Pengamal Militan Surat Al Alaq Itu Bernama PWMU.CO

100
Hikmah Press
Mari Prima Kristanto (Dok/PWMU.CO).

PWMU.CO – Kiprah Muhammadiyah identik dengan dakwah yang khas bersama tumbuhnya amal usaha-amal usaha di bidang dakwah, pendidikan, sosial, dan kesehatan. Dari berbagai amal usaha bercorak sosial, Muhammadiyah telah identik dengan surat Al Maun yang menganjurkan menyantuni kaum fakir miskin.

Selain pengamal militan surat Al Maun, belum banyak yang menyadari bahwa Muhammadiyah juga pengamal surat Al Alaq yang militan.

iklan

Mengacu pada wahyu pertama yang diturunkan yaitu surat Al Alaq ayat 1-5 tentang perintah iqra (bacalah). Perintah membaca diwujudkan Muhammadiyah dengan membangun budaya membaca, menulis, dan menerbitkan media.

Tanpa melupakan kuasa Allah Swt, hakikatnya kekuatan Persyarikatan yang eksis hingga saat ini salah satunya berkat militansi para jurnalis atau penulis di dalam internal Persyarikatan.

Majalah Soeara Moehammadijah yang dirintis oleh KH Ahmad Dahlan dan H Fachrudin pertama kali terbit pada bulan Dzulhijjah tahun 1333 H atau 1915 M.

Sebagai seorang ulama besar, KH Ahmad Dahlan tidak banyak meninggalkan kitab, tetapi telah menanamkan semangat literasi yang demikian kuat di kalangan warganya.

Tetap eksis selama 102 tahun merupakan perjalanan yang sangat panjang bagi media massa Islam.
Gerakan budaya literasi hadir laksana pemantik api semangat, pemersatu, sekaligus penyebar ide-ide Muhammadiyah kepada semua lapisan masyarakat yang terdiri dari warga, simpatisan, pemerintahan, bahkan ‘musuh-musuh’ Muhammadiyah.

Baca Juga:  Sempat Berhenti di Tiga Masjid, 103 Km pun Dilalui untuk Hadiri Milad Ke-2 PWMU.CO

Meskipun Muhammadiyah tidak hadir untuk mencari ‘musuh’, namun sejarah mencatat banyaknya gangguan, hambatan, dan rintangan dalam 105 tahun berkiprah di Nusantara.

Gerakan literasi yang ditanamkan Suara Muhammadiyah telah memberi inspirasi bagi warga Muhammadiyah di penjuru daerah untuk berdakwah dengan media.

Sebagaimana Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menerbitkan Majalah Matan, ibu-ibu Aisyiyah tidak mau kalah menerbitkan majalah Walidah yang bercorak majalah wanita. Keberadaan media-media lain tidak mematikan Suara Muhammadiyah sebagai tonggak sejarah gerakan literasi Muhammadiyah.

Seiring perkembangan zaman, alhamdulillah Suara Muhammadiyah (SM) telah hadir dalam format digital tanpa meninggalkan format cetak.

Era digital telah memberi warna tersendiri dalam kehidupan masyarakat termasuk dalam aktivitas dakwah Islam. Grup-grup di media sosial yang dihadirkan warga Muhammadiyah banyak beredar di dunia digital. Pada saat banyak kalangan mulai resah terhadap dampak mudarat media sosial, Muhammadiyah hadir mewarnainya. Generasi digital Muhammadiyah mewarnai dunianya dengan menyebarkan kabar baik, akurat, dan terpercaya.

Kehadiran PWMU.CO
Hasil positif telah banyak diraih Muhammadiyah dalam mewarnai literasi digital. Salah satunya pada awal tahun 2017, seorang mualaf mewakafkan tanah di Cileungsi Bogor, Jawa Barat. Kebaikan mualaf ini dikabarkan oleh PWMU.CO. Dari hasil share kabar itu memberi hidayah pada salah seorang pemilik tanah ikut berwakaf di Muhammadiyah.

Baca Juga:  Catatan Jelang Milad: Fenomena Ber-PWMU.CO dengan Bahagia

Dengan demikian, media digital terbukti mampu menyebarkan semangat kebaikan jika berada di tangan manusia bijak. Kehadiran media digital PWMU.CO sebagai portal media online resmi Lembaga Informasi dan Komunikasi (LIK) PWM Jatim pada 18 Maret 2016 turut mewarnai literasi digital. Banyak kalangan internal maupun eksternal Muhammadiyah merasakan manfaatnya.

Internal Muhammadiyah semakin kuat kecintaannya pada organisasi masyarakat berkat media digital. Sedangkan kalangan eksternal semakin paham dengan gerak langkah serta kebijakan Muhammadiyah dalam menyikapi fenomena ekonomi, sosial, dan politik yang terjadi.

Kini, jurnalis-jurnalis baru lahir dari penjuru cabang dan ranting Muhammadiyah yang selama ini nyaris tidak terdengar. Jurnalis generasi digital antusias berbagi kebahagiaan mereka dalam melakukan aktivitas di Muhammadiyah. Aktivis Muhammadiyah di daerah terpencil tidak lagi merasa sendirian dan kesepian berkat media digital.

Saat tulisan tentang aktivitas Muhammadiyah di daerah mereka ditayangkan di media digital milik PWM Jatim ini, aura kebahagiaan terpancar pada mereka. Media digital memiliki kelebihan dibandingkan media konvensional. Media digital lebih murah, cepat dengan ruang halaman yang unlimited memungkinkan untuk menyajikan ungkapan suka cita segenap warga persyarikatan di seluruh penjuru daerah, nusantara bahkan dunia. Kiriman-kiriman ungkapan suka cita dalam aktivitas ber-Muhammadiyah nyaris mendapatkan layanan tanpa tolak dari PWMU.CO.

Baca Juga:  Sempat Berhenti di Tiga Masjid, 103 Km pun Dilalui untuk Hadiri Milad Ke-2 PWMU.CO

Hal ini berimbas pada generasi digital Muhammadiyah yang juga aktif di dunia nyata, di samping dunia maya. Terbukti dalam acara kopi darat wartawan, editor, dan kontributor selalu berlangsung meriah di gedung PWM Jatim. Antusiasme kopi darat sebagai bentuk luapan rindu dan penularan semangat dakwah sesama warga Muhammadiyah yang telah bersua di dunia maya.

Revolusi digital telah digenggam generasi milenial Muhammadiyah dengan indah dan beradab. Kecepatan era digital insyaallah bisa membawa Muhammadiyah berkembang luas dan maju lebih cepat. Eksistensi dan kemampuannya menjaga keutuhan organisasi bersama masyarakat sejak masa kolonial hingga masa milenial sebagai modal menuju lebih baik.

Muhammadiyah tidak bisa sendirian mewujudkan Indonesia lebih makmur, adil, dan beradab. Harapan kepada seluruh elemen bangsa dan masyarakat bersama-sama membangun sinergi kebaikan demi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selamat Milad PWMU.CO! (*)

Kolom oleh Prima Mari Kristanto, Penulis buku Nabung Saham Syariah dan Auditor di Kantor Akuntan Publik Erfan & Rakhmawan Surabaya.