Tak Hanya Tahun 2018, Ramadhan dan Idul Fitri Akan Bersamaan hingga 2021

774
Hikmah Press
Nur Cholis Huda saat mengisi pengajian rutin di Masjid Al Furqon, Jl Simolawang I/9 Surabaya, 25/3. (foto: habibie/pwmu.co)

PWMU.CO – Tak lama lagi, Sebentar lagi umat Muslim Indonesia akan memasuki bulan yang mulia yaitu bulan Ramadhan 1439 H. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, kehadiran bulan ini juga disambut umat Islam dengan perasaan gembira dan bahagia. Tak pandang usia, semuanya bergembira menyambut bulan penuh berkah ini.

Demikian disampaikan oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Nur Cholis Huda, dalam pengajian rutin di Masjid Al Furqon, jalan Simolawang 1 No 9 Simokerto Surabaya. Ahad (25/03). “Kalau menjelang Ramadhan, orang yang seperti saya, sudah usia lanjut, sudah usia lansia, itu, sangat berharap mudah-mudahan menangi atau berjumpa dengan bulan Ramadhan.”

iklan

“Saya itu lahir tahun 1953. Jadi sekarang sudah umur 65 tahun,” lanjut Nur Cholis tentang gambaran usianya. Dulu waktu masih muda, lanjutnya, seperti tidak mikir mudah-mudahan berjumpa dengan Ramadhan atau tidak. “Kalau sekarang umur 65 tahun, ya Allah mudah-mudahan menangi (berjumpa),” jelasnya sambil menyatakan bahwa dalam hitungan “orang Jawa”, usia 65 sudah berarti “matahari tenggelam”.

Dalam kesempatan itu, Nur Cholis juga menyatakan salah satu kebahagiannya kepada jamaah. Terutama tentang kebersamaan awal-akhir bulan Ramadhan maupun Idul Fitri di kalangan hisab maupun rukyah. “Alhamdulillah, Insyaallah tahun ini Ramadhannya bareng. Tahun depan bareng, tahun depannya lagi bareng, sampai tahun 2021 bareng. Begitu juga hari rayanya bareng,” jelas penulis buku “Islam Itu Mudah dan Indah” itu.

Baca Juga:  Penjelasan Medis untuk Hadits 10 Hari Pertama Ramadhan adalah Rahmat dan 10 Hari Berikutnya Ampunan

Tentang kebersamaan Ramadhan dan Idul Fitri di Indonesia hingga tahun 2021 secara mudah bisa dirujuk pada berbagai kriteria “kedatangan bulan baru (hilal)”, baik hisab maupun rukyah.

Di Indonesia ada beberapa ormas yang memiliki kriteria. Misalnya, Muhammadiyah yang menggunakan wujudul hilal. Ketika menentukan awal Ramadhan, saat posisi hilal beberapa derajat saja positif, maka besoknya sudah masuk puasa atau Idul Fitri. Begitu juga, untuk menetapkan lebaran.

Sementara untuk kalangan rukyah, juga mulai ada “kemajuan”. Sebab, sekarang sudah tidak benar-benar melakukan rukyah hilal dengan mata telanjang, melainkan juga punya kriteria. Apalagi dengan hadirnya “imkanur-rukyah” yang seringkali dijadikan kriteria oleh pemerintah Republik Indonesia, maka kebersamaan atau perbedaan awal Ramadhan maupun Idul Fitri sudah sangat bisa diprediksi.

Baca Juga:  Kisah Mahasiswa Indonesia Jadi Rebutan Sedekah di Yaman

Kriteria imkanur rukyah menyatakan bahwa bulan baru telah masuk jika “posisi” hilal minimal berada di angka positif dua derajat. Sehingga ketika dalam keadaan mendung, dan hilal tidak terlihat secara kasat mata, tapi secara hisab telah di atas 2 derajat, maka keesokan harinya telah masuk bulan baru.

Peluang puasa dan lebaran secara bersamaan hingga tahun 2021 tersebut terjadi bagi masyarakat yang memiliki pemahaman melihat hilal di posisi di atas dua derajat.

Perlu diketahui bahwa setidaknya terdapat dua metode dalam penetapan awal bulan hijriah: rukyah dan hisab. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, selain rukyat bil’ain (mata telanjang), juga dilakukan rukyat bil ilmi (rukyat melalui perhitungan ilmiah), yang kini lebih dikenal dengan ilmu hisab atau ilmu falak.

Dalam sistem rukyat bil’ain, atau lazim disebut rukyah saja, mengharuskan seseorang melihat hilal tanggal 29 bulan Qamariyah. Jika hilal dapat dilihat ketika matahari terbenam (saat terjadinya ijtima’), maka malam itu dan keesokan harinya dinyatakan sebagai bulan baru. Jika tidak, disempurnakan (istikmal) menjadi 30 hari.

Baca Juga:  Hindari 9 Perbuatan Ini Agar Puasa Ramadhan Tidak Sia-Sia

Sementara dalam hisab, di Indonesia ada dua aliran: haqiqi dan urfi. Hisab urfi adalah sistem perhitungan kalender yang didasarkan pada peredaran rata-rata bulan mengelilingi bumi dan ditetapkan secara konvensional.

Hisab haqiqi didasarkan pada peredaran bulan dan bumi yang sebenarnya, bahwa umur tiap bulan tidaklah konstan dan juga tidak beraturan, tergantung posisi hilal setiap awal bulan. Sehingga boleh jadi dua bulan berturut-turut umurnya 29 hari atau 30 hari atau boleh jadi bergantian.

Sejak Muktamar Jakarta (2000), Muhammadiyah memutuskan menggunakan sistem hisab hakiki dengan kriteria wujudul hilal dan mathla’ nasional, yang lebih disempurnakan lagi dalam Munas Tarjih ke-26 di Padang (2003).

Menurut wujudul hilal yang dipedomani Muhammadiyah, bulan baru qamariyah terjadi jika telah memenuhi tiga kriteria, yang penggunaannya harus terpenuhi sekaligus. Yakni, telah terjadi ijtima’; Ijtima’ terjadi sebelum matahari terbenam; dan Piringan/hilal berada di atas ufuk. (habibie/paradis)