Membina Jamaah Masjid itu Perlu Meniru Manajerial Ojek Online

119
Hikmah Press
Wakil Ketua PWM Jatim Nadjib Hamid memberikan materi pada kegiatan workshop di Graha Umsida, Trawas-Mojokerto (foto: Das/pwmu.co)

PWMU.CO-Dakwah itu menyeru kebaikan. Membina ummat dalam bentuk apapun juga disebut dakwah. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Nadjib Hamid, Msi dalam Workshop Manajemen Ketakmiran Masjid, di Graha Umsida, Trawas-Mojokerto, Jumat (13/4/2018).

Menurut Nadjib Hamid, dakwah memiliki arti dan makna sangat luas, bukan hanya sebatas pada kegiatan ceramah di masjid semata. Dan Muhammadiyah telah mengimplementasikan dan sejak awal angat konsisten terhadap gerakan dakwah di mana pun dan dalam bentuk apa pun.  Dan inilah, lanjut pria asal Paciran ini, yang menjadi salah satu daya tarik Muhammadiyah bagi orang luar.

iklan

Dikatakan, ketertarikan warga non Muhammadiyah tidak hanya berkutat pada masalah ideologis, tetapi juga karena faktor lain. Dia mencontohkan, banyak yang masuk Muhammadiyah karena bekerja di amal usaha persyarikatan. Mereka tertarik melihat orang-orang yang ada di dalamnya, dan bahkan dari aspek manajerialnya.

“Fisik masjid bagus namun jika tidak ada pembinaan jamaah dan manajerial ketakmiran yang baik, maka jamaah akan meninggalkan,” kata Nadjib Hamid di hadapan peserta workshop untuk beri pencerahan.

Kegiatan workshop ini sendiri diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Masjid Muhammadiyah se Sidoarjo (FKMMS) Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo.Acara  yang diikuti sekitar 128 peserta dari berbagai wilayah di Sidoarjo ini fokus membahas masalah fungsi masjid, ketakmiran, serta pengelolaan sumber daya masjid sebagai basis kader.

Bagi Nadjib, zaman sekarang, kegiatan dakwah tidak cukup hanya menguasai materi, namun aspek manajemen juga harus diperhatikan. “Perhatikan, ojek online seperti Gojek itu tidak punya apa-apa, tetapi mereka punya kemampuan memanajemen,” ungkapnya di hadapan ratusan peserta yang hadir.

Manajemen ojek online, tambah dia, patut untuk ditiru, termasuk bagaimana melakukan kegiatan jemput bola untuk menarik jamaah ke masjid. Pola menunggu jamaah datang sukarela ke masjid, kata dia, merupakan mindset yang harus segera diubah.

“Beri perhatian, tegur-sapa, suguhi makanan, dan cari tahu apa yang diperlukan jamaah,” pesan dia mengarahkan.

Para peserta workshop mengajak Nadjib Hamid (tengah) foto bersama setelah kegiatan (foto: Das/pwmu.co)

Dia kemudian memberikan contoh masjid di Surabaya yang memberikan pinjaman modal pada jamaaah serta berkreasi memberi sayur dalam setiap pengajian yang diadakan. Hal-hal tersebut, lanjut dia, jika dilakukan dengan aspek manajerial dan pembinaan bagus menjadi keunggulan dan kekuatan jamaah. Karena,  kata dia, aset yang penting dan sangat vital adalah jamaah.

“Apresiasilah orang yang datang ke masjid. Jangan membeda-bedakan mereka. Beri harapan dan pelayanan baik, kelola keuangan yang amanah, transparan, dan profesional, maka jamaah akan memberi yang terbaik,” tukasnya seraya memberi contoh salah satu masjid yang jamaahnya tidak sampai 500 orang namun infaqnya di atas Rp 10 juta.

Dalam kesempatan itu, Nadjib juga menyampaikan prinsip-prinsip dakwah, di antaranya adalah prinsip menggembirakan, mengajak bukan menghakimi, berorientasi pada pemecahan masalah bukan mempermasalahkan, pro aktif dan peduli, serta memberi keteladanan.  (Das)