Kata Zainuddin Maliki soal Kapasitas dan Isi Tas Politisi Kekinian di Negeri Ini

447
Hikmah Press
Wakil Ketua PWM Jatim yang juga calon DPR RI Dapil Lamongan-Gresik, Prof Zainuddin Maliki, dalam acara Konsolidasi Tim Pemenangan Nadjib Hamid untuk DPD RI di Brondong Lamongan (foto: aan/pwmu.co)

PWMU.CO – Muhammadiyah bukanlah organisasi politik. Tapi organisasi yang bergerak dalam ranah dakwah. Meski begitu, Muhammadiyah tetap memandang politik itu penting sebagai bagian dari dakwah.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Prof Zainuddin Maliki dalam acara Konsolidasi Tim Pemenangan Nadjib Hamid untuk Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) di Gedung Dakwah Muhammadiyah Brodong, Lamongan, Selasa (3/7/2018).

iklan

Acara tersebut dihadiri oleh ratusan peserta yang berasal dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Ortom di daerah pemilihan (Dapil) IV Lamongan, Yakni Brondong, Paciran, Solokuro dan Laren.

Prof Zainuddin mengatakan, semua kebijakan di negeri ini tidak bisa lepas dari urusan politik. Termasuk soal pengembangan dakwah. Karena itulah Muhammadiyah meyakini bahwa politik itu sangat penting sebagai penunjang kelangsungan dakwah amar makruf nahi munkar.

“Maka dari itu Muhammadiyah harus memiliki banyak politisi sehingga mampu mengontrol setiap kebijakan yang dibuat peguasa,” katanya.

Menurut dia, memiliki banyak politisi itu penting agar kebijakan penguasa bisa pro terhadap kepentingan rakyat kecil. Bukan kepentingan cukong atau pemodal. Para penguasa juga bisa menjaga kelansungan keberagamaan, berbangsa dan bernegara.

“Muhammadiyah berkepentingan untuk itu semua. Ya, kalau kekuasaan politik jauh dari Muhammadiyah, maka mana mungkin kita bisa berbuat banyak untuk umat, bangsa dan Persyarikatan,” tuturnya.

Mantan Rektor UMSurabaya ini menyatakan, sejatinya negeri ini saat ini sedang membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki kapasitas dan integeritas. Bukan sosok pemimpin yang bermodalkan isi tas.

Tapi realitanya pemimpin dengan prespektif berkualitas dan berintegritas tidak disukai oleh pemilih. Mereka kebanyakan lebih mementingkan isi tas dari pada kapasitas maupun integeritas saat memilih pemimpin bangsa.

“Karena yang dilihat pemilih itu masih isi tas. Jadi demokrasi kita tidak bisa naik tingkat. Wajar jika situasi politik kita sekarang ini ya memprihatikan,” ungkapnya.

Prof Zainuddin menegaskan, menghadapi tahun politik 2019 Muhammadiyah sangat serius menangani urusan politik. “Nah, sebagai bentuk keseriusan Muhammadiyah Jatim berjihad politik adalah mendorong Pak Nadjib Hamid maju dalam pileg tahun 2019 sebagai calon DPD RI dan saya maju DPR RI. Ini adalah bagian dari ikhtiar yang dibuat Persyarikatan,” tegasnya.

Di akhir paparannya, ia berharap, iktiar Muhammadiyah Jatim untuk menjadikan politik sebagai salah satu alat dakwah untuk membesarkan agama Islam ini diridhoi Allah swt dan butuh dukungan warga Muhammadiya. “Mudah-mudahan dengan ikthiar ini kita bisa mengubah situasi bangsa ini melalui jalur politik,” tandasnya.(Aan)