Keunikan Rombongan 11 Warga Sumberagung Masuk Islam, Duo Muallaf Bacakan Lantunan Ayat al-Quran

4193
Hikmah Press
H Joyo Wiyoto (baju coklat) saat membimbing mengucapkan syahadat para muallaf (foto: uzlifah/pwmu.co)

PWMU.CO – Kabar itu bermula dari personal chatting salah seorang grup WhatsApp. Pegiat media sosial yang juga pembaca setia PWMU.CO itu mengabarkan tentang rencana 11 orang yang akan masuk Islam secara berjamaah. Dilampiri tanggal dan lokasi acara, PWMU.CO pun meluncur ke sebuah dusun yang jauh dari keramaian, Jum’at (29/6). Tepatnya di Dusun Sumberagung, Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.

Sesuai dengan kabar awal, memang terdapat 11 warga yang pada hari itu mengikuti prosesi pengucapan 2 syahadat sebagai penanda masuk Islam. Mereka adalah Satunyar, Slami, Ema Permana, Sutono, Jumana, Satumi, Emelia Ratna Ayu Trisnawati, Siti Julaiha Putri, Atim Wahyu, Rahmadani Sekarsari, dan M Rafli Kurniawan.

iklan

Ada yang unik saat prosesi pengucapan 2 kalimat syahadat itu. Sebelum prosesi utama dimulai, acara diawali dengan pembacaan ayat suci al-Quran. Berbeda dengan kelaziman di tempat lain, qari’ yang membacakan lantunan ayat suci ini adalah Emilia Ratna Ayu Trisnawati dan Siti Julaiha Putri. Dua putri yang juga masuk daftar dari 11 warga yang akan mengucapkan syahadat.

Baca Juga:  Seperti Zaman Nabi, Ada Sosok Abu Thalib di Balik Kisah 11 Warga Sumberagung Yang Masuk Islam

Lantas bagaimana mereka yang baru mau masuk Islam itu sudah bisa membaca al-Quran? Ternyata mereka belajar mengaji di musholla setempat yang diasuh oleh Muhid. Dialah yang selama ini menjadi guru ngaji bagi Emilian dan Julaiha, jauh sebelum mengikrarkan sebagai Muslimah. “Saya ngajar ngaji anak-anak Hindu di sini. Bersama istri, kami menetap di sini demi anak-anak itu,” terang Muhid tentang murid ngajinya yang non-Muslim.

Berpisah dengan anggota keluarga lainnya, Muhid menetap di dusun yang dikelilingi pepohonan layaknya seperti hutan itu. Dia dan istrinya yang tinggal dengan bangunan satu musholla yang dibangunnya tepat depan rumahnya. Bersama istrinya, Siti Paimah Muhid mendirikan musholla kecil dari kayu seadanya yang sangat sederhana.

Baca Juga:  Masuk Islam, Anggota Klub Moge yang Merasa Damai saat Melihat Orang Shalat

“Saya dan istri membuat musholla kecil ini dari bahan seadanya yang kami miliki. Alhamdulillah dari tempat suci ini banyak anak yang belajar mengaji hingga mereka mau memeluk agama Islam,” ujar Muhid. Dan dua diantara murid ngajinya, hari itu mengawali prosesi Islamnya 11 warga dusun setempat dengan lantunan ayat suci al-Quran.

Muhid, guru ngaji dusun Sumberagung Senduro Blitar saat memberi sambutan (foto: uzlifah/pwmu.co)

Banyaknya jumlah warga yang masuk Islam ini sontak membuat Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Senduro, Joyo Wiyoto, tidak bisa menahan perasaannya. Bahkan tidak bisa menahan derasnya air mata saat mengatakan tentang kesannya memimpin prosesi ini. “Hari ini luar biasa, saya membimbing 11 muallaf. Biasanya, paling banyak dua orang,” ujarnya.

Baca Juga:  Tangis Haru-Bahagia Iringi Masuk Islamnya Ibu Misti dan sang Putra

Hadir pada kesempatan menyaksikan prosesi pengucapan 2 kalimat syahadat itu Lembaga Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Kota Malang. Selain sebagai saksi, juga memberi beberapa paket hadiah untuk 11 muallaf tersebut.

Selamat datang saudara-saudari kami dalam ukhuwwah islamiyyah. (Berita terkait tentang di balik Islamnya 11 warga ini bisa dibaca: Seperti Zaman Nabi, Ada Sosok Abu Thalib di Balik Kisah 11 Warga Sumberagung Yang Masuk Islam). (uzlifah)