Inilah Mesin Perontok Padi yang Ergonomis Karya Mahasiswa UMM

89
Hikmah Press
Izzudin/pwmu.co
Cyntia Fea Saputri dengan mesin screentel sederhananya.

PWMU.CO-Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan alat alternatif pengayak padi yakni screentel padi.

Screentel padi atau pengayak padi, sebuah alat untuk memisahkan bulir padi dari gagangnya. Perontok pagi buatan mahasiswa UMM ini memberikan pilihan untuk jenis mesin manual.

iklan

Alat ini digerakkan oleh pedal, piringan gir, dan rantai. Penggeraknya orang duduk dengan nggenjot pedal seperti naik becak. Model perontok padi seperti ini sebenarnya sudah banyak dipakai petani saat panen selain yang memakai penggerak diesel.

Menurut Cyntia Fea Saputri, salah satu pembuatnya, perontok mesin ini didesain istimewa. Bentuknya ergonomis, digerakkan dengan pedal sehingga hemat.

Baca Juga:  Benarkah Muhammadiyah Tak Mengenal Adanya Doktrin? Ini Ungkap Peserta P2KK...

“Screentel padi sebagai alat perontok padi didesain ergonomis untuk mengurangi cedera otot,” ujar Cyntia.  Petani hanya perlu mengayuh pedal dan rantai screentel menggerakkan gir (roda gigi) maju mundur yang bisa disetting sesuai yang diinginkan,” tandasnya.

Batang-batang padi yang habis dipotong dimasukkan ke blowernya untuk melepas bulir-bulir padi. Hasilnya sama kualitasnya dengan perontok bermesin diesel.

Memiliki berbagai keunggulan di atas,  screentel padi sudah diikutkan perlombaan di Universitas Sebelas Maret Surakarta pada acara Descomfirst 2018 dengan tema Desain Manual Tools pada 5-6 Mei 2018). Hal ini membuat Cyntia dan timnya bangga,  apalagi alat tersebut awalnya didesain dengan sederhana.

”Bahagia karena hanya dengan berawal dari sebuah coretan berhasil membuat alat yang seperti ini. Kami juga berusaha memperbaiki apa saja yang masih kurang pada alat ini,” tandasnya.

Baca Juga:  Kepala SDM 4 Malang Terharu Sekolahnya Dapat Hadiah Umroh untuk Guru dan Murid

Terus berusaha menyempurnakan screentelnya,  Cyntia dan tim telah merencanakan masa depan alat ini. Mereka berkeinginan untuk memasarkan alat ini dengan harga ramah kantong petani.

“Rencananya nanti jika dikomersialkan akan kami jual dengan kisaran harga Rp 1,5 juta hingga 2 juta,” tuturnya. (Izzudin)