Faham Politik itu Harus, tapi Tidak Harus Melupakan Ideologi Muhammadiyah

70
Hikmah Press
Suasana diskusi politik yang digelar PC PM Wonokromo di Pusat Dakwah Muhammadiyah Kota Surabaya (foto: Asyifa’/pwmu.co)

PWMU.CO-Tahun politik yang mulai memanas rupanya menjadi perhatian banyak pihak, tak terkecuali juga Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PC PM) Wonokromo. Dengan memanfaatkan kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah (Pusdam) Kota Surabaya, PC PM Wonokromo menggelar diskusi bertemakan Pemuda Muhammadiyah dalam Lingkaran Politik, Rabu (11/04/2018).

“Di tahun politik, semua orang (yang punya hak pilih) harus melek dan faham akan dunia politik, tak terkecuali Pemuda Muhammadiyah Surabaya,” ungkap Arif ‘An mengawali diskusi dengan PC PM Wonokromo.

iklan

Diskusi yang memang sengaja digelar untuk mensikapi dinamka politik di tahun politik akhir-akhir ini berjalan cukup panas. Hal ini tidak lepas dari manuver Cak Rif ‘An — sapaan akrab Arif ‘An — yang terus membakar suasana diskusi dengan kalimat-kalimat menohok. “Pemuda Muhammadiyah di Surabaya saat ini masih tidur, agak susah bangun. Bangun pun kalau ada event-event besar saja, seperti Milad atau ketika iklim kontestasi politik berlangsung. Itupun hanya pada tataran kulitnya saja,” kata dia.

Pernyataan Arif ‘An tersebut kontan mendapat tanggapan yang tidak kalah kritisnya dari salah seorang peserta diskusi. “Iya benar, karena akhir-akhir ini, menurut saya kita hanya belajar pada luarannya saja, sangat sedikit yang terjun ke dunia politik langsung,” komentar Ketua bidang pendidikan dan kaderisasi PC PM Wonokromo, Bobby menanggapi pernyataan Rif ‘An.

Diskusi kian hidup karena peserta lainnya juga tidak mau kalah memberikan tanggapan dan juga penyataan tidak kalah pedasnya. Namun di tengah perdebatan panjang, Cak Rif ‘An kembali menyelah dengan mengingatkan peserta diskusi. “Terjun ke dunia politik tidak sederhana, perlu pemahaman, penguatan dan strategi sebelum ‘perang’ dimulai. Selain itu, niat suci wajib digelorakan dalam masing-masing individu yang berniat (terjun ke politik),” tegas dia.

Penegasan Rif ‘An diamini peserta lainnya. Bahkan, ada yang mengajak untuk terjun langsung di dalam menjaga pesta demokrasi yang tengah terjadi. “Menangkal ‘serangan fajar’ dan sejenisnya adalah salah satu upaya untuk menciptakan iklim demokrasi yang baik. Awas salam templek”, selorohnya yang mengundang gelak tawa peserta kajian.

Sebelum mengakhiri diskusi, Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah tersebut berpesan akan geliat politik di Indonesia. “Faham politik itu harus, berpolitik secara substansial itu pilihan, dan ketika berada dalam dunia politik, jangan sampai melupakan ideologi (Muhammadiyah) yang kita pegang saat ini,” pesan dia.  (Ahmad Muhammad Assyifa’)