Terungkap, Ternyata Warog Ponorogo Bukanlah LGBT Gaya Jawa

83
Hikmah Press
Para narasumber tampil di kegiatan Talkshow Kebudayaan yang digelar BEM Fakultas Agama Islam (foto:Alip Ponorogo/pwmu.co)

PWMU.CO-Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Agama Islam menggelar Talk Show Kebudayaan yang bertajuk “Menumbuhkan Kesadaran Nilai Pendidikan Islam berbasis Kearifan Lokal Ponorogo”, Sabtu (24/3/2018). Acara ini diikuti ratusan peserta yang memadati ruang seminar lantai 4 Gedung rektorat. Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan atraksi Reyog Santri Simo Budi Utomo Universitas Muhammadiyah Ponorogo.

Selain Drs. Rido Kurnianto, M.Ag, seminar yang digelar kota reog ini juga menghadirkan sejumlah narasumber seperti Ketua Yayasan Reyog Ponorogo, Marji, S.Pd dari Dinas Pariwisata, dan sesepuh Warog Ponorogo H.Ahmad Tobroni Turedjo.

iklan

Mbah Tobron–sapaan akrab Ahmad Tobroni Turedjo— dalam pemaparannya menjungkirkan balikkan konsep warog yang selama ini dipahami oleh sebagian masyarakat bahwa Warog itu LGBT gaya Jawa. “Hubungan warog dengan gemblag itu, seperti anak asuh, disekolahkan ben pinter bukan homo (disekolahkan biar pintar bukan menjadi homo, Red),” jelas Mbah Tabron di hadapan ratisan peserta yang hadir.

Sementara itu, Drs. Rido Kurnianto,M.Ag menambahkan dalam kontek hubungan warog dengan gemblag dalam tradisi  pada waktu itu. Menurut Rido, pada waktu itu, warog mengasuh anak remaja bertugas melayani warog dalam menyiapkan uborampe, segala keperluan untuk nglakoni semedi (menjalani semedi).

“Tradisi gemblag ini karena nglakoni, faktor tuntutan ideologi kanuragan yang mengharuskan seorang warog menghindari berhubungan dengan perempuan, sebagai kompensasi yang seharusnya dilakukan istri dalam beberapa hal, harus diganti seorang laki-laki dalam menyiapkan keperluan tirakat atau semedi,”  tutur Rido.

Lebih lanjut Rido menjelaskan mengenai hasil penelitiannya, yang mengungkap temuan kearifan religius (religius wisdom) dalam simbol-simbol yang terdapat dalam kesenian reog yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana membangun pendidikan karakter seperti yang terdapat dalam senjata pamungkas Klonosuwandono, sebagai tokoh raja harus memiliki senjata pamungkas berupa pecut samandiman.

Senjata bagi seorang pemimpin diterjemahkan secara gamblag harus memiliki pegangan kuat yaitu al Quran dan As Sunnah. “Makna simbol senjata pamungkas seorang pemimpin harus berpegang kepada nilai al Quran dan As Sunnah sebagai pedoman dalam kepemimpinannnya. Inilah yang harus ditaati oleh rakyatnya, sebuah ketaatan untuk mendukung tugas khalifah di muka bumi,” jelasnya.

Marji,S.Pd dari Dinas Pariwisata mengaku cukup bangga dengan dinamisasi kesenian reog yang terus berkembang dengan hadirnya varian Reyog Santri yang mengusung nilai dakwah dalam mewarnai dunia kesenian reog.

“Alhamdulillah kehadiran reog santri ini perlu dimasifkan sehingga menepis anggapan bahwa reog identik dengan budaya miras, sawer, dan mistik dapat berangsur angsur hilang” Pungkasnnya (Alip Ponorogo)