Motto Mubaligh Muhammadiyah, Berdakwah karena Allah Bukan karena Amplop

106
Hikmah Press
Suasana pengajuan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Panceng di masjid Ar-Royan (foto: Afi/pwmu.co)

PWMU.CO-Majlis Tabligh Pimpinan Cabang (PC) Muhammadiyah Panceng-Gresik terus inten menggelar pengajian rutin setiap bulan. Pengajian dilakukan dari ranting ke ranting. Acara ini digelar dalam rangka meningkatkan wawasan anggotanya. “Alhamdulillah pengajian bergilir yang diadakan PCM Panceng selalu berjalan lancar, berkat kerjasama dari setiap Pimpinan Ranting Muhammadiyah se-cabang Panceng,” kata Ketua Majlis Tabligh PCM Panceng Rusiyan dalam sambutannya, Jum’at (23/3/2018).

Kegiatan pengajian kali ini dipusatkan di ranting Karangtumpuk, Ujar dengan menghadirkan narasumber Ustad Moh. Imron., MPd, pimpinan Daerah Muhammadiyah Lamongan. Tak hanya warga setempat, seluruh pimpinan cabang Muhammadiyah, pimpinan ranting Muhammadiyah, dan ortom se Cabang Panceng juga ikut hadir di pengajian tersebut.

Baca Juga:  Inilah Ranting Baru Penuh Inovasi Gerakan Dakwah
iklan

Karangtumpuk merupakan ranting yang berada di wilayah Panceng, Gresik, tetapi berbatasan dengan wilayah Paciran. Di dekat sini, ada satu ranting kecil yang jajaran pimpinan rantingnya hanya ada sembilan orang, yakni Ranting Palo, Cabang Paciran. “Jangankan masjid apalagi TK, musholla saja tidak punya,” aku Ustadz Moh. Anwar dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah Paciran.

Untuk itu, lanjut dia, pihaknya sering mengadakan kegiatan di kawasan sini dengan meminjam masjid Ar-Royan sebagai tempatnya. Dalam kesempatan itu juga, ia mengingatkan bahwa kelak di akhirat akan ada lima golongan yang tidak akan diperhatikan Allah dan termasuk golongan orang-orang kafir, yakni orang yang pelit atau bakhil (al-bakhil), akhlaknya jelek, tidak baik dengan tetangga, sombong, danmemutus silaturahmi.

Baca Juga:  Amien Rais: Saya Sungguh Gagal Paham! Kok Ada Ulama yang Setuju Pemimpin Kafir  

“Adapun kriteria al-bakhil atau pelit ada tiga macam, yakni pelit harta benda, pelit ilmu, dan pelit sosial,” jelas dia.

Atas dasar itulah, tambah dia, pihaknya mendasarkan gerakannya. Dikatakan, mubaligh Muhammadiyah berbeda dengan mubaligh lainnya, yang mendapat julukan kyai amplop. Jika tidak ada imbalan sejumlah uang sesuai dengan yang diminta, dia tidak hadir. Atau bahkan kyai yang meminta uang muka (DP) sejumlah uang sebelum datang menyampaikan tausiyah.

“Naudzubillahi min dzalik. Sejatinya, orang seperti itu bukanlah mubaligh, karena ayat Allah tidak untuk dijual,” tegas dia.

Disampaikan, motto mubaligh Muhammadiyah adalah aku berdakwah semata mata karena Allah, tidak meminta imbalan dan tidak meminta sanjungan (Afi)

Baca Juga:  Inilah Ranting Baru Penuh Inovasi Gerakan Dakwah