Pesimis di Luar, di Ruang Ini Prof Daniel M. Rosyid Temukan Banyak Alasan untuk Optimis Melihat Masa Depan Negeri

469
Hikmah Press
Prof Daniel Mohammad Rosyid dalam salah satu sesi santai purnawidyawan/wati SD Muhammadiyah Manyar (foto: istimewa)

PWMU.CO – Sabtu pagi (9/6), saya diminta memberi taushiyah di hadapan pimpinan Muhammadiyah Gresik, wali murid, guru-guru, dan 83 purnawidyawan/wati SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik. Sejak pukul 08.00 pagi tepat, serangkaian acara seni dipentaskan dengan apik oleh para siswa SDMM ini.

Untuk pertama kalinya saya ikut menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 stanza penuh. Dipimpin oleh seorang gadis belia berkerudung yang tangkas menjadi dirijen. Hampir menangis rasanya. Lalu penampilan paduan angklung Bina Musika membawakan lagu Sang Surya sempat membuat mata saya berkaca-kaca.

iklan

Lalu Rafi Syaifullah yang tampil sebagai stand-up commedian. Posturnya yang tinggi dan tegap sulit dipercaya jika dia bermaksud melucu. Setelah rangkaian sambutan dan penganugerahan beragam prestasi, tiba giliran saya memberi taushiyah.

Baca Juga:  Dulu 'Indonesia Menggugat', Kini 'Surabaya Menggugat'

Jika di luar sana saya menemukan banyak alasan untuk pesimis, di acara itu saya menemukan lebih banyak alasan untuk optimis melihat masa depan negeri yang saya cintai ini. Ikrar purnawidya itu memberi saya harapan baru yang sulit ditemui di tengah tumpukan data tentang kenakalan remaja, pornografi, penyalahgunaan narkoba, dan geng motor.

Saya katakan bahwa seperti pesan Ki Hadjar Dewantara, pendidikan ditujukan terutama untuk membangun jiwa merdeka. Di dalam jiwa merdeka itu kesanggupan bertanggung jawab tumbuh. Sementara itu jiwa yang terjajah selalu menemukan jalan untuk melepas tanggung jawab. Dalam jiwa merdeka itu pulalah sikap jujur, amanah, peduli dan cerdas mekar bertumbuh.

Baca Juga:  Sri Mulyani Bilang Pendidikan Indonesia Tertinggal 45 Tahun, Ini Tanggapan Guru Besar ITS Prof Daniel M Rosyid

Di sekolah yang memerdekakan jiwa itu, kesalahan diterima sebagai bagian dari proses belajar. Evaluasi belajar mencandra semua jenis kecerdasan, mendorong penjelajahan gagasan. Pilihan ganda mempersempit ruang ekspresi. Relevansi lebih diutamakan daripada mutu berbasis standar karena mendidik anak tidak sama dengan membuat sepatu.

Sekolah ini beda. Di samping guru-guru yang penuh dedikasi, saya juga menyaksikan wali murid yang peduli, serta Pimpinan Muhammadiyah yang melayani. It takes a village to raise a child. Mendidik anak tidak bisa diserahkan semuanya ke sekolah. Sekolah yang hebat selalu didukung oleh wali murid yang hebat serta komunitas yang hebat.

Melihat wajah purnawidyawan/wati SDMM Gresik Sabtu pagi ini saya kembali optimis untuk menaruh harapan masa depan cemerlang negeri yang indah ini.

Baca Juga:  Persekolahan Sudah Usang, Saatnya Kembangkan Learning Webs: Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2018

Gresik 9/6/2018

Kolom oleh Daniel Mohammad Rosyid, Santri Kuliah Tjokroaminoto untuk Kebangsaan dan Demokrasi.