Sedih Karena Banjir, Bangga Karena Siswa Bertanggung Jawab

124
Hikmah Press
inayatudh/pwmu.co
Para siswa sudah punya tanggung jawab tanpa menunggu perintah.

PWMU.CO – Kondisi cuaca belakangan ini cenderung tidak menentu. Perubahan cepat terjadi pada kondisi cuaca yang tidak stabil dan susah diprediksi keadaanya. Tak jarang, prediksi cuaca panas dan cerah berakhir dengan hujan lebat. Curah hujan yang terjadi juga luar biasa tinggi, jauh dari prediksi perkiraan cuaca.

Seperti terjadi, Senin (9/4/2012) kondisi cuaca cenderung cerah hingga berawan. Namun, menjelang tengah hari, kondisi cuaca berubah sebaliknya. Hujan lebat terjadi lebih dari satu jam.

iklan

Akibatnya beberapa ruangan kelas di SD Muhammadiyah 01 Tanggul (MUHITA), Jember, terkena tampias air hujan sehingga menyebabkan ruangan kebanjiran.

Kala itu anak anak sedang belajar Tahsin sesuai dengan kelompok masing-masing yang bersifat rolling class untuk menyesuaikan dengan tingkat kemampuan mengaji setiap siswa yang berbeda-beda.

 

Tidak selang beberapa lama hujan turun begitu lebatnya yang disertai angin yang cukup kencang. saat itu Ustadzah Inayatudh  (wali kelas 5A) yang sedang mengajar Tahsin di kelas 3C sudah merasa khawatir dengan kejadian beberapa hari sebelumnya, ruangan kebanjiran, terjadi lagi.

Ternyata benar firasatnya, tak lama kemudian salah satu siswa kelas 5A yang bernama Rama datang menemui dan mengatakan ” Bu kelasnya banjir lagi. Air hujan kembali masuk lewat jendela lagi,” jelas Rama.

Letak kelas 5A yang berada di lantai 3 memang sangat rawan jika hujan turun deras yang disertai oleh angin kencang. Air hujan biasanya akan masuk melalui ventilasiventilasi jendela yang memang terpasang cukup banyak, sehingga menyebabkan tampias.

Setelah selesai mengajar Tahsin, wali kelas 5A tersebut langsung menuju kelas untuk melihat seberapa parah air yang masuk melalui ventilasi jendela. Namun di satu sisi dia cukup sedih karena siswanya terganggu karena kelasnya kebanjiran, Ustadzah Ina merasa bangga karena ternyata para siswi sudah bergotong royong untuk membersihkan kelasnya.

Tanpa perintah, permintaan, dan atas inisiatif sendiri, anak-anak sudah paham bahwa mereka harus melakukan sesuatu saat di kelasnya terjadi sesuatu. “Saya sedih karena kelas kembali kebanjiran karena tampias air hujan, di sisi lain saya bangga dengan anak-anak yang sudah memiliki tanggung jawab apa yang harus mereka lakukan bila terjadi sesuatu,” pungkas Ustadzah Ina. (inayatudh)