Peduli Dakwah, Cetak Dai Srikandi Muhammadiyah

168
Hikmah Press
Para peserta pelatihan Daiyah bersemangat setelah mendapat materi dalam pelatihan (foto: Ernam/pwmu.co)

PWMU.CO-Menyadari pentingnya kewajiban berdakwah bagi setiap individu, Bidang Keputrian Takmir Masjid An-Nur Muhammadiyah Sidoarjo menggelar pelatihan Daiyah. Kegiatan pelatihan yang dipusatkan di ruang briefing SMA Muhammadiyah 2 (SMAMDA) Sidoarjo tersebut dilaksanakan, Sabtu (7/04/2018). Sebanyak 35 peserta dai dari kaum hawa ikut dalam pelatihan yang menghadirkan Ustadz Hadi Sucipto tersebut.

“Pelatihan Daiyah ini bertujuan untuk memberikan bekal kepada peserta agar dapat berdakwah di lingkungannya, baik sebagai penceramah maupun konselor,” papar Ketua Panitia Pelatihan Daiyah Masjid An-Nur Muhammadiyah Sidoarjo, Muflikhah.

iklan

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid An-Nur, Nor Chasan Basri menyebutkan ada tiga syarat menjadi Daiyah  Muhammadiyah atau Aisyiyah. Pertama, kata  Nor Chasan, seorang dai harus faham Muhammadiyah atau Aisyiyah agar bisa menjadi corong bagi organisasi. Kedua, lanjut dia, seorang dai harus faham ayat al Quran atau hadits. Bahkan jika serius bisa mereteli ayat atau hadits perkata.

“Jelas tidak mungkin menjadi daiyah, tampil di depan umum, disaksikan banyak orang tapi baca al Quran belum benar, masih grodal-gradul, tajwid belum tepat, apalagi menerjemahkan, ya sangat sulit”, ungkap pria yang biasa dipanggil Abi Hasan bersemangat.

Syarat ketiga, tambah dia, jangan gagap teknologi alias gaptek. “Banyak materi di google atau youtube yang bisa dijadikan referensi dan model dakwah. Teknik-teknik ceramah, cara buat slide yang menarik, semua ada. Makanya harus pandai menggunakan teknologi,” tutur guru Bahasa Arab SMAMDA ini.

Suasana pelatihan Daiyah yang digelar di SMA Muhamadiyah 2 Sidoarjo (foto: Ernam/pwmu.co)

Selama kegiatan pelatihan Daiyah, Ustadz Hadi Sucipto yang dihadirkan banyak mengupas tuntas teknik berceramah.  Pria asal Paciran yang dikenal dengan sebutan Ustadz TV One ini memberikan tips-tips berceramah atau berbicara di depan publik. “Berbicara di depan publik itu mudah ketika tahu ilmunya. Apapun, kalau sudah tahu ilmunya, semua jadi mudah, termasuk berceramah,” papar Ustadz Hadi Sucipto.

Para peserta semakin yakin dan mantap dengan kalimat Hadi Sucipto setelah disuruh praktik. Semua akhirnya membuktikan. Sebelum mendapatkan materi, para peserta kesulitan berbicara di depan, bingung, dan grogi. Mereka tidak tahu mau menyampaikan apa. Kondisi ini berbeda sekali dengan setelah peserta mendapat teorinya. Semua peserta bisa berceramah dengan lancar dan baik.(Ernam)