Politik Itu Persoalan Lobi dan Komunikasi, Jangan Pandang Kotor atau Suci

123
Hikmah Press
Ikhsan Mahmudi/pwmu.co
ZAINUDDIN MALIKI

PWMU.CO – Sebagian besar warga Muhammadiyah masih gamang ketika dihadapkan pada masalah politik praktis. Ada yang beranggapan, politik itu itu kotor dan bukan wilayah agama sehingga warga Muhammadiyah tidak usah terlibat politik.

Hal itu terungkap dalam Kajian Ideopolitor (Ideologi, Politik, dan Organisasi) di kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Probolinggo, Ahad (1/4/2018). Kegiatan yang diikuti puluhan peserta dari jajaran PDM, PDA, dan ortom menghadirkan tiga narasumber, Drs Nadjib Hamid MSi, Prof. Dr Zainuddin Maliki, dan Dr Latifun MKes.

iklan

Baca Juga: Muhammadiyah Tidak Boleh Canggung di Tahun Politik

”Sebagian umat Islam menganggap politik itu kotor sehingga mereka fobia politik. Padahal politik itu bagaimana kita mengelola kekuasaan. Politik itu lobi dan komunikasi,” ujar Prof. Zainuddin.

Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) itu menilai, orang-orang Muhammadiyah terlalu tegang menyikapi politik. ”Kita pun biasanya gagap begitu terjun ke dunia politik,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Nadjib yang sebelumnya membuka Kajian Ideopolitor sekaligus menjadi narasumber. Dikatakan, melalui pintu kekuasaan politik banyak hal yang bisa diperbuat umat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mantan komisioner KPUD Jawa Timur itu mengaku, dirinya memang tidak pernah terjun sebagai politisi baik di eksekutif maupun di legislatif. Tetapi dengan mengenal dan berdekatan dengan para politisi justru memudahkan untuk membuka jalan bagi kemajuan Muhammadiyah.

”Misalnya, saya melobi Pak De (Gubernur Jatim Soekarwo, Red.) agar Pemprov Jatim berlaku adil terhadap Muhammadiyah dalam hal pemberian bantuan. Nyatanya diterima dengan baik dan lancar,” ujarnya. Demi umat, Muhammadiyah disarankan untuk menjalin komunikasi dengan kekuatan politik parpol manapun.

Sementara Latifun yang berbicara di penghujung sekaligus menutup Kajian Ideopolitor memaparkan potensi sekaligus tantangan yang dihadapi Muhammadiyah. ”Indikator kemajuan Muhammadiyah bisa dilihat dari bertambahnya AUM (Amal Usaha Muhammadiyah) dari segi kualitas dan kuantitas, juga peran Muhammadiyah dalam mewarnai masyarakat, dan transformasi kader,” ujar dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu.

Sesi tanya-jawab dalam kajian yang dimulai pagi hingga sore hari itu pun menjadi ajang curhat sejumlah politisi, mantan politisi, calon politisi, dan warga Muhammadiyah. ”Saya jadi pesimis ketika Pak Profesor Zainuddin menjelaskan, politik sekarang mengarah ke transaksional. Soalnya kalau kualitas, insya Allah saya bisa belajar, tapi ’isi tas’ (uang, Red.) saya tidak punya,” ujar Maskodi.

Dengan tertawa Zainuddin pun mengakui, dirinya juga masih ”muallaf” dalam politik. ”Ya Anda harus optimistis, jangan keburu minder sebelum mencoba,” ujarnya.

Sementara itu Ketua PDM Kota Probolinggo Drs Masfuk MSi berharap, agar Kajian Ideopolitor itu bisa menjadi bekal bagi warga persyarikatan. ”Memasuki tahun politik, segala sesuatu bisa sensitif. Karena itu warga Muhammadiyah perlu meneguhkan ideologinya,” ujarnya. (Ikhsan Mahmudi)

Ikhsan Mahmudi/pwmu.co
NADJIB HAMID