Khutbah Idul Fitri 2018 PW Muhammadiyah Jatim: Menggapai Kemuliaan, Menebar Kedamaian

236
Hikmah Press
Sholat Idul Fitri 1438 H di stadion Gajayana Malang. Penyelenggara PCM Klojen Kota Malang. (foto: doc./pwmu.co)

Oleh: Ainur Rafiq Sophiaan.SE.M.Si (Wakil Ketua LHKP Muhammadiyah Jatim)

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ

iklan

وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

 

Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.

Jamaah Salat Idul Fithri yang dirahmati Allah

Kita bersyukur hari ini bisa dipertemukan Allah dalam rangka menjalankan ibadah salat Idul Fitri setelah Ramadhan kita lalui dengan berbagai amalan ibadah baik yang wajib maupun sunah. Utamanya berbagai ibadah sunnah yang biasanya meningkat di bulan yang mulia itu, seperti salat-salat sunah, infak dan sedekah, membaca dan mengkaji al Quran, saling menolong di antara sesama, dan berbagai bentuk kebaikan yang insya Allah pahalanya dilipatgandakan.  Semoga seluruh  amal ibadah kita kepada Allah dan amal salih kepada sesama sepenuhnya mendapatkan ridla Allah. Mudah-mudahan dosa-dosa kita diampuni Allah sebagaimana bayi yang baru dilahirkan. Amin

Salawat dan salam kita sampaikan kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad saw yang telah membimbing kita melalui sunnah-sunnahnya. Semua itu menjadi the best practice  dalam meniti kehidupan keseharian kita baik sebagai pribadi muslim, keluarga muslim, dan warga bangsa demi terwujudnya negara yang adil makmur dalam ridla  illahi (baldatun thayyibah wa rabbun ghafur). Muhammad sebagai pribadi yang agung yang oleh  banyak peneliti muslim dan nonmuslim digambarkan sebagai al Quran yang berjalan (The Living Quran). Subhanallah.

Jamaah Salat Idul Fithri yang dirahmati Allah

Hari ini kita ada dalam suasana bergembira sambil  mengagungkan  asma Allah dengan takbir, tahlil, dan tahmid. Kembali ke fitrah sebagai manusia  biasa yang memiliki pikiran, kehendak, perasaan, dan kepentingan. Itulah nafsu  yang dalam agama kita tidak untuk dimatikan atau dinafikan, melainkan dikendalikan dan diatur agar sesuai dengan kehendak Allah dan Rasulullah. Menjadi manusia sejati. Selama Ramadhan kita telah belajar banyak  bagaimana  mengelola nafsu itu  dengan penuh sikap kedisiplinan dan kesabaran.  Nafsu makan minum, nafsu syahwat, nafsu marah, nafsu harta, dan berbagai nafsu hewani lainnya kita pimpin. Bukan nafsu yang memimpin kita.

Pertanyaannya adalah  bagaimana sebelas bulan ke depan ?  Jangan sampai kita punya pikiran  bahwa di bulan-bulan lain  berbagai  sikap meremehkan atau menomorsekiankan agama  kemudian muncul.  Agama adalah panduan kita  hidup, kehidupan, dan penghidupan. Yang dituntut bukan sekadar gugur kewajiban. Islam mengajarkan  bagaimana sikap keberlanjutan dan konsistensi (istiqamah) dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan agama.  Karena masalah kehidupan datang silih berganti sehingga  tanpa  kaidah agama hidup akan terombang-ambing diterjang gelombang tanpa arah dan tujuan.

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Hud ; 112)

Sebab itu, Islam mengajarkan  berbagai amalan sunnah hendaknya kita jadikan gaya hidup keseharian  seperti puasa sunnah (6 hari  Syawal, puasa tanggal 13, 14, 15 setiap bulan Hijriah, puasa Senin Kamis, Puasa Daud),  salat-salat sunah, terutama tahajud dan dhuha, tilawah, ta’lim,  dan tadabur al Quran,  serta berbagai kebiasaan membantu kebutuhan orang lain.  Tentu dengan harapan dapat kita laksanakan sejauh kemampuan maksimal kita (fattaqullaha mas tatho’tum).  Dari sana  insya Allah  akan berpengaruh kepada munculnya pikiran dan perbuatan yang positif dalam berinteraksi sosial dalam keseharian.

Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.

Jamaah Salat Idul Fithri yang dirahmati Allah

Ramadhan tahun ini rasanya memunculkan perasaan yang bercampur antara kegembiraan dan keprihatinan. Gembira  karena Ramadhan menghadirkan berbagai tawaran pahala berlimpah luar biasa. Di sisi lain kita juga merasa prihatin  menjelang Ramadhan tiba ada dua peristiwa besar yang langsung atau tidak berpengaruh kepada harkat/syiar Islam dan martabat umat Islam. Berbagai aksi kekerasan ini sudah pasti melawan kemanusiaan dan agama apa pun.

Di dalam negeri ada serangkaian aksi  bom bunuh diri yang dilakukan sekeluarga dan menewaskan belasan korban mati. Di luar negeri peresmian pemindahan kantor Kedubes AS Israel di Yerusalem –dari sebelumnya Tel Aviv- telah berdampak bentrokan tak berimbang antara warga Palestina di Jalur Gaza dengan tentara Israel. Kejadian yang mengusik Dunia Islam  dan mencederai hukum internasional itu telah menewaskan lebih dari 100 orang Palestina.

Kedua peristiwa itu dalam skala dan kepentingan masing-masing telah membuat masyarakat muslim di Indonesia dan dunia tersentak menjelang memasuki Ramadhan. Terlebih lagi  dengan momentum Ramadhan dan Idul Fitri ini sebagai hari pembebasan dari segala nafsu negatif yang merusak kemuliaan, kedamaian, persaudaraan, dan kewibawaan umat.

Aksi bom terorisme telah menjadikan umat Islam sebagai sasaran fitnah dan opini negatif yang berusaha menghambat laju perkembangan Islam yang belakangan kian massif di dunia, khususnya di Indonesia. Sementara saudara-saudara kita di Palestina tidak bisa bergembira sepenuhnya sebagaimana kita di sini.

Agama ini mengajarkan bahwa kemuliaan (izzah) itu adalah milik Allah, Rasulullah, dan kaum beriman (QS al Munafiqun: 8). Prof. Dr. HAMKA menerjemahkan kata izzah dengan kemuliaan, kejayaan, keagungan, martabat, prestise dan kebesaran. Kemuliaan Islam dan umat Islam (izzul Islam wal muslimin) itu akan tercapai jika umat Islam sendiri berpegang teguh kepada ajaran Allah, Sunnah Rasulullah, dan aspirasi kaum mukminin. Di sinilah bertemu kepentingan individual dan sosial, vertikal dan horizontal, serta ideologis dan politis.

 

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ

لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ

Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur. (QS al Fathir : 10)

Menurut ayat ini kemuliaan Islam itu hanya akan terwujud dengan empat kondisi  yang saling berkaitan.

Pertama, ketaatan mutlak kepada Allah swt. Ketaatan ini  sebagaimana definisi pada umumnya berarti komitmen untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Termasuk di dalamnya adalah mengikuti Sunnah Rasulullah.  Ulama besar seperti Mohammad Abduh dan Rasyid Ridla pernah menyampaikan, kemunduran umat Islam akibat ulah kaum muslimin sendiri karena telah meninggalkan al Quran dan Sunnah, menjamurnya praktik keagamaan yang tidak ada dasarnya (bid’ah) serta adanya kebekuan pemikiran dalam merespon perkembangan zaman.

Kedua, kemuliaan Islam dan umat Islam (izzul Islam wal muslimin) akan lahir dari ucapan dan perkataan yang baik. Ucapan tertinggi (terbaik) adalah kalimat thayyibah, la ilaaha illa Allah. Sedangkan semua ungkapan yang positif baik berupa lisan maupun tulisan akan menumbuhkan semangat mencapai kejayaan Islam.

Di era informasi dan teknologi komunikasi dewasa ini hendaknya kita pandai-pandai menghindari berita bohong (hoax) dan ujaran kebencian (hate speech) yang beredar di media sosial.  Sanksinya dunia dan akhirat (QS an Nur ; 19). Di akhirat kita mendapat siksa yang pedih dan di dunia kita bisa terjerat UU ITE dengan ancaman pidana maksimal hukuman penjara 6 tahun dan denda  Rp 1 miliar.

Ketiga, perbuatan, sikap, dan tindakan yang baik dalam berbagai  bidang  akan mengangkat prestise dan prestasi umat. Menghindari sikap ektremisme dan radikalisme (ghuluw/thagha)  termasuk perintah agama. Islam mengajarkan sikap moderasi (washathiyyah) yang bersumber pada asas keadilan (adl) dan keseimbangan/hamoni sosial (qisth). Dalam konteks ini  kita harus  senantiasa membangun solidaritas dan persaudaraan umat dan bangsa dengan menebarkan kedamaian dan keselamatan untuk semua.

Rasulullah bersabda: Sebarkan kedamaian, berikan makanan, bersilaturrahimlah, shalatlah ketika orang-orang tidur, engkau akan masuk surga dengan damai. (HR Tirmidzi)

Keempat, meyakini bahwa semua rekayasa sosial yang bertujuan merusak kemuliaan dan citra umat akan hancur atas kehendak Allah. Adalah sunnatullah kehidupan dunia ini disertai konflik antara haq dan bathil, antara ma’ruf dan munkar, antara adil dan dzalim.

Umat Islam harus yakin bahwa kebenaran akan menang di atas kehancuran kebathilan. Pada sisi lain kita juga harus aktif membangun opini yang baik dan menetralisir berita-bertia bohong, khususnya tentang Islam dan umat Islam. Semua itu bisa terwujud jika kita berperan aktif dalam dakwah, jihad, dan tabligh sesuai dengan bidang dan kapasitas kita masing-masing.

Akhirnya, kita berharap dengan cara demikian kemuliaan Islam yang terus dijaga Allah akan terus berkembang luas di tanah air kita dan dunia umumnya. Sementara kejayaan umat  tergantung pada ikhitiar kolektif  kita sejauh mana kita serius membangun soliditas dan solidaritas sosial dengan  menyebarkan kedamaian, kesejukan, kesantunan, dan kesalihan sosial yang dapat menciptakan empati dan simpati seluruh anak bangsa. Izzul Islam wal muslimin akan menjadi penentu terwujudnya azas ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial di republik yang kita cintai ini.