Berhimpit Teror Bom, Berikut 6 Pernyataan PP Muhammadiyah tentang Ramadhan di Tahun Politik

166
Hikmah Press

PWMU.CO – Berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah ber-nomor 01/MLM/I.0/E/2018, 1 Ramadhan 1439 Hijriyah jatuh pada hari Kamis 17 Mei 2018. Berkaitan dengan memasuki ibadah puasa Ramadhan 1439H bagi umat Islam Indonesia, PP Muhammadiyah kembali mengeluarkan Pernyataan bernomor 72/PER/I.0/E/2018, tentang Menyambut Puasa Ramadhan 1439 Hijriyah yang ditandatangani oleh Ketua Umum DR Haedar Nashir dan Sekretaris Dr Agung Danarto.

Setidaknya ada enam pernyataan yang dikeluarkan PP Muhammadiyah menyambut Ramadhan yang tahun ini cukup krusial. Sebab, banyak yang mengatakan bahwa Ramadhan ini adalah Ramadhan di tahun politik. Ramadhan 1439 H kali ini juga berhimpitan dengan teror bom yang terjadi di Surabaya dan sekitarnya. Berikut adalah lengkap Pernyataan PP Muhammadiyah yang dikeluarkan di Yogyakarta, pada 28 Sya’ban 1439 H /14 Mei 2018 H.

iklan

Pertama, Kepada segenap umat Islam Indonesia diajak untuk memulai puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadhan dengan niat ikhlas karena Allah, mengikuti Sunnah Rasululullah yang maqbulah, semakin mendekatkan diri kepada Allah untuk menjadi insan yang shaleh, serta berbuat ihsan dalam relasi kemanusiaan. Dalam menjalankan puasa Ramadhan kuatkan tekad dan ikhtiar untuk mewujudkan sikap taqwa sebagai tujuan utama berpuasa, sehingga puasa Ramadhan tidak berhenti pada formalitas dan menunaikan rukun semata.

Kedua, Jadikan puasa dan ibadah Ramadhan sebagai proses perubahan perilaku menuju perilaku ihsan atau kebajikan utama yang membentuk keshalehan individual dalam ranah pribadi dan keshalehan sosial dalam kehidupan kolektif. Jadilah insan muslim yang selalu mengedepankan segala yang ma’ruf (baik) dan terhindar dari segala yang munkar (buruk) dalam segala bentuknya menuju kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat kelak. Wujudkan berbagai amal Islami yang membawa pada kebaikan, kedamaian, kemajuan, dan kebahagiaan hakiki dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan relasi antarumat manusia universal.

Ketiga, Puasa dan segenap ibadah Ramadhan lainnya hendaknya dijadikan momentum membentuk dan memperkuat karakter diri setiap muslim dan warga bangsa yang uswah hasanah atau bersuri-teladan yang baik. Utamakan uswah hasanah dalam bertutur kata dan menyampaikan ujaran-ujaran serta tindakan-tindakan yang membawa ketenangan, kedamaian, persaudaraan, kerukunan, kebersamaan, kasih sayang, toleransi, kesabaran, saling memuliakan, dan menjujung-tinggi keadaban utama.

Seraya dengan itu menghindari hal-hal yang mengarah pada dosa dan permusuhan, penyimpangan, penyelewengan, kekerasan, kedengkian, amarah, provokasi, teror, serta segala bentuk perilaku dan tindakan yang tidak berkeadaban dalam kehidupan pribadi dan antar sesama maupun dalam kehidupan berbangsa.

Keempat, Memasuki tahun politik umat Islam dan warga bangsa menjadikan puasa sebagai kekuatan ruhani dan moral yang mengedepankan politik mulia, santun, damai, rukun, dan menjujungtinggi kebaikan. Politik harus dijauhkan dari perangai yang menebar permusuhan, perpecahan, keretakkan, kegaduhan, korupsi, gratifikasi, politik uang, menggunakan segala cara, dan hal-hal yang merugikan kehidupan bangsa.

Perbedaan pilihan politik harus tetap mengedepankan toleransi, sikap bijak, dan kebersamaan serta tidak menjadikan antar komponen bangsa terbelah. Dukung-mendukung politik dilakukan secara wajar, beretika, dan berkeadaban agar tidak terjebak pada eksteimisme dan radikalisme dalam berpolitik. Kedepankan sikap adil dan ihsan, serta sikap tengahan dalam berpartisipasi dan terlibat dalam kontestasi politik.

Kelima, Muhammadiyah menegaskan kembali mengecam keras peristiwa bom di Surabaya dan Sidoarjo diiringi duka cita serta bersimpati kepada korban yang tak bersalah akibat perbuatan biadab tersebut. Teror bom di tiga gereja jangan memunculkan pandangan mewakili umat beragama yang berbeda, sekaligus diharapkan agar dengan peristiwa tersebut tidak mengganggu hubungan antar umat beragama yang selama ini telah berjalan baik dan harmoni.

Tindakan teror, kekerasan, dan dan anarki lebih-lebih yang memakan korban jiwa dan menciptakan ketakutan kolektif atas nama apapun, dilakukan oleh siapapun, dan bertujuan apapun merupakan perbuatan dhalim dan fasad fil-ardl atau pengrusakkan di muka bumi yang tidak dibenarkan oleh agama, hukum, dan moralitas publik. Kepada kepolisian dan pemerintah agar mengusut kasus tragis tersebut secara tuntas, objektif, dan transaparan disertai langkah pemecahan ke depan yang semakin komprehensif antara pencegahan dan penindakan secara seksama agar tidak berulang terjadi.

Kepada semua pihak untuk tetap tenang dan jernih, serta tidak mengembangkan berbagai asumsi negatif yang memberi ruang pada saling curiga dan sentimen sosial yang bermuara pada terganggunya kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadikan bulan Ramadhan sebagai wahana perenungan ruhani dan introspeksi diri bagi seluruh elite dan warga atas segala sikap-tindak yang selama ini dilakukan secara individual maupun kolektif sebagai bangsa.

Keenam, Para tokoh dan elite bangsa hendaknya memberikan teladan kenegarawanan yang mengutamakan kepentingan umat dan bangsa di atas kepentingan diri dan golongan. Kedepankan sikap tulus dan penghidmatan tinggi dalam membimbing rakyat agar menjadi warga negara yang hidup rukun, damai, toleran, sabar, dan saling mencintai dalam persaudaraan dan kemajemukan menuju kehidupan yang berkemajuan dan berkeadaban utama. (*)