Materinya Makjleb, Mubaligh-Dokter Ini ‘Digandoli’ Jamaah Pengajian

    615
    Hikmah Press
    Ustadz dr Tjatur Prijambodo MKes di Masjid At Taqwa WSI. (MN/PWMU.CO)

    PWMU.CO – Kehadiran seorang mubaligh dengan latar belakang profesi dokter ternyata berhasil menggairahkan jamaah pengajian. Demikian yang terjadi saat dr Tjatur Prijambodo MKes hadir sebagai juru dakwah dalam Pengajian Ahad Pagi di Masjid At Taqwa, Wisma Sidojangkung Indah (WSI), Menganti, Gresik, (1/4/18).

    Sekitar 200 jamaah yang memadati masjid, terkesima oleh uraian Direktur Rumah Sakit Aisyiyah Siti Fatimah, Tulangan, Sidoarjo itu. Pasalnya, tema yang disampaikan sederhana dan merupakan persoalan sehai-hari yang berkaitan dengan hajat hidup jamaah.

    iklan

    Apalagi pembahasannya dikaitkan dengan ilmu kedokteran, sesuai dengan background sang mubaligh yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya tersebut.

    Dalam pengajian yang dihadiri jamaah dari berbagai warga perumahan di sekitar Menganti itu, Dokter Tjatur—begitu ia kerap disapa—menyampaikan tema Rasulullah sebagai Uswatun Hasanah: Perspektif Alquran Alhadits, dan Kesehatan. Kepada jamaah, dia menguraikan beberapa sisi kehidupan Nabi SAW yang ketika ditinjau dari sisi kedokteran modern, ternyata memiliki manfaat besar, termasuk dalam hal kesehatan. Misalnya tentang tidur dengan teknik miring ke kanan menghadap Kabah.

    “Dari riwayat yang saya pelajari, Rasulullah kalau tidur selalu miring ke kanan mengarah ke Kiblat (Kabah),” ujarnya. Belakangan ini, jelas dia, cara tidur seperti itu memiliki manfaat bagi kesehatan.

    “Di antaranya karena jantung yang posisinya di rongga dada sebelah kiri, bebas berfungsi karena tidak tertimpa oleh organ lain seperti paru atau lambung,” terangnya. Menurtunya, hal itu berbeda dengan jika miring ke kiri, telentang, atau tengkurap. Organ jantung akan terganggu. Sementara fungsi jantung sangat vital untuk menyuplai oksigen ke seluruh organ, termasuk ke otak, melalui peredaran darah.

    Jamaah Pengajian Ahad Pagi meluber di teras Masjid At Taqwa WSI. (MN/PWMU.CO)

    Dokter Tjatur menegaskan, dengan posisi seperti itu maka tidur jadi efektif sehingga bisa benar-benar menjadi momen bagi tubuh untuk beristirahat. “Karena itu tak perlu terpengaruh oleh anggapan bahwa tidur sehari harus 6-8 jam,” ucapnya.

    Jika tidur 6-8 jam diterapkan oleh umat Islam, maka Subuhnya bisa kesiangan. “Misalnya kita mulai tidur pukul 11 malam. Taruhlah jika harus tidur 6 jam, maka baru bangun pukul 5 pagi. Apa bisa jamaah Subuh di masjid. Terus tahajudnya kapan?” tanyanya yang disambut tawa hadirin.

    Mitos tidur 6-8 jam menurutnya sama tidak benarnya dengan anggapan bahwa sering-sering mandi malam bisa menyebabkan penyakit rematik. “Itu tidak ada hubungannya sama sekali,” tegasnya.

    Tjatur mengungkapkan, anggapan seperti itu adalah bagian propaganda agar umat Islam malas melaksanakan shalat Tahajud. Padahal, tambahnya, untuk bisa Tahajud dengan baik, harus mandi dulu biar segar dan tak didatangi lagi rasa kantuk.

    Masih banyak lagi masalah sehari-hari yang dikupas pria yang tinggal di Kota Sidoarjo itu yang menarik perhatian jamaah. Seperti pentingnya menata niat karena berhubungan dengan bagian otak hipotalamus yang akan memerintahkan organ lainnya sesuai dengan niatnya.

    “Seperti shalat Tahajud, itu harus diniatkan bangun. Kalau tidak, maka tak bisa dijamin bangun,” ujarnya. Dokter Tjatur menjelaskan, jika diniati bangun, maka saat itu telinga diperintah hipotalamus untuk mendengar (alarm), mata diperintah melek, dan kaki diajak melangkah.

    dr Tjatur Prijambodo MKes di hadapan jamaah. (MN/PWMU.CO)

    Soal marah juga menjadi bahasan menarik. Menurut dia, 60 persen orang yang mengalami stroke disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah yang ada di otak. “Dan 80 persen dari 60 persen itu dipicu oleh kemarahan,” urainya. Karena itu, sambungnya, Nabi SAW melarang umatnya untuk marah.

    Bahasan menarik tentang masalah sehari-hari yang dikaitkan dengan teladan Nabi dan ilmu kedokteran itu tak ayal membuat waktu satu jam yang disediakan panitia tidak mencukupi. Atas permintaan jamaah, waktu pengajian pun terpaksa harus ditambah 30 menit, mengingat banyak peserta yang mengajukan pertanyaan. Itu pun hanya lima pertanyaan yang bisa dilayani.

    Bukan cuma itu, usai pengajian, beberapa ibu menemuinya untuk berkonsultasi masalah pribadi. Praktis dokter Tjatur harus dua jam berada di Masjid At Taqwa. Padahal durasi pengajian hanya satu jam: pukul 06.00-07.00 WIB.

    Antusiasme jamaah dibenarkan oleh Ketua Pengurus Masjid At Taqwa WSI Drs Sukatmanto. “Isi materi ceramah kemarin luar biasa. Sangat bagus. Dari isi materi sangat membantu dan menambah pengetahuan kita. Dari omongan jamaah yang hadir, mereka sangat puas dan pengin diadakan seperti itu lagi,” ungkapnya.

    Sebenarnya ini adalah kali kedua dokter Tjatur mengisi pengajian di WSI. Dimintai komentarnya oleh PWMU.CO, Senin (2/4/18) soal resep ceramah yang disukai jamaah, Tjatur berkomentar singkat, “Dakwah itu harus aplikatif dan bisa dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat.”

    Oh ya Dok, kalau ngisi lagi jangan lupa bawa stetoskop, alat cek gula darah, dan obat-obatan, he-he-he … biar makin digandoli jamaah! (MN)