Film Kartun Edukasi Malaysia Chichi Chacha Akan Tayang di TVMU

393
Pasang Iklan Murah
Tuan Haji Azmil dan Nadjib Hamid diapit Chichi Chacha berfoto bersama Peserta Rihlah Dakwah III Muhammadiyah Jatim. (Tari/PWMU.CO)

PWMU.CO – “Jom Chichi, Jom Chacha, gerak kaki bersama,” cuplikan Chichi Chacha Dance ini ditunjukkan saat PWMU.CO mewawancarai Product Branding Educate to Learn (E2L) Raja Amirul Raja Nasron, Senin (5/3/18).

“Anak-anak Indonesia mungkin sudah mengenal Upin Ipin dan Boboboy. Nah, Chichi Chacha ini juga semacam itu. Namun, muatan belajarnya lebih dalam,” tuturnya.

Saat menerima kunjungan peserta Rihlah Dakwah III Muhammadiyah Jawa Timur di Mercu Mustapha Kamal, Neo Damansara, Malaysia, dia menyampaikan E2L sudah 12 tahun berdiri membuat kartun animasi yang berjudul Chichi Chacha.

“Chichi Chacha adalah suatu program animasi yang ditayangkan di televisi. Ada empat tokoh utama yaitu Chichi, Chacha, Atan, dan Hujan,” ujarnya.

Pria yang kerap disapa Amir ini menjelaskan Chichi Chacha adalah karakter harimau. Garang, tapi baik dan mudah diingat.

“Sedangkan Atan adalah seekor monyet dan Hujan adalah anak Tarzan. Top Edutainment Show menjadi tema kartun animasi anak usia empat hingga delapan tahun,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, Chichi Chacha telah dikenal di Malaysia, berdampingan dengan Upin Ipin dan Boboboy.

“Kami meraih 2,6 juta viewers pada sesi pertama. Jumlah ini terus meningkat pada sesi dua dan tiga. Saat ini kami sedang mengerjakan sesi empat,” jelas Amir.

Karakter Chichi Chacha menyambut kunjungan Rihlah Dakwah III Muhammadiyah Jatim. (Foto: Tari/PWMU.CO)

Dia menegaskan, untuk setiap episode dengan durasi 30 menit, dibutuhkan waktu dua bulan penyelesaian.

“Ini karena jumlah tim yang terbatas. Tidak seperti Upin Ipin yang melibatkan 400 orang pegawai,” tegasnya.

Sementara itu, Content Creation E2L Faradhila Fadhil menyampaikan selama E2L telah melatih lebih dari 10.000 guru dan mendirikan lebih dari 50 perpustakaan mainan.

“Perpustakaan ini tanpa buku, hanya ada mainan di dalamnya. Jadi anak-anak belajar melalui mainan. Ada juga buku-buku pembelajaran yang kami produksi dan learning materials seperti kotak imajinasi anak, dan flashcard,” ucapnya.

Farah—panggilan akrabnya—menjelaskan Pemerintah Malaysia telah menjadikan E2L sebagai rujukan pendidikan anak melalui dua produk unggulan yaitu Chichi Chacha dan Fikir.

“Fikir ini semacam Facebook untuk menyatukan guru dan siswa d Malaysia. Jadi dalam komunitas online ini, guru di Selangor bisa belajar dari guru di Serawak, dan sebaliknya. Portal online ini juga menjadi rujuan pembelajaran seperti sebuah sistem pendidikan mini di Malaysia,” jelasnya.

Perempuan muda ini juga menyebutkan satu aktivitas luar yang dilakukan E2L setiap bulan yaitu Learning Camp.

“Kami lakukan dari pagi hingga menjelang petang. Kegiatan ini untuk mendekatkan anak-anak dengan lingkungan dan menyayangi alam sekitar,” ungkapnya.

Farah mengungkapkan, E2L pernah ke Yogyakarta untuk bertemu dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Pimpinan Pusat Aisyiyah dalam rangka menjalin kerja sama program pendidikan.

“Ada training program untuk guru, creating the online learning ecosystem, creating lesson plan, dan developing a customized animation IP,” terangnya.

Farah menyampaikan salah satu hasil kunjungan itu adalah Chichi Chacha sesi 1, 2, dan 3 akan ditayangkan di TVMU. (Ria Eka Lestari)