Inilah Tiga Syarat Jadi Politikus Sukses

215
Hikmah Press
Cahya/pwmu.co
Peserta SKK PDM Banyuwangi berfoto bersama narasumber Nadjib Hamid.

PWMU.CO-Warga Muhammadiyah perlu disadarkan bahwa politik itu bukan akidah. Karena itu,  tidak perlu terlalu  fanatik. Politik itu sangat cair dan dinamis, yang bisa berubah setiap saat, warga Muhammadiyah harus bisa bergaining dengan partai apa saja. Apalagi, realitasnya tidak ada partai yang berideologi agama.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua PWM Jawa Timur Nadjib Hamid MSi saat mengisi Sekolah Kepemimpinan dan Kebangsaan (SKK) PDM Banyuwangi, Ahad (11/2/2018). Acara yang digelar di Aula RSI Fatimah itu diikuti personalia PDM dan Ortom dengan topik kajian Sistem Politik di Indonesia.

”Muhammadiyah sejak awal berdiri sebagai organisasi sosial keagamaan, bukan politik,” ujar Nadjib. Namun demikian, bukan berarti Muhammadiyah tidak memiliki peran dalam membangun bangsa. ”Justru peran Muhammadiyah sangat menentukan arah kebijakan pemerintah,” tuturnya.

Baca Juga:  Din Syamsuddin Akan Gelar Pertemuan dari Hati ke Hati Antarpemuka Agama

Menjawab pertanyaan peserta tentang politikus kader Muhammadiyah yang merasa tidak mendapat dukungan dari Muhammadiyah bahkan merasa kesuksesannya adalah hasil usahanya sendiri, Nadjib menegaskan, orang seperti itu membunuh kariernya sendiri. “Menafikan peran Muhammadiyah berarti tidak ingin kariernya berlanjut, akan kuwalat,” jawabnya berkelakar.

Sebagai warga Muhammadiyah, sambung Nadjib, harus paham tentang dunia politik. Warga Muhammadiyah juga jangan merasa bangga menjadi oposan, yang selalu mengkritik pemerintah. Tidak boleh juga nggumun terhadap perilaku politikus yang ada di negara kita.

”Karena, suka atau tidak suka, dalam situasi politik saat ini, ada tiga syarat yang harus dimiliki politikus. Yakni, popularitas, elektabilitas dan isi tas,” kata Nadjib disambut tawa hadirin.

Baca Juga:  Jauh Hari sebelum Jadi Menteri, Begini Cara Unik Muhadjir Effendy Balas Budi pada Guru SD-nya

Dia menandaskan, jika tiga syarat itu, terutama syarat ketiga tidak terpenuhi, maka kemungkinan bisa memenangkan persaingan sangat kecil. ”Sekali lagi, politik itu bukan akidah. Politik itu selalu dinamis. Jadi, warga Muhammadiyah tidak perlu nggumun dan antipati terhadap partai politik tertentu. Mengingat semua partai, ideologinya sama, yaitu Soekarno-Hatta,” kata Nadjib sambil menunjukkan uang seratus ribu yang bergambar Soekarno-Hatta. Hadirin pun kembali tertawa.

Sebelumnya Nadjib mengatakan pegangan moral politikus yang baik itu seperti disebut dalam surat al-Hajj ayat 41 yang artinya, orang-orang yang Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat makruf dan mencegah kemunkaran. Dan, segala urusan akan kembali kepada Allah. (Cahya)

Baca Juga:  Aksi Bela Islam 212 yang Berencana Shalat Jum’at di Monas, Begini Fatwa MUI

Tinggalkan Balasan