Tiga Ciri Peradaban Islam yang Harus Diperjuangkan Kader

206
Hikmah Press
Nely Izzatul/pwmu.co
Dahnil Simanjuntak dalam acara Tabligh Akbar di Sedayulawas.

PWMU.CO-Watak dan jati diri Muhammadiyah adalah peradaban Islam yang berkemajuan. Ada  tiga ciri peradaban Islam yang maju yang harus diperjuangkan para kader dalam berdakwah.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak dalam acara Tabligh Akbar dengan tema Peran Pemuda dalam Mengukir Peradaban Islam yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah (PRPM) Sedayulawas di halaman Masjid Taqwa Sedayulawas Brondong Lamongan, Jumat (23/3/2018).

iklan

Baca Juga: Larangan Dahnil agar Kadernya Tidak Jadi Fans Boy di Tahun Politik Ini

Dahnil membeberkan tiga ciri peradaban Islam yang maju itu, pertama, tauhid murni. “Kiai Haji Ahmad Dahlan saat mendirikan Muhammadiyah bertujuan untuk mengembalikan ketauhidan yang murni. Menghilangkan kepercayaan terhadap tahayul, bid’ah, khurafat. Maka anak muda tidak perlu takut apapun dan kepada siapapun selama itu untuk menegakkan kebenaran. Takutlah hanya kepada Allah SWT,” tegasnya.

Kedua, akhlak yang baik. “Islam yang paling utama adalah akhlak yang baik. Bukan hanya bermodal syariah saja. Sekarang di negara kita ini tidak kekurangan orang yang cerdas. Namun sayang, kita kekurangan orang yang berakhlak,” ujarnya.

Ketiga, ilmu pengetahuan tinggi. “Dalam mewarisi peradaban, Rasulullah dan para sahabat tidak meninggalkan dalam bentuk fisik. Tapi Rasulullah meninggalkan ilmu pengetahuan. Berbeda dengan Firaun. Dia meninggalkan piramida. Tapi piramida itu dibangun dengan memperbudak rakyat untuk membangun simbol-simbol itu. Sedangkan Islam, dibangun dengan tradisi akhlak dan ilmu yang tinggi,” kata dia.

Selain itu Dahnil menyeru agar umat Islam bersatu dan tidak mudah dibodohi. Kepada kader Pemuda Muhammadiyah ia berpesan agar selalu berani menyuarakan kebenaran. Karena Muhammadiyah berdiri atas nama kebenaran dan kepentingan kebangsaan.

Dia berpesan, agar kader bergembira dalam menghadapi perbedaan. “Perbedaan itu tidak perlu ditakuti tapi substansinya perlu digembirakan. Dalam rangka ber-Muhammadiyah kita harus gembira,” tuturnya. (Nely Izzatul Maimanah)