Agar Tak Jadi Momok setelah Matematika, Begini Model Tokcer Pembelajaran Bahasa Jawa

95
Hikmah Press
Rafi Syaifullah membacakan puisi berbahasa Jawa. (foto: tari/pwmu.co)

PWMU.CO – Meski banyak siswa yang menjadikan Bahasa Jawa sebagai momok nomor dua setelah Matematika, namun puisi berbahasa Jawa terbukti mampu memunculkan kepercayaan diri mereka. Hal ini disampaikan Koordinator Ujian Praktik Bahasa Jawa SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik Prima Ari Rosyida, Selasa (20/3/18).

“Dengan membaca puisi berbahasa Jawa, siswa akan belajar berbicara bahasa Jawa dengan sederhana dan singkat. Ekspresi mereka juga bisa terasah di sini. Saat tampil tanpa microphone, kepercayaan diri akan muncul seiring dengan lantangnya suara,” tuturnya.

iklan

Dia melanjutkan, rata-rata kesulitan siswa berpuisi Bahasa Jawa adalah membaca a menjadi o. “Terkadang banyak yang masih membaca kata sesuai tulisannya. Misal ‘sapa’ harusnya dibaca ‘sopo’, tapi tetap.dibaca sesuai tulisan. Akhirnya jadi campuran Bahasa Jawa dan Indonesia deh. He he,” ujarnya sembari tertawa.

Senada dengan itu, siswa kelas VI Rafi Syaifullah membenarkan kesulitan membaca kata. “Iya kadang bingung kata ini dibaca a atau o. Tapi saya lebih suka baca puisi daripada teks, karena teks itu lebih panjang. Jadi capek bacanya, apalagi Bahasa Jawa. Kalau puisi kan singkat. Jadi sedikit saja salahnya,” ucap Rafi, sapaannya.

Rafi mengaku tidak memerlukan waktu yang panjang untuk menyiapkan diri menghadapi Ujian Praktik ini. “Hanya 15 menit saja kok belajarnya tadi malam. Karena puisi itu kata-katanya kan sedikit, jadi semangat belajar dan cepat lancar baca puisinya,” ungkapnya.

Ditemui usai tampil di Aula SDMM, Naurelia Nasywa Az Zahra—teman Rafi—juga mengalami hal yang sama. “Bahasa Jawa tuh sulit. Apalagi kalau tentang aksara Jawa dan krama alus. Tapi kalau berpuisi, saya suka meski masih bingung mana yang dibaca a dan o,” jelasnya. (tari)