Ketika Rasulullah saw Berbalik 180 Derajat Mengubah Arah Kiblat Shalat

204
Hikmah Press
Ahmad Dzulhimam Lc saat mengisi kultum Subuh di masjid An-Nur Muhammadiyah Sidoarjo (foto: ernam/pwmu.co)

PWMU.CO – Setelah hijrah dari Makkah ke Madinah, salah satu perubahan besar yang dilakukan atas perintah Allah swt adalah merubah arah kiblat. Dari Masjidil Aqsha di Palestina ke Masjidil Haram yang berlokasi di Makkah. Secara arah angina, perubahan ini juga merubah secara total arah kiblat Nabi yang sedang tinggal di Madinah.

Demikian beberapa inti ceramah yang disampaikan Ahmad Dzulhimam Lc saat dalam kultum Subuh di masjid An-Nur Muhammadiyah Sidoarjo, (11/6). “Posisi geografis Madinah berada di tengah-tengah antara Masjidil Aqsha di Palestina dan Masjidil Haram di Makkah. Jika ke Palestina harus menghadap ke utara, sementara kalau ke Kakbah di Makkah harus menghadap selatan,” jelas Dzulhimam.

iklan

Karena itu, tegas Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo 2010-2015 ini, Rasulullah berputar 180 derajat menghadap kiblat saat di Madinah. “Saar berada di Madinah ini Rasulullah berputar 180 derajat ketika mendirikan shalat untuk menghadap kiblat,” tegasnya.

Peristiwa perubahan kiblat umat Islam itu terjadi sesaat setelah Rasulullah hijrah ke Madinah dari Makkah. Turunnya wahyu Allah swt yang memerintahkan perubahan kiblat itu terjadi di masjid Bani Salamah, atau yang sekarang dikenal sebagai masjid Qiblatain. “Perubahan kiblat itu terjadi di masjid Bani Salamah, atau yang sekarang dikenal sebagai masjid Qiblatain,” jelas Ketua Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Sidoarjo itu.

Baca Juga:  Dibangun pada Era Pak AR Fachruddin, Direnovasi di Jaman Now Pak Haedar Nashir

Perubahan kiblat ini memantik reaksi oleh berbagai kalangan. Dari kalangan orang Yahudi misalnya, mereka mengatakan Nabi Muhammad tidak konsisten, merubah arah kiblat yang awalnya Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram di Makkah.

Tanggapan yang tidak kalah miringnya juga dikemukakan kalangan kafir Quraisy. Mereka mengatakan agama yang dibawa Nabi Muhammad adalah agama penuh keraguan. Bahkan, dari kalangan sahabat pun juga muncul reaksi. “Sahabat bertanya, wahai Rasulullah, Anda merubah kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram. Bagaimana Anda menghukumi orangtua saya yang meninggal kemarin saat masih shalat menghadap Baitul Maqdis?”.

“Jawaban Rasulullah pada sahabat ini tidak panjang, walillahil masyriqu walmaghrib. Sesungguhnya barat dan timur kepunyaan Allah. Artinya perubahan kiblat itu semata-mata atas ketaatan pada perintah Allah, bukan atas kehendak seseorang,” jelas pria yang juga alumnus Pondok Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo itu.

Baca Juga:  Umar bin Khattab Inspeksi Pasar, Tiba-tiba Mendengar Doa yang Agak Ganjil: Apa Keanehannya?

Pertanyaannya kemudian, kiblat yang mana yang menjadi rujukan shalat? Allah swt telah menjawab dalam al-Quran surat Ali Imron ayat 96. “Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam,” begitu bunyi terjemahan Ali Imran ayat 96.

Sebagaimana yang diketahui, Rasulullah menerima perintah shalat saat melakukan isra’ mi’raj. Yaitu perjalanan dari dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Yerussalem Palestina, yang kemudian dilanjutkan naik ke shidratul muntaha.

Setelah kembali, Nabi mendirikan shalat yang saat itu kiblatnya masih berada di Masjidil Aqsha Yerussalem. “Bersamaan dengan perintah shalat, kiblat shalat adalah Baitul Maqdis di Masjidil Aqsha, Yerussalem. Padahal waktu Rasulullah berada di Makkah itu, Kakbah yang sekarang ini juga sudah ada,” jelas Dzulhimam.

Baca Juga:  Jangan Hanya Ingatkan Anak soal Makan, Ajak Mereka Berjamaah di Masjid

“Karena itu, beliau saat mendirikan shalat selalu mengambil sisi Kakbah yang searah dengan Baitul Maqdis,” cerita Dzulhimam tentang bagaimana Nabi mengambil posisi kiblat yang sejajar antara Kakbah dan Masjidil Aqsha.

Karena posisi Makkah yang berada di selatan Palestina, di tengah-tengah ada Madinah, maka selama di Makkah tidak ada masalah shalat menghadap Baitul Maqdis dengan tetap menghadap Kakbah. “Saat beliau hijrah Madinah, hal itu tidak bisa dilakukan,” jelas Dzulhimam.

Hingga akhirnya saat Nabi Muhammad di Madinah, turun wahyu surat al-Baqarah ayat 144, yang memerintahkan pemindahan kiblat dari Yerussalem ke Makkah. Karena di Madinah, yang secara otomatis membuat Rasulullah harus berputar-mengarah 180 derajat, dari menghadap arah utara berubah menghadap selatan, maka lahirlah beragam reaksi itu. (ernam)