Kala Aktivis dan Sineas Nobar Film Mahaguru Tan Malaka di Kafe Gazebo Literasi

    346
    Hikmah Press
    Aktivis, mahasiswa, dan masyarakat umum memenuhi Kafe Gazebo Literasi saat nobar film Mahaguru Tan Malaka.
    (Anny/PWMU.CO)

    PWMU.CO – Memeringati Hari Film Nasional (HFN) yang jatuh tiap 30 Maret, Kafe Gazebo Literasi mengadakan nonton bareng (nobar) film Mahaguru Tan Malaka, Kamis (29/3/18). Selain bertepatan dengan peringatan HFN, pemutaran film besutan sutradara Daniel Rudi Heryanto tersebut juga sebagai upaya dekonstruksi pemikiran terhadap sosok Tan Malaka.

    Pasalnya, meski bergelar pahlawan nasional, namun tak semua orang mengenal sosok dari Sumatera Barat itu. Terlebih, pahlawan bernama lengkap Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka termasuk nama yang jarang muncul di buku-buku pelajaran sekolah lantaran keterlibatannya dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Alhasil, nama Tan Malaka menjadi nama yang cukup asing di telinga siswa.

    iklan

    “Padahal jasa Tan Malaka besar bagi bangsa Indonesia, salah satunya melalui sekolah yang didirikannya di Semarang,” ujar Rudi, sapaan karib Daniel Rudi Haryanto yang hadir dalam nobar tersebut.

    Film dokumenter ini dikemas ala vlog traveler. Film yang diperankan oleh Rolando Octavio sebagai Marco ini menyusuri Kota Leiden dan Harlem di Belanda untuk mengambil langsung kisah saat Tan Malaka mengenyam pendidikan di sana.

    Adalah Profesor Harry A. Poeze yang dalam film tersebut menemani perjalanan Marco menyusuri tempat-tempat yang berkaitan dengan Tan Malaka di Belanda. Nama Poeze tak bisa dilepaskan dari sejarah Tan Malaka. Dialah sejarawan yang lebih dari 50 tahun meneliti pemikiran dan perjalanan hidup Tan Malaka dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk menguak semua misteri pahlawan yang wafat di Kediri tersebut.

    Film yang didanai oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini merebut antusias masyarakat, khususnya mahasiswa. Antusias itu tampak dari ratusan mahasiswa dan aktivis yang hadir memenuhi Kafe Gazebo Literasi untuk menyaksikan film berdurasi 73 menit ini.

    Ketua Korkom Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Rizky Ode Praptama berharap melalui film ini, masyarakat khususnya mahasiswa dan siswa dapat mengenal lebih dekat dengan Tan Malaka.

    “Ini kesempatan luar biasa bagi kami aktivis mahasiswa. Film kreatif ini bisa menjadi media belajar kekinian untuk mendalami sejarah pahlawan bangsa. Lewat film ini kami tahu dua hal, bahwa selain politisi, Tan Malaka juga seorang pendidik hebat yang kiprahnya bahkan lebih dikenal di dunia internasional,” kata Ode.

    Pemutaran film Mahaguru Tan Malaka di Kafe Gazebo Literasi merupakan pemutaran perdana sebelum film ini akan roadshow ke berbagai kota di Indonesia. “Kita ingin lihat bagaimana respon masyarakat tentang film ini. Ternyata antusias mereka sangat tinggi. Alasan lain mengapa Malang jadi tujuan pertama, karena mertua saya ada di kota ini,” ujar Rudi disambut gelak tawa penonton.

    Tak sebatas menonton, film ini juga memantik mahasiswa untuk berdiskusi lebih dalam. Bahkan, ada mahasiswa asal Sumatera Barat yang juga tengah meneliti Tan Malaka dalam skripsinya yang menambah keseruan diskusi. “Terima kasih film ini diputar di Malang. Kebetulan saya asli Sumatera Barat dan sedang meneliti tentang Tan Malaka. Film ini mendukung penelitian saya,” ujar Nabila, mahasiswa FISIB Universitas Brawijaya.

    Ke depan, film Mahaguru Tan Malaka akan diproduksi dalam bentuk film layar lebar. Film yang juga akan berdurasi 73 menit tersebut akan dipersembahakan Rudi untuk 73 tahun Kemerdekaan Indonesia. “Saya ingin mempersembahkan ini untuk Indonesia. Saya juga mendapat salinan tulisan-tulisan Tan Malaka dalam bentuk digital dari Profesor Poeze. Harapannya, kami bisa bertemu dengan Menteri Pendidikan Pak Muhadjir untuk memberikan bagian dari sejarah pahlawan kita tersebut,” ungkap Rudi di akhir kegiatan.

    Kafe Gazebo Literasi rutin mengadakan kegiatan nonton film bersama sekaligus diskusi yang dikemas dalam program Literasi Film. Selain itu, program lainnya mencakup literasi media, literasi agama, literasi budaya, literasi sastra, hingga literasi politik. (Isna)