Demi Umat, Muhammadiyah Harus Membangun Hubungan dengan Semua Poros Politik

126
Hikmah Press
Nadjib Hamid saat memberi tausiyah dalam Pengajian Ahad Pagi. (Lilik/PWMU.CO)

PWMU.CO – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Nadjib Hamid MSi berpesan agar  memasuki tahun politik 2018 dan 2019, warga Muhammadiyah tidak buta atau antipolitik. Hal itu dia sampaikan saat menjadi pembicara dalamPengajian Ahad Pagi yang diadakan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kebomas, di Masjid At Taqwa, Giri, Kebomas, Gresik. (18/3/18).

Menurut mantan Komisioner KPU Jatim ini, politik bukan akidah. “Politik itu cair, dinamis. Jadi membangun lobi-lobi masih sangat penting dan relevan di lakukan bagi Muhammadiyah dan Aisyiyah,” ujarnya. Nadjib menegaskan, politik harus digunakan sebagai alat untuk kebaikan, menegakkan yang makruf, dan mencegah yang munkar.

iklan

“Muhammadiyah dan Aisyiyah harus aktif membangun hubungan dengan semua poros. Semua diselaraskan dengan kepentingan pembangunan dan pemberdayaan umat sesuai dengan program-program yang diusung Muhammadiyah.

Kekuatan lobi kepada pejabat pemerintah, lanjutnya, sangat penting diperhatikan. Di antaranya membangun silaturrahim agar saling kenal dan merawatnya dari tingkat bawah sampai atas.

Namun, dia berpesan, untuk tetap menjaga integritas agar selalu bersih dalam lobi-lobi dengan para pemangku jabatan.

Peserta Pengagajian Ahad Padi di Masjid At Taqwa. (NH/PWMU.CO)

Gaya Najib Hamid setiap mengisi acara selalu energik dan full power. Misalnya ketika melihat jamaah yang masih belum memenuhi masjid, menggunggah Nadjib Hamid untuk memberikan masukan bagaimana meningkatkan mutu pengajian yang baik. Yaitu dengan memperbaiki managemen pengajian.

“Untuk mendorong supaya panitia berikhtiar menambah jamaah, bukan saja kualitas, kuantitas juga perlu ditingkatkan. Diharapkan jamaah yang hadir tidak hanya warga Muhammadiyah tapi khalayak luas yang membutuhkan pencerahan,” pesannya.

Pak Nadjib, sapaan akrabnya, juga mengkritik, pengajian tidak seharusnya menunggu jamaah. “Berapa pun yang hadir kalau pengajian harus dimulai jam 6, tetap harus dimulai jam 6. Agar seterusnya biar jamaah yang menyesuaikan jadwal . bukan sebaliknya,” ujarnya.

Dia juga mengusulkan agar pengajian sebaiknya dilaksanakan di luar. “Tidak di dalam masjid, agar syiar lebih terlihat,” ucapnya.(Lilik Isnawati)