Di Desa Geluran Warga Muhammadiyah-NU Kompak Saling Berkunjung Buka Puasa dan Dengarkan Ceramah

131
Hikmah Press
Taufik/pwmu.co
Suasana berbuka puasa Muhammadiyah-NU Geluran Benjeng, Gresik.

PWMU.CO – Pengajian jelang berbuka puasa di Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Geluran, Benjeng, Gresik tampak berbeda dengan di ranting lainnya. Hal ini dirasakan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik Taufiqulloh A Ahmady saat menghadiri acara itu, Senin (11/6/2018).

“Terasa luar biasa bagi saya. Masyarakat desa tapi bisa bersikap terbuka, saling menerima perbedaan, dan saling menghargai itu tidak mudah. Tapi para tokoh masyarakat baik dari Ranting Muhammadiyah maupun dari Nahdlatul Ulama ternyata mampu mewujudkannya,” tutur Taufiq, sapaannya.

iklan

Ketua Takmir Masjid Al Hidayah Geluran Toni Kuswoyo menyampaikan, Ranting Muhammadiyah Geluran berada di Kecamatan Benjeng Selatan, berbatasan dengan Kecamatan Kedamaian. Di sini rutin diselenggarakan kajian jelang berbuka bersama antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) setiap tahunnya.

Baca Juga:  Buka Puasa Sambil Dengarkan Kajian Nilai Spiritual Islam dalam Pancasila

“Kami sangat mengharapkan Ketua PDM Kabupaten Gresik bisa datang dan memberi kajian jelang berbuka puasa. Ya agar tahu dinamika Muhammadiyah di sini yang tak lazim ditemukan di tempat lain,” ujarnya.

Salah satu pengurus PRM Geluran Zaini mengaku senang mengetahui Ketua PDM Kabupaten Gresik hadir tahun ini.  “Semoga beliau bisa tahu kondisi Ranting Muhammadiyah di sini dan bisa menginfokan ke Ranting yang lain sebagai inspirasi dakwah Muhammadiyah,” ucapnya.

Zaini menjelaskan, pukul empat sore, keadaan jamaah sudah menunggu hingga ruang dalam dan luar masjid sudah penuh.  “Tak hanya warga Muhammadiyah saja yang datang, warga NU pun tak kalah banyak yang turut hadir mengikuti kajian,” ungkapnya.

Baca Juga:  PCM Ini Dilantik untuk Perkuat Syiar Dakwah

Dia melanjutkan, ceramah yang disampaikan tidak mengandung kebencian terhadap kelompok lain. “Sebaliknya, warga Muhammadiyah Geluran juga menghadiri undangan kajian jelang berbuka di masjid warga NU. Muballigh NU setempat juga memberikan ceramah Islam ala aswaja tanpa menyinggung amalan Muhammadiyah,” jelas Zaini.

Menurutnya, kondisi seperti ini menjadikan suasana guyub tetap terjaga. Usai takjil dan shalat Maghrib berjamaah, warga Muhammadiyah dan NU berbaur dalam satu barisan berhadapan untuk berbuka puasa bersama.  “Setelah itu kami tarawih di masjid masing-masing,” lanjutnya. (Tari)