendidik Jauh Lebih Penting dari Kurikulum

204
Hikmah Press
Dr Biyanto (kiri) dalam Bimtek UN 2018 di Umsida. (Foto Prima/PWMU.CO)

PWMU.CO – Sukses Ujian Nasional (UN) tidak hanya dilihat dari nilai yang optimal, tetapi juga proses bagaimana mendapatkan nilai itu.

Hal itu disampaikan Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim Dr Biyanto MAg saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) UN 2018 hari ini, Sabtu (9/12/2017).

iklan

“Mari kita jaga UN ini, ayo kita pastikan anak-anak jujur dan bertanggungjawab,” pesannya.

Bertempat di lantai 7 Gedung Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FEB Umsida), Pak Bi—panggilan akrabnya—menghimbau sekolah-sekolah Muhammadiyah merancang strategi jitu.

“Ayo dirancang bagaimana sekolah-sekolah kita bisa masuk 10 besar terbaik Jatim. Tentunya dengan cara seperti ini, bukan dengan cara negatif lainnya,” tuturnya.

Mengutip pepatah Arab, Biyanto mengingatkan 3 hal pada guru-guru Muhammadiyah se-Jatim. Pertama, metode pembelajaran lebih penting daripada materi pelajaran.

“Yang kedua, guru itu lebih penting daripada metode. Karena itu mari kita berubah. Perubahan atau perbaikan itu selalu diawali dari guru. Guru adalah ujung tombak pendidikan sedangkan jantung pendidikan itu ada di kelas,” paparnya.

Hal ketiga yang dia ingatkan adalah ruh sebagai pendidik lebih penting daripada guru itu sendiri.

Lebih lanjut, Biyanto mengutip perkataan Abdul Mu’ti yang mencontohkan ada guru yang mengatakan kalau gajinya tujuh koma maka dia akan mengajar dengan sungguh-sungguh.

“Maksudnya, gajinya itu kalau dibuat makan tujuh hari terus koma. Ndak tau gaji kita sebenarnya berapa koma,” candanya disambut riuh tawa peserta Bimtek.

Selamat berkarya, guru Muhammadiyah! (Ria Eka Lestari)